Opini
Bahasa Aceh; Ejaan Sakit dan Kematian Bahasa
DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh
Oleh Septhia Irnanda
Literature together with language preserves and protects a nation’s soul (Tulisan bersama-sama dengan bahasa menjaga dan melindungi jiwa sebuah bangsa). - Aleksandr Solzhenitsyn
DALAM keseharian, kita di Aceh seringkali memandang negatif pada orang Aceh atau anak yang ibu-bapaknya orang Aceh asli, tapi tidak bisa berbicara Bahasa Aceh. Begitu pula saat ada orang Aceh yang kita jumpai berbicara Bahasa Aceh dengan aksen yang tidak fasih. Namun ironisnya, tidak ada seorang pun yang keberatan saat orang menulis Bahasa Aceh dengan standar penulisan yang tidak baku. Tidak ada yang marah saat ejaannya salah, namun semua protes saat pengucapannya salah. Semua berteriak lantang tentang pentingnya menjaga eksistansi bahasa endatu ini, namun tidak ada yang benar-benar menghargai dan menghormati kabakuan penulisannya. Sepertinya kita ingin membiarkan Bahasa Aceh tetap menjadi bahasa Spoken saja di dunia percakapan dan tidak benar-benar berniat mengangkatnya ke dunia yang sedikit lebih panjang umur, dunia tulisan.
Perhatikan bagaimana kita dengan seriusnya membahas tentang teknologi dan ilmu pengetahuan dengan Bahasa Indonesia, lalu beralih ke Bahasa Aceh hanya untuk bersenda gurau dengan teman di warung kopi. Lihat bagaimana para orang tua muda di perkotaan yang berkasih-sayang dengan anak-anaknya dalam Bahasa Indonesia, lalu saat si anak berulah, mereka beralih menggerutu dalam Bahasa Aceh. Sekecil inikah fungsi Bahasa Aceh dalam kehidupan nyata kita? Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti fungsi Bahasa Aceh hanya tinggal pada konteks makian atau lucu-lucuan saja, seperti yang dipertontonkan dalam komedi-komedi.
Satu penyebab terbesar kepunahan sebuah bahasa adalah karena bilingualisme atau beralihnya sekelompok manusia ke bahasa kedua, meninggalkan bahasa pertamanya secara perlahan melalui beberapa tahapan generasi. Kita tentu saja tidak bisa menyalahkan atau melarang penggunaan Bahasa Indonesia demi menyelamatkan Bahasa Aceh. Sejak berabad-abad lalu, Bahasa Indonesia, yang lahir dari Bahasa Melayu Tua, telah menjadi bahasa penghubung berbagai bangsa di Asia Tenggara. Yang perlu kita lakukan adalah menyelamatkan Bahasa Aceh dengan cara meluaskan fungsi dan perannya agar bersaing dengan Bahasa Indonesia.
Telah banyak contoh-contoh kasus di berbagai belahan dunia di mana dua bahasa bisa bersama-sama tumbuh kuat. Di Kanada, Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis sama-sama berstatus tinggi. Di Filipina, masyarakatnya bisa menulisa dan membaca dalam Bahasa Tagalog dan Bahasa Inggris. Di Cina, Bahasa Cantonese pun bisa menjadi bahasa medium belajar di sekolah, tidak hanya Bahasa Mandarin saja. Bahasa Aceh pun harusnya bisa mengakomodir bukan hanya pembicaraan “basa-basi”, namun juga topik-topik serius seperti politik, ekonomi, sains, dan sosial budaya.
Memajukan sastra
Satu cara menyelamatkan sebuah bahasa dari kepunahan adalah dengan memajukan sastranya. Sastra di sini tidak terbatas pada puisi atau pantun, namun segala macam bentuk literasi; cerita pendek, majalah, buku cerita anak, poster, komik, dan lain sebagainya. Ini semua harus ditulis dengan merujuk pada sebuah ejaan baku. Tentu saja ini bagian yang tidak mudah. Ambil contoh deretan lé, lheè, dan le. Kata-kata yang cukup tinggi frekuensi pemakaiannya ini, saat ini ditulis dengan berbagai cara oleh penuturnya.
Sedikit merepotkan memang menghabiskan sedikit waktu untuk mencari tahu ejaan bakunya di Kamus Bahasa Aceh, saat orang-orang pada akhirnya akan memaklumi dan mengerti kesalahan penulisan kita dengan bantuan konteks kalimatnya. Mungkin orang akan berkilah, toh hanya untuk komunikasi informal seperti status facebook, untuk apa repot-repot menulis dengan ejaan yang baku. Masalahnya, poster-poster dan tulisan-tulisan resmi lainnya pun penuh dengan ejaan yang tidak tepat dan tidak seragam satu dengan lainnya.
Lihat bagaimana tegasnya seorang guru Bahasa Inggris memastikan anak didiknya menulis ejaan Bahasa Inggris dengan benar. Padahal sistem penulisan Bahasa Inggris itu jauh lebih berantakan dari pada sistem penulisan Bahasa Aceh. Bunyi dan huruf yang berbeda jauh dalam tulisan membuat anak-anak SD di Inggris terpaksa menghafal huruf-per-huruf untuk kata-kata yang ejaan bunyi dan hurufnya tidak konsisten, agar bisa menulis Bahasa Inggris dengan baik dan benar. Bayangkan bila mereka boleh menulis dengan cara sesuka hati, seperti yang kita lakukan dengan Bahasa Aceh. Mungkin Bahasa Inggris tidak akan pernah menjadi bahasa resmi dunia. Ejaan yang standar itu penting dan bisa mengangkat status sebuah bahasa.
Berbicara tentang standarisasi sistem penulisan, ada dua hal penting yang harus ditempuh. Pertama, meresmikan standar yang disepakati oleh semua kalangan. Ini memang sebuah hal problematik mengingat penutur Bahasa Aceh itu sendiri terpecah kepada beberapa dialek. Kata yang sama dilafalkan berbeda oleh dua penutur dialek yang berbeda. Kata ‘petik’ diucapkan sebagai pèt oleh penutur dialek Aceh Besar, dan pet oleh penutur dialek Aceh Utara. Solusi untuk masalah ini ada dua; yang pertama, memilih dialek yang paling besar jumlah penuturnya, atau kedua, tidak berpatok pada dialek manapun; bentuk baku setiap kata dipilih dari bentuk yang paling popular di percakapan antardialek. Masalah lain yang harus dipikirkan adalah aturan penyerapan kata-kata asing dan menyesuaikan ejaanya ke dalam Bahasa Aceh standar.
Selain itu, bunyi huruf vokal yang lebih kompleks di dalam Bahasa Aceh juga harus diterjemahkan ke dalam sistem penulisan dengan penambahan huruf ekstra pada sistem alfabet Bahasa Indonesia yang telah kita kenal. Sistem penulisan yang beredar dalam dokumen-dokumen resmi saat ini menggunakan simbol monograf seperti (è, é, ô, dan ö) dan sebuah diagraf (eu). Tidak banyak yang familiar dengan simbol-simbol baru ini dan lebih memilih ‘mengakali’ alfabet Bahasa Indonesia untuk menulis kata-kata Bahasa Aceh.
Tidak familiar
Penelitian oleh Yulia (2009) menunjukkan bahwa anak-anak Aceh tidak familiar dengan simbol-simbol itu dan bunyi yang diwakilinya. Hal itu terbukti dengan tingginya angka anak yang tidak menggunakan ejaan Bahasa Aceh yang baik dan benar dalam uji spelling yang diberikan. Menyosialisasikan simbol-simbol ini melalui buku bacaan yang dikemas dengan cerita dan gambar yang menarik bisa menjadi cara yang efektif menyosialisasikan bukan hanya kosakata, tapi juga bunyi-bunyi unik dalam Bahasa Aceh yang tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia.
Menurut sebuah hasil penelitian di Papua Nugini, anak-anak yang diajari dan belajar menulis-membaca dengan bahasa ibunya, yaitu Bahasa Tok Pisin, terbukti belajar dengan lebih cepat dan memiliki nilai akademik yang lebih baik dari pada anak yang memulai pelajaran membacanya dengan Bahasa Inggris. Anak-anak yang belajar mengenal bunyi dan huruf melalui bahasa sehari-harinya, akan lebih bersemangat dan termotivasi untuk belajar karena mereka mengenali kosakata yang digunakan, dan lebih bebas mengekspresikan idenya dalam bahasa yang mereka kuasai dengan baik.
Mengingat saat ini masyarakat Aceh telah menukar bahasa dominannya dari Bahasa Aceh ke Bahasa Indonesia, maka semakin banyak anak-anak yang berbicara Bahasa Indonesia sebagai bahasa terkuat mereka. Akibatnya, mengajarkan Bahasa Aceh sebagai media ajar membaca tidak lagi efektif. Namun, saya rasa di daerah pedesaan masih banyak anak-anak yang terpapar kuat dengan Bahasa Aceh dalam kesehariannya sejak umur pra-sekolah. Sehingga tidak ada salahnya menyuplai mereka dengan buku-buku bacaan dalam Bahasa Aceh dengan konten yang mendidik dan gambar yang menarik untuk menumbuhkan apresiasi yang kuat pada sistem alfabet Bahasa Aceh. Tentu saja ini dilakukan berbarengan dengan memberikan bacaan berbahasa Indonesia pula, agar skill keduanya terbentuk bersamaan dan saling menunjang.
Para peneliti tentang pembelajaran bahasa percaya bahwa menjadi bilingual dapat meningkatkan kemampuan memahami tentang bagaimana Bahasa bekerja pada umumnya, yang pada akhirnya dapat mendukung pembelajaran bahasa ketiga, keempat, dan seterusnya. Keuntungan berbahasa lebih dari satu ini hanya dapat terjadi apabila si anak bilingual benar-benar menguasai kedua bahasanya, serta dapat menulis dan membaca menggunakan kedua bahasanya itu. Membaca dan menulis dalam dua bahasa membuat seseorang sadar akan perbedaan dan persamaan dari kedua bahasanya, sehingga ketika dihadapkan dengan bahasa ketiga, mereka tidak serta-merta mencampur-adukkan bahasa lama ke bahasa barunya dan akan berusaha melihat bahasa baru dengan aturannya sendiri yang unik.
Status bilingual yang dimiliki rata-rata orang Indonesia saat ini kebanyakan tidak menunjang pembentukan skill meta-bahasa ini. Penyebabnya tentu saja karena Bahasa daerah sangat jarang diproses oleh otak anak-anak kita dalam bentuk visual (membaca dan menulis) sehingga karakteristik bunyi-bunyi khususnya, atau grammarnya, tidak pernah telihat dan terekam secara eksplisit oleh penuturnya. Seandainya Bahasa Aceh dan Bahasa Indonesia sama-sama direalisasikan fungsinya ke dalam konteks tulis, tentu saja dengan ejaan yang benar dan konten-konten bahasan yang luas, maka besar kemungkinan anak-anak Aceh menjadi penutur bilingual yang unggul dan bisa memperoleh efek positif dari bilingualism tersebut.
Standardisasi sistem
Mengangkat Bahasa Aceh ke dalam dunia literasi harus dimulai dengan standardisasi sistem penulisan dan penyerapan kata-kata baru (baik dari Bahasa Indonesia, Arab, atau Bahasa Inggris), untuk menunjang penuturnya menulis tentang berbagai topik dan tema di dalam Bahasa Aceh. Tahap kedua setelah standardisasi penulisan adalah menyosialisasikan kegiatan menulis dan membaca dalam Bahasa Aceh. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan mengadakan “Kompetisi Tahunan Bahasa Aceh” untuk semua umur dan kalangan. Misalnya, bisa diadakan kompetisi menulis cerita anak, dongeng, cerita pendek, artikel ilmiah, puisi, sajak, lagu, pidato, debat, dan sebagainya. Kompetisi ini mendorong siswa-siswa sekolah, termasuk para guru untuk mengajarkan dan membiasakan muridnya menulis dalam Bahasa Aceh yang baik dan benar melalui pemberian training membaca dan menulis Bahasa Aceh di sekolah-sekolah.
Sebuah Komite khusus dapat pula dibentuk dan ditugaskan untuk menjadi watchdog (anjing penjaga) yang memantau penggunaan Bahasa Aceh dalam literatur yang beredar, dan menjamin bahan bacaan yang digunakan di sekolah-sekolah berkiblat pada sistem penulisan yang sama. Tugas lain dari komite ini adalah memutuskan bentuk baku bagi kata-kata baru yang diserap masyarakat dari bahasa lain. Selain memutuskan ejaan baku untuk kata-kata serapan, Komite juga bertugas meng-update korpus Bahasa Aceh yang akan menjadi acuan penulisan baku Bahasa Aceh. Langkah-langkah ini memang membutuhkan kerja keras dan komitmen yang tinggi, namun pastilah mampu melahirkan efek dan perubahan yang besar pada sikap masyarakat dalam melihat, memperlakukan, dan menghormati bahasa daerahnya.
Untuk membiasakan masyarakat dengan sistem penulisan yang baik dan benar, pengenalan bacaan dalam Bahasa Aceh pun harus dimulai sejak dini. Buku bacaan berseri yang meng-highlight simbol-simbol unik dalam ejaan Bahasa Aceh bisa digunakan sebagai bahan bacaan yang disediakan dengan bebas di dalam setiap kelas di sekolah, perpustakaan umum, rumah sakit anak, ruang tunggu puskesmas, dan di berbagai ruang-ruang publik lainnya, tentu saja bersama-sama dengan buku bacaan dalam bahasa lain seperti Indonesia dan Inggris.
Singkat kata, usaha pemberian tempat yang lebih spesial pada Bahasa Aceh dalam dunia literasi ini janganlah dilihat sebagai usaha yang tidak urgent atau tidak lebih penting dari mendorong aksi menutur bahasanya. Bahasa yang dirawat dengan baik, ‘diobati’ ejaannya yang sakit, dijaga standar-standar kesehatan penulisannya, difungsikan setiap hari baik dalam konteks tulis dan tutur, akan hidup sehat dalam masyarakat dan akan menjadi bahasa kesayangan semua orang. Namun, bila bahasa tersebut dibiarkan sakit, tak pernah dirawat dan di-update fungsi-fungsinya, maka orang-orang akan memilih meninggalkannya dan beralih pada bahasa dengan kesehatan yang lebih prima dan fungsi yang lebih baik.
* Septhia Irnanda, Mahasiswa program Doktoral di University of the West of England, Inggris. Email: septhia.irnanda@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kemenag-ri_20170325_125919.jpg)