Opini

Mengapa Investor tak Melirik Aceh?

TENGGELAM pada cerita kemajuan di masa lalu, namun tak memiliki strategi jitu untuk menjadikan Aceh

Mengapa Investor tak Melirik Aceh?
Wakil Bupati Aceh Singkil, Sazali menyerahkan berita acara kerjasama investasi dengan Joungwon, Park Direktur Pacific Bio Co.LTD konsorsium (khan, suho) di aula Setdakab Aceh Singkil, Rabu (17/1/2018) 

Apa yang harus dilakukan?
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Aceh sekarang? Pertama, menyiapkan SDM yang mumpuni dan dibutuhkan oleh dunia kerja. Rakyat Aceh harus disiapkan sebagai tenaga terampil dan terlatih, sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar dan memiliki kemampuan bukan sekedar sebagai pekerja, tapi juga memiliki sertifikasi untuk mengolah sumber daya alam Aceh dari sekedar bahan baku, menjadi baarang yang dibutuhkan oleh pasar internasional.

Kedua, memutus mata rantai rent seeking economy. Pola rent seeker yang telah mendarah daging di Aceh, membuat minat penanam modal menjadi lemah. Bagi mereka, pola rent seeker economy merupakan gangguan serius bagi upaya pengembangan konsep ekonomi bagi pemilik modal.

Ketiga, memutus mata rantai korupsi. Satu penghambat majunya ekonomi Aceh adalah adanya “kerajaan korupsi” dari atas hingga bawah. Semua pihak yang memiliki kewenangan memberikan “izin” selama ini kerap menjadikan para bisnisman sebagai sapi perah yang bisa dijadikan “lumbung” pemasukan ilegal.

Keempat, menyiapkan kawasan investasi yang strategis. Menyiapkan kawasan, semacam zonasi ekonomi menjadi penting, karena akan mempermudah tumbuhnya investasi. Dalam pembentukan zonasi ini, pemerintah harus benar-benar menyiapkan kawasan yang tidak berbenturan dengan kepentingan pelestarian lingkungan dan kepentingan rakyat kecil (tidak menghilangkan kedaulatan rakyat atas lahan).

Kelima, kepastian hukum. Untuk memajukan Aceh, kepastian hukum menjadi kunci utama. Karena dengan kondisi yang tidak menentu, investasi tidak akan masuk, karena besarnya risiko yang harus mereka hadapi.

Keenam, insfrastruktur. Ketersedian infrastruktur yang mumpuni merupakan syarat yang tidak bisa diabaikan. Industri yang masuk ke Aceh membutuhkan dukungan daya listrik, jalur transportasi darat laut dan udara yang lancar. Untuk itu, keberadaan jalan darat yang bagus, pelabuhan laut yang bisa digunakan untuk mengangkut barang ke luar negeri, serta penerbangan langsung ke luar negeri merupakan suatu kenicayaan.

Akhirnya, maju atau tidaknya Aceh, serta keinginan menjadikan Aceh sebagai “macan ekonomi” Indoneia, akan terwujud dengan kerja keras dan kerja cerdas. Aceh harus dibangun dengan perencanaan yang matang. Komitmen dan perencanaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, demi menyongsong Aceh yang gilang-gemilang di masa mendatang. Semoga!

* Muhammad Nur, Direktur Walhi Aceh, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Banda Aceh. Email: mnur.walhiaceh@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved