Kupi Beungoh

Tiga Bulan Maulid Nabi, Peluang Menciptakan Citra Positif Raja-Raja Daerah

Seluruh komponen masyarakat harus memaafkan dan memaklumi kepala daerahnya apabila tidak dapat menghadiri undangan.

Tiga Bulan Maulid Nabi, Peluang Menciptakan Citra Positif Raja-Raja Daerah
IST
Fajar Riski 

Momentum Tepat

Bagi setiap kepala daerah, sesungguhnya perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan oleh intansi-instansi di lingkup pemerintahan, kecamatan, dan gampomg-gampong memiliki dampak positif dan negatif.

Karena dengan diadakannya perayaan Maulid Nabi otomatis setiap kegiatan pasti ada surat undangan yang disampaikan kepada kepala daerah.

Sementara itu, durasi waktu perayaan Maulid Nabi di Aceh berlangsung selama tiga bulan.

Apabila ditinjau dari sisi positif, ketika kepala daerah menyempatkan diri menghadiri seluruh undangan yang telah dijadwalkan, hal ini akan berdampak positif baginya.

Masyarakat gampong tentu akan sangat senang dan menyanjungi kepala daerah karena dapat bertemu dengan orang nomor satu di daerahnya.

(Baca: LUAR BIASA, Live Facebook Zikir dan Tausiyah Ustaz Abdul Somad Menjangkau 1.193.217 Orang)

Dengan demikian, penguasa daerah tersebut dapat menjadikan perayaan Maulid Nabi sebagai peluang untuk menciptakan citra postif secara cuma-cuma.

Tanpa harus bersusah payah melakukan lobi-lobi politk, orasi berapi-api di depan masyarakat, cukup menghadiri seluruh rangkaian kegiatan, maka akan tercipta sendirinya citra positif terhadapnya.

Sehingga cita-cita dua periode menjadi penguasa daerah akan mudah terwujud.

Karena pada dasarnya masyarakat sangat senang dan berubah perilakunya apabila selalu dapat bersilaturahmi dan bercengkrama dengan pemimpin-pemimpinnya.

Namun, apabila ditinjau dari sisi negatifnya, aktifitas menghadiri undangan perayaan Maulid Nabi memiliki dampak negatif yang luar biasa.

Misalnya saja, lumpuhnya aktifitas pemerintahan, tidak terkontorol kebutuhan pokok masyarakat, meningkatnya kemiskinan, dan menguras tenaganya serta menumpuknya komentar-komentar negatif terhadap dirinya.

Meskipun pada dasarnya kepala daerah merupakan tempat untuk mencurahkan segala isi hati terkait perkembangan daerah.

Bagaimana tidak, perayaan Maulid Nabi selama tiga bulan merupakan waktu yang sangat panjang.

Apabila seluruh undangan dihadiri, maka poin-poin yang telah disebutkan di atas akan terwujud.

Rentang waktu selama tiga bulan hanya disibukkan melakukan seremonial bukan untuk menyelasaikan tugas-tugasnya.

Tugas utamanya sebagai kepala daerah untuk membangun dan memajukan daerah serta menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat, akan gagal.

Seyogyanya, sebagai pemimpin daerah yang memiliki banyak pekerjaan, tidak perlu menghadiri acara-acara yang dapat melalaikan kewajiban.

Apabila tidak ingin dicap sebagai pemimpin yang tidak peduli terhadap kegiatan Maulid Nabi yang diadakan masyarakat, maka bupati/wali kota dan gubernur cukup mengadakan kegiatan serupa.

Kepala daerah beserta jajarannya mengadakan Maulid Akbar di pendopo atau di lapangan terbuka dengan mengundang seluruh elemen masyarakat.

Sehingga tidak menghabiskan waktu dan membuang-buang tenaga untuk menghadiri kegiatan-kegiatan yang dapat melalaikan pekerjaan.

Disamping itu, seluruh komponen masyarakat harus memaafkan dan memaklumi kepala daerahnya apabila tidak dapat menghadiri undangan.

Jangan berkecil hati kepadanya. Beliau tidak hadir bukan karena tidak ingin bersilaturahmi atau tidak peduli kepada masyarakatnya.

Namun banyak tugas lain yang harus segera dikerjakan dan segera diselesaikan.

* Penulis, Fajar Riski adalah mahasiswa asal Kabupaten Simeulue yang sedang belajar karya tulis ilmiah (populer) di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwan dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved