Sungai Alas Mengamuk

Sungai Alas yang terkenal ganas kembali mengamuk, seusai hujan deras mengguyur kawasan Aceh Tenggara

Sungai Alas Mengamuk
Ketua Komisi C DPRK Agara, Hasanusi (pakai peci putih) dan Anggota DPRK Agara, Kepala BPBD Kutacane, Ramadhan ST, memperhatikan Sungai Alas yang mengamuk di Desa Khutung Blang, Kecamatan Tanoh Alas, Agara, Selasa (9/1). Akibatnya ratusan hektare lahan warga hanyut dan dua rumah hanyut. SERAMBI/ASNAWI LUWI 

* Dua Rumah Rusak Berat

KUTACANE - Sungai Alas yang terkenal ganas kembali mengamuk, seusai hujan deras mengguyur kawasan Aceh Tenggara (Agara) dalam beberapa hari terakhir ini. Luapan air sungai yang deras merusak dua unit rumah, milik seorang ayah dan anaknya, selain ratusan hektare area pertanian terendam banjir.

Musibah itu menimpa Desa Khutung Blang, Kecamatan Tanoh Alas yang menghanyutkan rumah milik Muhammad Syamsir dan anaknya. Muhammad Syamsir, Selasa (9/1) mengatakan air Sungai Alas yang terus meninggi, tiba-tiba meluap ke area pemukiman penduduk pada Senin (8/1) malam, sehingga warga sangat khawatir.

Dia mengatakan rumahnya, terutama kamar dan dapur telah roboh diterjang air bah Sungai Alas, sedangkan rumah anaknya hanyut diseret banjir bandang. “Kamar dan dapur rumah saya telah roboh, namun rumah anak saya telah hilang diseret banjir akibat meluapnya Sungai Alas,” ujarnya.

Syamsir mengaku sangat khawatir, karena banjir mulai mengikis pondasi rumahnya. Dia memperkirakan, jika air Sungai Alas tidak juga surut, maka kemungkinan besar rumahnya juga akan hilang diseret banjir dari meluapnya Sungai Alas.

Ketua Komisi C DPRK Agara, Hasanusi bersama anggota M Sopian, Kamirun Muthe dan Kepala BPBD Kutacane, Ramadhan ST MM meninjau lokasi banjir, Selasa (9/1). Hasanusi mengatakan Pemkab Agara harus secepatnya melakukan normalisasi Sungai Alas untuk mengantisipasi meluasnya bencana banjir di masa mendatang.

Menurut dia, ratusan hektare lahan pertanian berupa jagung, coklat, kelapa, sawah dan lainnya telah hanyut diterjang Sungai Alas. “Pemkab harus secepatnya melakukan normalisasi, kalau tidak, maka bakal jadi danau dan mengancam masyarakat Tanoh Alas dan Lawe Alas,” ujar Hasanusi.

Menanggapi hal itu, Kepala BPBD Kutacane, Ramadhan ST mengatakan pihaknya akan segera mengerahkan dua unit alat berat untuk melakukan normalisasi Sungai Alas. Dia berharap, kawasan ini yang telah beberapa kali diterjang banjir bandang akan dapat segera ditanggulangi dengan pembangunan bronjong secara permanen.

Sebelumnya, enam desa di Kecamatan Bambel, Aceh Tenggara juga terus menjadi langganan banjir, sehingga para petani sering gagal panen. Kondisi terbaru terjadi dalam pekan ini, yang menyebabkan area persawahan warga terendam banjir.

Tokoh masyarakat Desa Likat, Ali Akbar, Rabu (15/11/2017) mengatakan enam desa yang menjadi langganan banjir yakni Pinding, Kuning, Likat, Lawe Ijo Metuah, Rikit dan Kuta Buluh. Dia menjelaskan banjir musiman akibat sungai Lawe Kinga Lapter, Kecamatan Semadam meluap, sehingga meluber sampai pemukiman penduduk dan area pertanian.

Menurut dia, Pemkab Agara harus secepatnya membangun tembok penahan tebing (TPT) agar bebas dari banjir, apalagi saat ini curah hujan tinggi, sehingga mereka jadi was-was apabila hujan turun.

Menanggapi hal itu, anggota DPRK Aceh Tenggara, Takdir Edi Winta, mengatakan pihaknya telah meninjau sungai Lawe Kinga Lapter. Dia menjelaskan harus secepatnya dibangun TPT atau ditangani secara darurat agar masyarakat tidak was-was.

Menurut dia, pihaknya sudah sering diusulkan, bahkan dalam tujuh tahun berturut-turut dalam Musrenbang, tetapi belum juga direspon pihak eksekutif. Disebutkan, sejak dibangun pintu saluran irigasi buka-tutup di Desa Paya Rambung, Kecamatan Bukit Tusam, desa-desa lain di Kecamatan Bambel terkena banjir.

“Kalau pintu irigasi dibongkar, desa-desa lainnya akan aman,” ujar Winta Politisi Partai Golongan Karya itu.(as)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved