LGBT Mulai Muncul di Agara

Prilaku kaum Nabi Luth yang disebut LGBT atau lesbian, gay, biseksual dan transgender mulai muncul di Kabupaten Aceh

LGBT Mulai Muncul di Agara
SERAMBINEWS.COM/JALIMIN
Masyarakat Aceh baru saja menyaksikan hukuman cambuk bagi sepasang gay atau homo (liwath) di depan Masjid Syuhada, Lam Gugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (23/5/2017) siang. 

* Ormas Islam Segera Larang

KUTACANE - Prilaku kaum Nabi Luth yang disebut LGBT atau lesbian, gay, biseksual dan transgender mulai muncul di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Utara. Fenomena itu terlihat dari cara pakaian muda-mudi, yang sebagian tidak sesuai dengan kodratnya, baik perempuan maupun pria.

Ormas Islam di Agara seperti Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Ponpes Tarbiyah Auladil Muslimin, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengutuk prilaku itu yang jelas-jelas bertentangan dengan Syariat Islam.

Pimpinan Pesantren Tarbiyah Auladil Muslimin Aceh Tenggara yang juga Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Agara, Ustadz Muhammad Hatta Bulkaini, Senin (25/12) menegaskan menolak keberadaan LGBT di Bumi Sepakat Segenap ini. Dia menjelaskan prilaku itu sudah ada semasa Nabi Luth dan telah mendapat azab dari Allah SWT.

Dikatakan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Dia mengatakan arti dari laknat Allah adalah kemurkaanNya, dan terjauhkan dari rahmatNya.

Menurut Muhammad Hatta Bulkaini, LGBT merupakan jargon yang dipakai untuk menggerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas. “Jadi, LGBT tidak boleh berkembang di Agara,” ujarnya.

Dia mengakui LGBT itu sudah lama ada di Agara dan wabah-wabah LGBT sudah tampak di permukaan seperti berpakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelamin dan komunitasnya sering muncul di tengah-tengah masyarakat “Hal ini sangat tidak mencerminkan nilai-nilai agama Islam yang jelas-jelas melarang prilaku menyimpang itu,” jelasnya.

Hal senada diutarakan Ketua BKPRMI Agara, Sukarman yang menyatakan dalam waktu dekat ini, seluruh ormas Islam di Agara akan mendeklarasikan untuk menolak LGBT. “LGBT merupakan prilaku menyimpang yang melawan kodrat yang telah diberikan oleh Allah SWT, jadi harus dilarang di negeri ini,” tandasnya.

Sementara itu, LGBT bukan bawaan lahir, akan tetapi pengaruh lingkungan, faktor kejiwaan seseorang dan kondisi sosial masyarakat. Prilaku menyimpang ini yang oleh para psikolog dan psikiatris disebut dengan gangguan kejiwaan, sebenarnya bisa disembuhkan, dengan syarat bersedia diterapi agar bisa meninggalkan prilaku yang menyimpang tersebut.

Prilaku komunitas LGBT yang menyimpang ini, jika dibiarkan di hadapan publik dengan berbagai macam kegiatan, akan mempengaruhi opini umum, mereka bisa hidup normal dan diterima masyarakat. Prilaku ini bisa mempengaruhi orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka, apalagi tidak bisa dipidana.

LGBT sebenarnya penyakit gangguan kejiwaan yang bisa disembuhkan, asal pelakunya bersedia berobat dan diterapi. LGBT bukanlah gaya hidup modern, tapi sebuah penyimpangan seksual. Komunitas LGBT ini telah ada sejak zaman Nabi Luth, ribuan tahun yang lalu yang dikenal dengan kaum Sodom, makanya perilaku mereka disebut dengan sodomi, dan telah dibinasakan dengan azab Allah SWT.

Namun kini, perilaku ini dianggap modern dan legal, paling tidak di beberapa negara yang menganut paham liberal, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan lain-lain. Penyimpangan orientasi seksual ini jelas merupakan ancaman bagi eksistensi sebuah keluarga.

Perkawinan yang awalnya merupakan hal yang sakral dan legal dengan maksud melestarikan keturunan, dimana lahirnya seorang anak dari sebuah perkawinan menjadi dambaan bagi pasangan pengantin, akan berubah sekedar pemuas nafsu birahi saja. Adanya anak yang lahir dari pasangan pengantin bukan lagi menjadi harapan bagi kaum meny8impang itu, karena mereka hanya sekedar pelampiasan nafsu saja.(as/republika.co.id)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved