Mihrab

Islam Haramkan Transgender, Ini Dalilnya

Dalam hukum Islam hanya dikenal dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan

Islam Haramkan Transgender, Ini Dalilnya
Bustamam Usman

Dalam hukum Islam hanya dikenal dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Tidak dikenal istilah waria atau transgender, yaitu suatu upaya paksa yang melawan kodrat dari ciptaan Allah untuk merubah kelamin dari laki-laki menjadi perempuan ataupun merubah penampilan seperti kebiasaan jalan, bicara, berpakaian, memakai perhiasan dan make-up yang menyerupai perempuan.

Perbuatan transgender atau waria dalam Islam dikenal dengan istilah mukhannats, hukumnya adalah haram. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah melaknat kaum laki-laki yang menyerupai perempuan dan kaum perempuan yang menyerupai laki-laki.

Demikian antara lain disampaikan Tgk Bustamam Usman SHI, MA, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (17/1) malam.

“Dalam Islam telah sangat jelas ditegaskan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu haram. Tapi, ada satu di antaranya yang kita biarkan terus berjalan dan dianggap biasa-biasa saja, seolah-olah itu bukan suatu kemaksiatan, yaitu praktik transgender alias waria yaitu kaum pria yang menyerupai dan berpenampilan seperti perempuan,” ungkap Tgk Bustamam.

Menurutnya, tentu sangat disayangkan dan disesalkan, jika Provinsi Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, masih membiarkan adanya kaum laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan (waria). Padahal itu adalah kemaksiatan yang dilarang dalam Islam.

Menurutnya, keberadaan kaum yang menentang kodrat ini sangat mudah ditemukan di kota-kota di Aceh, termasuk di Banda Aceh. Kaum ini banyak bekerja di rumah-rumah kecantikan (salon). “Pemerintah sebagai pelaksana hukum/qanun syariat, terkesan melegalkan keberadaan kaum waria ini,” ujarnya.

“Jangankan menindak mereka, malah ada pejabat yang berupaya menjadi pembela kaum waria ini, padahal itu jelas-jelas melanggar syariat Islam dan dilaknat oleh Rasulullah,” imbuh alumnus Dayah Istiqamatuddin Darul Muarif Lam Ateuk, Aceh Besar ini.

Tgk Bustamam yang juga pengurus Bakomubin dan Alwasliyah Aceh ini menegaskan, jika di daerah lain kaum waria atau transgender ini tidak bisa ditindak, itu sangat wajar karena tidak ada hukum syariat Islam yang mengaturnya. Tapi jika di Aceh pun masih membiarkan kaum waria ini beraktifitas di tempat umum seperti di salon-salon, ini sungguh sangat memalukan bagi provinsi yang bersyariat ini.

“Bahkan, tidak hanya melaknat, Nabi pun dalam suatu hadits memerintahkan agar mereka diusir kalau tidak mau berubah karena bisa mendatangkan murka Allah,” jelasnya.

Tgk Bustamam memaparkan, waria ini berbeda dengan khuntsa yaitu istilah yang digunakan oleh para fuqaha’ untuk menyebut orang yang mempunyai alat kelamin ganda. Dalam hal ini, khuntsa memang merupakan qadha’ (ketetapan) yang diberikan oleh Allah.

Islam pun mengatur status mereka, apakah dihukumi laki-laki atau perempuan, maka dikembalikan kepada fungsi kelamin mereka yang paling dominan.

Fakta khuntsa tersebut tentu berbeda dengan waria atau transgender yang dalam Islam dikenal dengan mukhannats. Umumnya waria adalah kaum pria yang menyerupai wanita, baik dalam hal tutur kata, pakaian, gaya berjalan hingga penampilan fisik.

Di antara mereka, bahkan ada yang telah melakukan operasi plastik untuk mendapatkan wajah yang mirip dengan perempuan, buah dada dan pinggul sebagaimana lazimnya perempuan, hingga operasi ganti kelamin. Kelamin mereka diubah menjadi perempuan.

Dalam fiqih Islam, waria tidak bisa dihukumi sebagai khuntsa. Karena fakta masing-masing jelas berbeda. Jika khuntsa ini merupakan bagian dari qadha’ yang ditetapkan oleh Allah, maka transgenser atau waria adalah bentuk penyimpangan perilaku yang terlarang dalam Islam. Penyimpangan perilaku ini bukan hanya berlaku untuk kaum pria yang menjadi wanita, tetapi juga berlaku sebaliknya, yaitu kaum wanita menjadi pria.

“Dewasa ini banyak orang yang tidak mengerti makna banci/waria dalam hukum Islam. Sehingga banyak yang menyamakan antara khuntsa, mukhannats dan gay/lesbi, yang kedudukannya diakui dalam Islam. Pendapat demikian tentu saja salah dan menyesatkan,” tegas Tgk Bustamam.(nal/*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved