Aceh dalam Lintasan Sejarah: Teungku Lah, Panglima yang tak Kenal Lelah

Sosok ini sangat dikagumi prajurit GAM serta disegani oleh TNI saat konflik mendera Aceh.

Aceh dalam Lintasan Sejarah: Teungku Lah, Panglima yang tak Kenal Lelah
DOK SERAMBINEWS.COM
Panglima GAM, almarhum Abdullah Syafi'i. 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tanggal 22 Januari 2002 menjadi hari duka bagi seluruh masyarakat Aceh. Pada hari itu atau 16 tahun yang lalu, Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Teungku Abdullah Syfei'i atau Teungku Lah, gugur di medan perang.

Ketua Fraksi Partai Aceh di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, mengaku sangat kehilangan tokoh yang paling diseganinya. Menurut Iskandar, Teungku Lah merupakan sosok panglima yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan Aceh.

"Pada haul ini kita yang masih hidup, mari kita sedekahkan doa kepada almarhum Teungku Lah, dua pengawal serta istri beliau, agar mendapat tempat yang layak di sisi-Nya," katanya kepada Serambinews.com, Senin (22/1/2018).

Teungku Abdullah Syafi’i, lebih dikenal dengan nama Teungku Lah, lahir di Bireuen, Aceh, 12 Oktober 1947. Sosok ini sangat dikagumi prajurit GAM serta disegani oleh TNI saat konflik mendera Aceh.

Iskandar mengatakan bahwa pihaknya akan terus menjaga harapan dan cita-cita perjuangan Teungku Lah untuk Aceh yang lebih baik. Supaya, slogan Aceh maju bukan hanya sebatas romantisme masa lalu saja, tetapi harus diwujudkan.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah Aceh, Panglima GAM Abdullah Syafii Tertembak dan Syahid Bersama Sang Istri

Figur dan jiwa perjuangan yang terpatri dari Teungku Lah, kata Iskandar, harus menjadi spirit bagi semua pihak dalam mengisi pembangunan Aceh dan menjaga setiap jengkal kekhususan Aceh dalam konteks damai ini.

"Jasa-jasa Teungku Lah tak terbalas dengan cara apapun. Mari kita hargai apa yang telah beliau ajarkan dengan berdoa agar apa yang dicita-cita Teungku Lah tercapai di kemudian hari. Tentu untuk meraih ini, diperlukan kekompakan Aceh," kata mantan aktivis ini.

Untuk diketahui, Teungku Lah gugur di medan tempur bersama istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya dalam pertempuran dengan pasukan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya, 22 Januari 2002.

Senin, (22/1/2018) hari ini genap 16 tahun kepergian sang Panglima menghadap Ilahi. (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved