Erosi DAS Paloh Makin Parah

Pengikisan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Paloh, Kecamatan Padang Tijie, Kabupaten Pidie, makin parah

Erosi DAS Paloh Makin Parah
SERAMBINEWS.COM/NUR NIHAYATI
Kondisi erosi sungai di Gampong Paloh Kecamatan Padang Tiji, Pidie, Selasa (9/1). 

* Belasan Rumah Terancam Amblas

SIGLI - Pengikisan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Paloh, Kecamatan Padang Tijie, Kabupaten Pidie, makin parah karena mulai mengancam belasan rumah warga.

Kondisi saat ini, ratusan meter tebing sungai sepanjang DAS itu tergerus dan amblas ke sungai. Paling parah, terlihat di Gampong Paloh Capa dan Ceureumen. Beberapa rumah yang sebelumnya berada cukup jauh, kini posisinya sudah berada persis di pinggir sungai.

“Akibat amblas, jarak tebing sungai dengan rumah saya hanya terpaut dua meter lagi dan terus melebar. Kondisi ini mengancam beberapa bangunan rumah lainnya karena erosi terus terjadi,” kata Mukhtar, warga Gampong Paloh Capa, Selasa (9/1).

Ia menyebutkan, meski belum ada rumah warga yang amblas ke sungai, namun erosi tersebut sudah menelah puluhan hektare lahan sawah dan kebun warga.

Mukhtar mengungkapkan, setiap turun hujan, air Krueng Paloh selalu meluap di Gampong Paloh Capa dan Ceureumen. Luapan air sungai itu merendam permukiman hingga ketinggian air rata-rata satu meter. “Kami minta pemerintah tak menunda lebih lama lagi upaya normalisasi Krueng Paloh atau pembangunan tanggul di dua gampong ini, sebelum menimbulkan dampak lebih parah yang akan menimpa warga,” tambahnya.

Anggota Komisi C DPRK Pidie, Ramzi, kemarin juga mendesak jajaran Pemkab Pidie segera bertindak mengupayakan pencegahan laju erosi Krueng Paloh, meski dengan penanganan darurat.

Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa bahwa dampak erosi sudah sangat parah dan sudah pada tingkat meresahkan masyarakat yang tinggal di sepanjang DAS.

Padahal dulunya, rumah mereka cukup jauh dari pinggir sungai. Namun karena erosi tak diantisipasi sejak dini oleh pemerintah, kini potensi bencana itu menjadi lebih sulit ditanggulangi.

Upaya normalisasi sungai dan pembangunan tebing sungai, diakui memang membutuhkan biaya besar. Karena kerusakannya sudah parah. “Jika pemerintah lebih awal mengantisipasinya seperti memulai dengan pengerukan sedimen sungai, mungkin pembangunan beronjong untuk penahan tanggul bisa dilakukan di tahap berikutnya. Sehingga tidak terlalu membebani anggaran,” ujarnya.(aya)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved