Polisi Segel Lima Salon

Aparat gabungan Polres Aceh Utara bersama petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Willayatul Hisbah

Polisi Segel Lima Salon
TIM gabungan memeriksa identitas pekerja salon di kawasan Lhoksukon dan Pantonlabu, Kabupaten Aceh Utara 

* Diduga Terjadi Praktik LGBT
* Video Mesum Sesama Jenis Ditemukan

LHOKSUKON - Aparat gabungan Polres Aceh Utara bersama petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Willayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Utara pada Sabtu (27/1), menyegel lima salon yang berada di Lhoksukon dan Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara dengan memasang police line. Penyegelan ini dilakukan karena diduga telah terjadi praktik LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) di kelima salon tersebut.

Dugaan ini makin menmguat karena petugas menemukan foto dan video mesum (porno) hubungan sesama jenis dalam handphone milik sejumlah waria itu. Selain melakukan penyegelan, aparat juga mengamankan 12 orang, termasuk pelanggan dan wanita pria (waria). Kini mereka sudah diamankan ke Mapolres Aceh Utara untuk pembinaan.

Lima salon yang disegel dalam Operasi Pencegahan Penyakit Masyarakat (Pekat) di bawah komando Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata itu, tiga di antaranya berada di kawasan Lhoksukon, yaitu salon yang berada di Dusun Kampung Baru Kuta Lhoksukon. Di sini petugas mengamankan seorang waria berinisial Muz (33), warga Langsa. Lalu, salon di Desa Dayah, di mana si salon itu turut diamankan dua warga yakni, Um alias Monica (27), warga Kota Lhokseumawe dan RK (27), warga setempat.

Selanjutnya, salon di kompleks terminal Lhoksukon. Di situ juga diamankan satu orang berinisial MY (49), warga Dusun Kampung, Kecamatan Lhoksukon, serta dua pengunjung masing-masing, MH (20), warga Lhoksukon dan Dahrul Khaidi (19), warga Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Lhoksukon.

Sedangkan di Pantonlabu, ada dua salon yang disegel serta mengamankan lima warga yaitu, DS (30) warga Tanah Jambo Aye, ST alias Rere (38), warga Aceh Tamiang, ID (25) dan Feri (24), keduanya warga Tanah Jambo Aye, serta yang terakhir SF (22), warga Aceh Timur.

“Operasi Pekat (pencegahan penyakit masyarakat) ini dilancarkan karena sudah sangat meresahkan masyarakat,” ujar Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata melalui Kabag Ops Kompol Edwin Aldro kepada Serambi, kemarin. “Sebab, jika (operasi tersebut) tidak dilakukan, dikhawatirkan komunitas (LGBT) ini akan bertambah banyak,” tukasnya.

Kompol Edwin membeberkan, dalam razia itu petugas menemukan foto dan video tak senonoh hubungan sesama jenis dalam handphone sejumlah waria tersebut. Setelah diamankan, kemudian ke-12 orang itu dibawa ke Mapolres Aceh Utara untuk dilakukan pembinaan.

Lebih lanjut, Kabag Ops Polres Aceh Utara, Kompol Edwin Aldro menyebutkan, setelah tiba di Mapolres, ke-12 orang yang diamankan dari lima salon tersebut, rambutnya dipangkas supaya mereka mirip dengan jenis kelaminnya. Selain itu, mereka juga diberikan pembinaan oleh petugas supaya tidak mengulangi lagi perbuatan mereka itu. “Setelah diberi pembinaan, mereka nanti akan dikembalikan kepada keluarga melalui aparat desa setelah membuat surat perjanjian,” pungkas Kompol Edwin.

Operasi Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat) yang dilakukan Polres Aceh Utara bersama dengan Satpol PP dan WH Aceh Utara mendapat apresiasi dari sejumlah pihak seperti anggota DPRA dan mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh (Unimal) misalnya, mereka mendukung penuh gebrakan tim gabungan tersebut. “Selaku pemuda Aceh Utara, saya sangat mengapresiasi kinerja Kapolres Aceh Utara,” ucap Ketua BEM FH Unimal, Razjis Fadli kepada Serambi, kemarin.

Dia melanjutkan, mahasiswa berharap hal tersebut menjadi cambuk bagi pemerintah daerah dan pusat untuk segera merumuskan serta mengesahkan undang undang tindak pidana terhadap pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT ). “Polres saja berani bertindak tegas terhadap terduga pelaku LGBT, yang patut kita tanyakan sekarang, di mana peran pemerintah? Apakah mereka takut melanggar HAM jika UU tindak pidana LGBT disahkan?,” tukas Razjis.

Hal senada disampaikan Ketua Fraksi PAN DPRA, Asrizal H Asnawi yang mengaku sangat berterima kasih atas keberanian Kapolres Aceh Utara dalam menggerek komunitas LGBT. “Saya berharap, hal serupa juga dilakukan kapolres lain di seluruh Aceh, demi menjaga marwah Aceh dan penegakan syariat Islam di Aceh. Saran saya berikutnya, para waria ini direhabilitasi di SPN Seulawah atau Rindam Mata Ie Banda Aceh,” ujar anggota DPRA tersebut.

Tujuannya, kata Asrizal, untuk mengembalikan jati diri mereka sebagai laki-laki sesungguhnya. “ Untuk sumber dana, dapat diajukan melalui APBA 2018, dan Dinas Sosial Aceh,” jelasnya. “Dinas juga harus proaktif mengawasi dan membiayai program rehabilitasi ini. Ini merupakan musibah dan bencana buat aqidah anak-anak kita. Jadi, sudah sangat tepat bila dinas terkait turun tangan. Kami ingin pemerintah terus bersinergi dengan aparat kepolisian demi masa depan anak-anak kita,” tukasnya.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved