Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Bernilai Ekonomis, Menjadi Lahan Baru Atasi Kemiskinan

MENELUSURI sungai Singkil Lama, di Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, pandangan mata disuguhi deretan pohon nipah

Editor: bakri
BUAH nipah di pinggir sungai Singkil Lama, Aceh Singkil. 

* Melihat Potensi Nipah di Aceh Singkil

MENELUSURI sungai Singkil Lama, di Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, pandangan mata disuguhi deretan pohon nipah. Jutaan tumbuhan dengan nama ilmiah nypa fruticans itu, berbaris mulai dari pinggir sungai hingga pedalaman tanah berawa.

Kabupaten Aceh Singkil, memiliki hutan nipah yang luas. Populasi nipah terus bertambah sepanjang tahun, hingga menjalar dekat permukiman penduduk. Setidaknya nipah tumbuh di tiga kecamatan yaitu, Singkil, Singkil Utara dan Kecamatan Kuala Baru.

Potensi nipah yang melimpah belum dimanfaatkan maksimal untuk menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Nipah masih dianggap tumbuhan liar tak berguna. Kehadirannya dianggap mengganggu, bahkan membuat jengah ketika tumbuh di pinggir pantai lantaran dianggap mengganggu pemandangan menikmati mata hari tenggelam.

Padahal selain menjadi benteng alam penahan gempuran air laut penyebab abrasi, tumbuhan manggrove tersebut punya fungsi ekologis penting. Antara lain menjadi habitat berkembang biak ikan, udang, burung, monyet. Khusus di Singkil hutan nipah menjadi tempat tinggal buaya. Lebih dari itu bagian dari tumbuhan nipah jika diolah dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Mulai dari daun, lidi, buah hingga tangkai nipah dapat dideres untuk diambil niranya sebagai bahan baku gula. Daun muda nipah dapat dijadikan bungkus tembakau gulung, sementara lidi dapat dijadikan sapu lidi, buah dapat menjadi bahan baku manisan dan tangkai buahnya disadap airnya untuk bahan baku gula merah.

Sejauh ini nipah hanya diambil pucuknya untuk penggulung tembakau yang dikenal sebagai rokok pucuk oleh warga pinggir sungai di Kecamatan Singkil. Beberapa warga juga telah mencoba mengolah buahnya sebagai bahan manisan. Tapi masih dalam sekala kecil serta musiman.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil, sempat mewacanakan memanfaatkan potensi nipah dengan menderes air niranya tanpa merusak batangnya. Program itu sebagai upaya menciptakan penghasilan tambahan bagi penduduk lokal yang sehari-hari mengambil lokan (kerang sungai) dari sungai Singkil, lokasi tumbuhan nipah berada.

Wacana itu malah sempat disampaikan Sekda Aceh Singkil, Drs Azmi di hadapan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, akhir tahun lalu, sebagai salah satu upaya menanggulangi kemiskinan. Program menderes tangkai buah nipah ini meniru kisah sukses yang dilakukan penduduk Cilacap, Jawa Tengah.

Dimana gula dari bahan nira nipah dapat dipasok untuk memenuhi kebutuhan industri kecap. Sayangnya, program itu seiring berjalannya waktu tak terdengar lagi.

“Kita memiliki potensi nipah yang sangat luas. Nipah bisa diambil niranya untuk bahan baku gula memasok kebutuhan industri,” kata Azmi kala itu. Azmi kepada Serambi, Senin (19/2) memastikan program deres nipah dilaksanakan mulai tahun ini. Menurut Sekda pada tahap awal nipah yang akan disadap seluas 200 hektare.

“Insya Allah jadi, luasnya 200 hektare,” ujarnya. Warga berharap nipah yang melimpah ruah dapat digarap menjadi sumber pendapatan. Tentunya dengan tetap menjaga kelestariannya, sebagai penjaga daratan dari jarahan air laut. Apalagi menurut beberapa sumber tumbuhan sejenis palem ini bukan hanya bernilai ekonomis.

Konon jus muda tunas mudanya dapat dijadikan obat alternatif, mengobati herpes. Manfaat lainya sebagai bahan pengekstrak garam.

“Kita berharap pemerintah dapat mendorong pemanfaatan potensi nipah yang begitu banyak untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Edi Sugianto, aktivis LSM di Aceh Singkil.(dede rosadi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved