Polisi Ubah Prilaku Waria

Polres Aceh Utara menempa dan mengubah prilaku feminim para waria (wanita pria) yang diamankan dalam

Polisi Ubah Prilaku Waria
AHMAD UNTUNG SURIANATA, Kapolres Aceh Utara

* Ditempa Kembali Jadi Macho

LHOKSUKON – Polres Aceh Utara menempa dan mengubah prilaku feminim para waria (wanita pria) yang diamankan dalam ‘Operasi Pekat’ (pemberantasan penyakit masyarakat) di lima salon dalam Kecamatan Lhoksukon dan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara pada Sabtu (27/1) kemarin, untuk kembali menjadi macho seperti pria kebanyakan. Sementara itu, tim penyidik Reskrim yang meneliti handphone waria kembali menemukan video tak senonoh berupa seks menyimpang antara manusia dengan binatang.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata mengatakan, perlakukan terhadap para waria yang diamankan tersebut lebih difokuskan kepada pembinaan, dibandingkan dengan penindakan. Soalnya, prilaku menyimpang para waria yang menjurus ke praktik LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) itu masih bisa disembuhkan jika mendapat penanganan yang tepat.

“Waria itu tidak Islami dan sangat bertentangan dengan syariat Islam, apalagi ini Serambi Mekkah. Jadi, mereka kita amankan ke Mapolres untuk kita bina. Kita mulai dengan berguling-guling, kemudian kita suruh berteriak keras-keras, menghafal Pancasila agar mereka dapat bersuara seperti laki-laki,” ujar Untung Sangaji--sapaan akrab Kapolres Aceh Utara dalam konferensi pers di Mapolres, Senin (29/1).

Menurut Kapolres, perilaku waria tersebut sangat bertentangan dengan sejarah bangsa Indonesia. “Saya sudah pelajari sejarah sejak peperangan dengan Belanda, tidak ada nenek moyang yang banci (waria). Di Aceh ini tidak ada yang keturunan banci,” tukasnya. “Bahkan, ulama menyebutkan tak ada doa untuk banci jika sudah meninggal, yang ada hanya untuk wanita dan pria,” imbuh dia.

Untuk itu, ulasnya, polisi sengaja mengubah prilaku dan penampilan para waria itu agar kembali sesuai kodratnya. “Makanya, rambut para waria yang panjang layaknya perempuan, kita pangkas cepak seperti pria. Tapi mereka tidak disakiti. Kalau saya pangkas rambut wanita yang panjang, saya salah. Tapi ini yang kita pangkas rambut lelaki supaya mereka bisa terlihat lebih macho,” tukasnya. “Selain itu, saya minta mereka untuk kita bina selama lima hari, dua hari khusus diajarkan kerajinan tangan agar mereka dapat melakukan pekerjaan lelaki,” tandasnya.

Kapolres mengungkapkan, dirinya banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak atas upaya memberantas penyakit masyarakat itu. Namun, dia mengakui, cemoohan juga sempat diterimanya yang berasal dari kelompok gay itu sendiri. Meski begitu, semua cemoohan tersebut tak menyurutkan langkah Polres Aceh Utara untuk terus melancarkan ‘Operasi Pekat’. “Populasi (LGBT) ini bertambah selama ini karena ada pembiaran. Padahal sangat tidak pantas di Serambi Mekkah ini,” tegas Untung Sangaji.

Sementara itu, penyidik Reskrim Polres Aceh Utara kembali menemukan video tak senonoh berupa hubungan seks antara manusia dengan binatang dalam handphone (HP) milik waria yang diamankan dari lima salon yang disegel tersebut. “Ada sekitar lima video seks dengan binatang yang sudah kita temukan dalam HP mereka, dengan durasi yang lama,” ucap Kapolres.

Seperti diberitakan sebelumnya, tim gabungan Polres bersama Satpol PP dan WH Aceh Utara melancarkan ‘Operasi Pekat’ yang dikomandoi langsung Kapolres AKBP Ahmad Untung Surianata. Dalam operasi tersebut, tim gabungan menggerebek lima salon di Lhoksukon dan Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, yang diduga terjadi praktik LGBT pada Sabtu (27/1) kemarin. Ekses operasi ini, kelima salon itu (tiga di Lhoksukon dan 2 di Pantonlabu) disegel dan dipasang police line. Kecuali itu, petugas juga mengamankan 12 orang ke Mapolres Aceh Utara.

Keberanian Polres Aceh Utara memberantas praktik LGBT kembali mendapat sokongan. Setelah anggota DPRA dan mahasiswa, kini giliran ulama serta pemuda yang mendukung gebrakan Kapolres AKBP Ahmad Untung Surianata bersama jajarannya itu. Koordinanor Antarlembaga Agama dan Kepemudaan, T Teungku Zulfadli HT Ismail kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, sebanyak 24 lembaga ulama dan kepemudaan akan memberikan dukungan penuh kepada Kapolres Aceh Utara yang sudah memberantas praktik LGBT dan narkoba di Aceh Utara.

“Untuk menyatakan bentuk dukungan tersebut, besok (hari ini-red) kami akan mendatangi Mapolres Aceh Utara bersama sejumlah perwakilan lembaga dan ulama. LGBT dan narkoba bukan hanya melanggar aturan agama, tapi aturan negara. Jadi kita harus memberikan dukungan penuh atas upaya Kapolres Aceh Utara,” pungkas Tgk Zulfadli.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved