Breaking News:

Cadangan Gas Bekas Exxon hingga 2038

Sumur onshore (darat) dan offshore (laut) bekas garapan ExxonMobil yang kini dikelola Pertamina Hulu Energi

Dokumen Serambi Indonesia
Anggota DPD asal Aceh, Sudirman alias Haji Uma. 

LHOKSUKON - Sumur onshore (darat) dan offshore (laut) bekas garapan ExxonMobil yang kini dikelola Pertamina Hulu Energi (PHE) NSO dan PHE NSB dalam wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur mampu memproduksi 180 Million Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau 180 juta kaki kubik per hari sampai tahun 2038. Namun, karena tak ada permintaan, selama ini PHE hanya memenuhi kebutuhan gas untuk Pupuk Iskandar Muda (PIM) melalui Perta Arus Gas (PAG).

Demikian antara lain disampaikan General Manager Adi Harianto dalam diskusi soal gas dengan Komite II DPD RI pada Minggu (31/12) lalu. “Cadangan gas di sumur onshore kecil sekali dan tekanannya juga sudah rendah, karena sumur tersebut sudah tua. Sudah berusia sekitar 45 tahun, sehingga cadangan gasnya kecil sekali, tapi di offshore cadangan masih banyak,” ujar Adi.

Bahkan Adi Harianto menyebutkan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan pihaknya selama ini, cadangan gas tersebut mampu diproduksi sampai 2038 atau sampai 20 tahun mendatang.

Jika digabungkan antara sumber gas di darat dengan yang di laut, maka jumlah produksi mencapai 180 MMSCFD. Namun, karena selama ini tidak ada permintaan, PHE hanya memenuhi kebutuhan PIM saja. Artinya, kata dia, masih ada sisa gas yang bisa diproduksi PHE untuk industri lain jika ada permintaan. PHE tidak mengeksploitasinya karena belum ada permintaan selain dari PIM. “Menjual gas dengan menjual minyak itu beda sekali. Kalau minyak setelah diproduksi masih bisa kita masukkan ke dalam kantong untuk kita jual. Tapi untuk gas, harus ada permintaan dulu yang disertai dengan teken kontrak (perjanjian), baru kita produksi untuk disuplai kepada pembeli,” ujar Adi.

Disebutkan, cadangan gas tersebut berada di laut termasuk dalam wilayah Aceh Utara dan sebagiannya berada di Aceh Timur. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Divisi Monetisasi Minyak dan Gas (Migas) SKK Migas Waras Budi Santosa. “Gas tersebut belum diolah, artinya belum dapat dialirkan melalui pipa, karena masih membutuhkan proses. Tapi, berdasarkan hasil riset demikian,” ujar Waras.

Sementara itu, anggota DPD RI asal Aceh H Sudirman alias Haji Uma dalam pertemuan tersebut menyebutkan, stok gas tersebut harus dapat dimanfaatkan untuk percepatan dan pengembangan kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Lhokseumawe. “Saya akan mendorong untuk terjadinya komunikasi yang intensif, saling keterbukaan dan sinergis antar-operator gas dan regulator yang mengatur gas di Indonesia,” ujar Haji Uma.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved