Kekerasan Masa Kecil Bisa Memicu Sadisme

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh, Dra Endang Setianingsih MPd mengatakan

Kekerasan Masa Kecil Bisa Memicu Sadisme
ENDANG SETIANINGSIH, Psikolog

BANDA ACEH - Psikolog dari Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh, Dra Endang Setianingsih MPd mengatakan, pengalaman kekerasan di masa kecil adalah faktor seseorang berlaku sadis. Selain faktor gen dengan pola otak tertentu, di mana gen memiliki kromoson abnormal.

“Kenapa orang-orang cenderung melakukan sadisme? Mungkin sebagian besar yang melakukan ini faktor keluarga dari masa kecil. Kekerasan fisik, kekersan seksual, kekerasan psikologis. Kondisi ini sebagai pendukung ia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal menurut kita,” papar Endang yang menjadi narasumber pada rubrik Cakrawala Radio Serambi FM dengan topik membedah Salam Serambi; `Mengapa sadisme bisa merajalela?, Rabu (10/1).

Menurutnya, selain faktor pengalaman kekerasan fisik atau psikis, faktor gen kromoson abnormal sebagai pembunuh atau maniak yang tega menghilangkan nyawa orang lain. Masa kecilnya pernah mengalami kekerasan yang betul-betul membekas pada dirinya. Sementara anak-anak yang dibesarkan dengan pola penuh kasih sayang, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Endang menambahkan, dari faktor gen dengan pola otak tertentu dan juga pengalaman masa kecilnya, gen yang memiliki kromoson abnormal membantu kepribadiannya sehingga seseorang lebih cenderung melakukan itu. Sedangkan pada pola otak yang memiliki aktivitas yang lebih tinggi, menyebabkan pelaku ketika individu melihat itu ia cenderung melakukan kekerasan.

“Nah! masa kecil ini yang harus kita lihat juga. Dia waktu kecil mungkin sering mengalami kekerasan baik psikis maupun fisik, sehingga apapun aku harus melawan. Nah yang tadi kita kaitkan lagi dengan pola otak, sehingga memicu dia untuk lebih melakukan kekerasan tersebut,” papar Endang.

Dijelaskannya, untuk melihat gejala psikologis mereka, bisa dimulai dengan melihat seseorang dari sisi emosional. Secara umum manusia terbagi atas dua kepribadian yaitu ekstovert (terbuka) dan introvert (tertutup). Orang dengan kepribadian terbuka saat marah bisa mengeluarkan unek-unek. Sedangkan mereka dengan kepribadian tertutup, sehari-harinya terkesan santun dan pendiam.

Ditambahkannya, orang dengan kepribadian tertutup suatu saat kalau meledak sangat bahaya. Tipe ini tidak bisa terbaca secara kasat mata. Tapi setidaknya mereka yang terdesak, pada kondisi ini bisa melakukan apa pun.

“Kalau untuk menyembuhkan tidak bisa 100 persen. Tapi memulihkan setidaknya dia bisa berinteraksi kembali dengan lingkungan dengan benar. Kalau ini ditangani dengan tepat, apabila di LP ditangani tenaga psikolognya insya Alah bisa tertangani,” imbuh Endang.

Untuk menekan kasus seperti ini, menurut Endang, yang harus dilakukan adalah kembali ke keluarga, terkait dengan pola asuh dari orang tua. Saat masa kecil anak-anak menyimpan memori yang sangat kuat di kepalanya. Sehingga anak-anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, akan besar dengan penuh tanggung jawab dan memiliki rasa emosional pada lingkungan. Berbeda dengan anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan yang dialami waktu kecil.

“Eh! dari kecil aku sudah mengalami ini lho, sehingga kalau aku sudah besar sudah punya kekuatan, berarti aku harus melawan. Dengan melawan aku punya satu kekuatan yang luar biasa,” terang Endang mengilustrasikan.

Banyak motivasi orang melakukan kejahatan, di antaranya untuk mengejar uang. Ada juga membunuh untuk menciptakan sensasi getaran yang menyebabkan rasa senang berlebihan. Bisa juga keinginan untuk menyingkirkan pelaku kejahatan, sehingga ia merasa harus melawan dengan membunuh.

“Kalau memang itu keputusan hukuman mati dan tidak ada maaf dan itu dilihat dari sisi agama pun sudah dibenarkan. Saya cenderung melihat dari sisi Alquran sebagai pedoman, karena saya orang Aceh sangat setuju. Tapi kalau bukan dilihat dari sisi itu, apa tidak ada cara yang lebih baik lagi,” demikian Endang. (rul)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved