‘Bekukan Sementara Izin Trayeknya’

Kecelakan beruntun yang dialami Bus Sempati Star belakangan ini (lebih dari 20 kali dalam dua tahun terakhir

‘Bekukan Sementara Izin Trayeknya’
TNI dan warga mengevakuasi penumpang Bus Sempati Star yang meninggal dunia akibat kecelakaan, Kamis (18/1) di jurang Kedabuhen, Desa Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. (SERAMBI/KHALIDIN) 

BANDA ACEH - Kecelakan beruntun yang dialami Bus Sempati Star belakangan ini (lebih dari 20 kali dalam dua tahun terakhir -red) telah meresahkan banyak pihak. Bahkan Wakil Ketua Komisi IV DPRA, Asrizal H Asnawi meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh untuk membekukan sementara izin trayek Sempati Star karena terlalu sering terjadi kecelakaan hingga menelan banyak korban jiwa dan korban cedera.

“Atas kejadian beruntun Sempati Star di dua tempat pagi ini (kemarin -red), saya telah menghubungi Kepala Dinas Perhubungan Aceh Pak Zulkifli untuk mengeluarkan surat pemberhentian atau pembekuan sementara izin operasional bus-bus berlabel Sempati Star,” kata Asrizal kepada Serambi di Banda Aceh, Kamis (18/1).

Asrizal meminta agar semua izin operasional atau trayek Bus Sempati Star harus dievaluasi ulang oleh polisi, begitu juga dengan mental sopirnya. “Cabut dulu izin trayeknya, harus dievaluasi ulang kelayakan kendaraan dan mental sopir bus tersebut. Masa sudah berjatuhan banyak korban kita hanya diam?” ujar Asrizal.

Ketua Fraksi PAN di DPRA ini menegaskan, Dishub Aceh harus mengambil sikap atas kecelakan tunggal yang menimpa Bus Sempati Star. “Tidak ada lagi alasan, karena (kecelakaannya) sudah bertubi-tubi. Kita tidak menyalahkan siapa-siapa, yang jelas kita punya aturan. Kalau kita tidak bertanggung jawab atas keselamatan rakyat Aceh siapa lagi?” tanya Asrizal.

Apabila Dishub Aceh tidak segera membekukan sementara izin operasional atau trayek Bus Sempati Star, Asrizal menyarankan kepada semua warga Aceh yang ingin berangkat dari Banda Aceh ke Sumatera Utara ataupun sebaliknya, agar mempertimbangkan kembali menjadi penumpang bus tersebut sebelum jatuh korban lebih banyak lagi.

Asrizal mengaku selama ini dirinya selalu menggunakan jasa bus saat pulang kampung dari Banda Aceh ke Aceh Tamiang atau sebaliknya. Dia menilai, banyak sopir bus masih berusia muda yang secara emosional mereka belum stabil. Tak heran jika banyak sopir bus yang ugal-ugalan di jalan raya.

“Kalau ugal-ugalan di jalan saya kira semua bus sama. Makanya semua bus harus ditertibkan, terutama Bus Sempati Star. Semua bus harus diuji ulang kelayakannya, begitu juga dengan mental sopirnya. Kalau perlu izin mengemudinya kita buat berkala, enam bulan sekali kita tes kesehatan dan tes narkoba,” sarannya.

Di sisi lain, Asrizal mengusulkan agar Qanun Aceh tentang Perhubungan dimasukkan dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) DPRA Tahun 2018. Menurutnya, qanun itu perlu segera dilahirkan agar semua armada di Aceh memiliki aturan khusus dalam menjaga keselamatan penumpang.

Tuntutan Matra
Secara terpisah, Masyarakat Transportasi Aceh (Matra) juga meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menghentikan sementara operasional bus Sempati Star selama proses investigasi penyebab kecelakaan beruntun armada angkutan umum tersebut dilakukan.

“Kecelakaan tunggal Bus Sempati Star di Subulussalam hari ini semakin menguatkan dugaan ada yang tidak beres, apakah terkait faktor manusianya atau sistem pada armada itu sendiri,” kata Ketua Matra Aceh, Herizal saat menjadi narasumber `Cakrawala Radio Serambi FM’ pascakecelakaan beruntun Bus Sempati Star kemarin.

Matra berharap hasil investigasi tersebut dipublikasi secara terbuka oleh KNKT agar masyarakat pengguna jasa tetap merasa aman dan nyaman menggunakan angkutan umum. “Sekarang masyarakat dicemaskan oleh kejadian beruntun yang dialami Sempati Star. Pemerintah harus memastikan kalau angkutan umum tetap aman dan nyaman,” kata Herizal.

Khusus terhadap Sempati Star, pihak Matra meminta agar KNKT menghentikan sementara operasional bus tersebut sampai dikeluarkannya hasil investigasi. “Ini sudah tidak wajar lagi, harus diungkap apa sebenarnya yang terjadi, apakah kesalahan manusia (human error) atau sistem pada armada, atau bisa jadi kedua-duanya saling berkaitan,” demikian Herizal.(mas/nas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved