Calo Rumah Duafa Incar Korban

Program pembangunan rumah duafa oleh Baitul Mal Aceh (BMA) ternyata mulai dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu

Calo Rumah Duafa  Incar Korban
SEORANG penghuni rumah duafa di kawasan Desa Ladang, Kecamatan Susoh berdiri di depan tiang listrik milik PLN yang mulai condong ke arah rumahnya, Senin (5/12). 

BANDA ACEH - Program pembangunan rumah duafa oleh Baitul Mal Aceh (BMA) ternyata mulai dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan pribadi. “Kami mengimbau masyarakat agar mewaspadai oknum-oknum (calo) yang mengatasnamakan BMA,” kata Plt Kepala BMA, Zamzami Abdulrani SSos kepada Serambi, Kamis (15/2).

Menurut informasi yang diperoleh BMA, beberapa waktu lalu santer beredar kabar adanya pihak-pihak yang meminta sejumlah dana kepada masyarakat dengan janji akan dibangun rumah. Bahkan ada pihak yang rela membuang modal Rp 700.000 untuk membeli pasir dengan tujuan meyakinkan korban bahwa rumahnya segera dibangun.

Menurut Zamzami, dirinya memang tidak memiliki bukti konkret terkait aktivitas pungli rumah duafa. Namun di saat pengusulan anggaran rumah duafa tahun 2018 ke Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) BMA. pihaknya kerap mendengar kabar adanya pungli di sejumlah kabupaten/kota.

“Kami imbau seluruh masyarakat agar berhati-hati terhadap oknum yang mencoba meminta dana dengan iming-iming akan dibangun rumah. Begitu juga kalau ada yang mengaku utusan pejabat provinsi atau orang dalam di BMA, tolong jangan dipercaya,” ujarnya.

Dalam membangun rumah duafa, kata Zamzami, pihaknya tidak akan meminta apapun dari calon mustahik karena dana zakat menjadi hak fakir miskin.

Selain itu, BMA juga mendapat bukti adanya tindak penipuan melalui surat dengan kop Baitul Mal Aceh. Dalam surat tertanggal 25 Januari 2018 itu, disebutkan bahwa BMA sudah menentukan 10 perusahaan (CV) untuk membangun 25 rumah di Aceh Selatan, dimana kontraknya akan ditandatangani pada 22 Februari 2018. “Kami tegaskan bahwa informasi ini bohong. Lembar, stempel, dan tanda tangan pejabat dalam surat ini palsu,” kata Zamzami seraya menunjukkan bukti surat itu kepada Serambi.

Karena itu dia memperingatkan para rekanan atau perusahaan jasa konstruksi untuk tidak terpancing mafia rumah yang mengaku bisa mendapatkan proyek pembangunan rumah dari Baitul Mal. “Saya bertemu banyak orang dan meminta foto bersama. Bisa jadi dengan modal itu, mereka mengaku akrab dan mendapatkan uang dengan menjual nama saya,” ujar mantan Wakil Bupati Aceh Jaya itu.

Hingga saat ini, lanjutnya, Baitul Mal sudah membangun masing-masing 1.000 unit rumah di tiga fase yakni pada tahun 2011 dan 2013. Sedangkan 2018 sedang dalam pengusulan anggaran. “Dari 2014 hingga 2017 tidak ada pembangunan rumah, cuma renovasi biasa. Namun untuk tahun ini kami sedang usulkan ke DPS sebanyak 1.000 unit,” ujarnya dan menyebut penerima bantuan merujuk kepada Basis Data Terpadu (BDT) yang dikeluarkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved