Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa

DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh

Tayang:
Editor: bakri
Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, Kemenag RI, Choirul Fuad Yusuf (kiri) dan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA menandatangani naskah kerja sama penerjemahan Alquran dalam bahasa Aceh, Jumat (24/3) di kampus tersebut. FOTO-HUMAS UIN AR-TANIRY 

Status bilingual yang dimiliki rata-rata orang Indonesia saat ini kebanyakan tidak menunjang pembentukan skill meta-bahasa ini. Penyebabnya tentu saja karena Bahasa daerah sangat jarang diproses oleh otak anak-anak kita dalam bentuk visual (membaca dan menulis) sehingga karakteristik bunyi-bunyi khususnya, atau grammarnya, tidak pernah telihat dan terekam secara eksplisit oleh penuturnya. Seandainya Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia sama-sama direalisasikan fungsinya ke dalam konteks tulis, tentu saja dengan ejaan yang benar dan konten-konten bahasan yang luas, maka besar kemungkinan anak-anak Aceh menjadi penutur bilingual yang unggul dan bisa memperoleh efek positif dari bilingualism tersebut.

Standardisasi sistem
Mengangkat Bahasa Aceh ke dalam dunia literasi harus dimulai dengan standardisasi sistem penulisan dan penyerapan kata-kata baru (baik dari Bahasa Indonesia, Arab, atau Bahasa Inggris), untuk menunjang penuturnya menulis tentang berbagai topik dan tema di dalam Bahasa Aceh. Tahap kedua setelah standardisasi penulisan adalah menyosialisasikan kegiatan menulis dan membaca dalam Bahasa Aceh. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan mengadakan “Kompetisi Tahunan Bahasa Aceh” untuk semua umur dan kalangan. Misalnya, bisa diadakan kompetisi menulis cerita anak, dongeng, cerita pendek, artikel ilmiah, puisi, sajak, lagu, pidato, debat, dan sebagainya. Kompetisi ini mendorong siswa-siswa sekolah, termasuk para guru untuk mengajarkan dan membiasakan muridnya menulis dalam Bahasa Aceh yang baik dan benar melalui pemberian training membaca dan menulis Bahasa Aceh di sekolah-sekolah.

Sebuah Komite khusus dapat pula dibentuk dan ditugaskan untuk menjadi watchdog (anjing penjaga) yang memantau penggunaan Bahasa Aceh dalam literatur yang beredar, dan menjamin bahan bacaan yang digunakan di sekolah-sekolah berkiblat pada sistem penulisan yang sama. Tugas lain dari komite ini adalah memutuskan bentuk baku bagi kata-kata baru yang diserap masyarakat dari bahasa lain. Selain memutuskan ejaan baku untuk kata-kata serapan, Komite juga bertugas meng-update korpus Bahasa Aceh yang akan menjadi acuan penulisan baku Bahasa Aceh. Langkah-langkah ini memang membutuhkan kerja keras dan komitmen yang tinggi, namun pastilah mampu melahirkan efek dan perubahan yang besar pada sikap masyarakat dalam melihat, memperlakukan, dan menghormati bahasa daerahnya.

Untuk membiasakan masyarakat dengan sistem penulisan yang baik dan benar, pengenalan bacaan dalam Bahasa Aceh pun harus dimulai sejak dini. Buku bacaan berseri yang meng-highlight simbol-simbol unik dalam ejaan Bahasa Aceh bisa digunakan sebagai bahan bacaan yang disediakan dengan bebas di dalam setiap kelas di sekolah, perpustakaan umum, rumah sakit anak, ruang tunggu puskesmas, dan di berbagai ruang-ruang publik lainnya, tentu saja bersama-sama dengan buku bacaan dalam bahasa lain seperti Indonesia dan Inggris.

Singkat kata, usaha pemberian tempat yang lebih spesial pada Bahasa Aceh dalam dunia literasi ini janganlah dilihat sebagai usaha yang tidak urgent atau tidak lebih penting dari mendorong aksi menutur bahasanya. Bahasa yang dirawat dengan baik, ‘diobati’ ejaannya yang sakit, dijaga standar-standar kesehatan penulisannya, difungsikan setiap hari baik dalam konteks tulis dan tutur, akan hidup sehat dalam masyarakat dan akan menjadi bahasa kesayangan semua orang. Namun, bila bahasa tersebut dibiarkan sakit, tak pernah dirawat dan di-update fungsi-fungsinya, maka orang-orang akan memilih meninggalkannya dan beralih pada bahasa dengan kesehatan yang lebih prima dan fungsi yang lebih baik.

* Septhia Irnanda, Mahasiswa program Doktoral di University of the West of England, Inggris. Email: septhia.irnanda@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved