APBA Terlambat, Ekonomi Terhambat

Terlambatnya pembahasan dan pengesahan Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Aceh (RAPBA)

APBA Terlambat, Ekonomi Terhambat
PEMIMPIN Perusahaan Harian Serambi Indonesia, Mohd Din didampingi Sekretaris Redaksi, Bukhari M Ali berbincang dengan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Jalan Raya Lambaro Km 4,5 Desa Meunasah Manyang Pagar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (23/1). 

Zainal Arifin yang sebelum bertugas di Aceh merupakan Kepala Divisi Departemen Statistik Bank Indonesia Pusat mengimbau agar proses pembahasan, pengesahan, dan realisasi anggaran tersebut dipercepat, mengingat peran penting anggaran pemerintah tersebut terhadap aktivitas ekonomi di Aceh. Sehingga diharapkan, target pertumbuhan ekonomi Aceh 2018 sebesar kurang lebih 4,55 persen bisa tercapai dengan tingkat inflasi yang lebih rendah dari tahun 2017.

Setelah anggaran bisa dilaksanakan, ada tugas lain dari Bank Indonesia dan Pemerintah Aceh untuk mengendalikan inflasi agar pertumbuhan berkualitas dan daya beli masyarakat tetap baik. Saat ini, Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah langsung dijabat Gubernur Aceh, dengan demikian semestinya koordinasi pengendalian inflasi menjadi lebih mudah.

Di samping mempercepat realisasi anggaran, Zainal Arifin juga menyebutkan, diperlukan investasi pihak swasta untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor lain dan membuka lapangan kerja.

Ia menyebutkan, sektor pertanian di Aceh harus mendapat perhatian karena perannya yang besar terhadap pertumbuhan sekaligus juga Aceh sebagai produsen beras yang cukup besar. Aceh masih bisa memperluas lahan pertanian, sehingga masih sangat mungkin meningkatkan produksi.

Untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih baik, Zainal mengatakan, Aceh juga perlu mengembangkan alat proses hasil pertanian. Salah satunya adalah membangun kilang padi yang lebih baik, sehingga gabah yang dihasilkan di Aceh tidak dibawa ke luar Aceh. Selama ini, sebagian besar gabah di Aceh dibawa ke Sumatera Utara untuk diproses menjadi beras, sehingga harga beras dan distribusi beras ditentukan oleh daerah lain.

Sangat ironis, menurutnya, sebagai produsen gabah yang besar, Aceh malah sering mengalami kenaikan harga beras karena suplai beras kurang atau bergantung pada daerah lain. “Ini juga yang mendorong inflasi di Aceh bisa tinggi,” kata Zainal Arifin Lubis. (una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved