Tim Mediasi Sebut Wasit Minta Uang Damai

Pengakuan Aidil Azmy, wasit korban pengeroyokan tiga pemain PSAP pada laga PSAP vs Aceh United

Tim Mediasi Sebut Wasit Minta Uang Damai
Tiga Pemain PSAP Sigli, Muhammad Causar, Nurmahdi, dan Fajar Munandar menjalani persidangan kedua di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Senin (19/2). Mereka disidangkan karena mengeroyok Aidil Azmy, wasit yang memimpin pertandingan PSAP Sigli vs Aceh United di Stadion Dimurthala, Banda Aceh pada Jumat, 18 Agustus 2017. SERAMBI/BUDI FATRIA 

* Kasus Tiga Pemain PSAP Pukul Wasit

SIGLI - Pengakuan Aidil Azmy, wasit korban pengeroyokan tiga pemain PSAP pada laga PSAP vs Aceh United, di Stadion H Dimurthala, 18 Agustus 2017, mendapat tanggapan dari tim mediasi dan PSAP Sigli. Seperti diberitakan kemarin, Aidil Azmy mengatakan, sebenarnya ia tak ingin melanjutkan kasus itu ke penegak hukum, asalkan PSAP mau meminta maaf kepadanya.

Pernyataan ini ditanggapi tokoh olahraga Pidie, Iskandar Cagee yang mengaku pernah coba memediasi kasus tersebut. Menurutnya, kasus itu gagal diselesaikan secara damai, karena pihak keluarga Aidil Azmy meminta uang ‘damai’ Rp 60 juta kepada tiga pemain PSAP.

“Saya sudah pernah memediasi untuk menyelesaikan kasus tiga pemain PSAP dengan wasit Aidil, agar masalah itu tidak berbuntut ke ranah hukum. Tapi, hasil mediasi tersebut, paman Aidil minta uang,” kata Iskandar Cagee selaku tim mediasi kepada Serambi, Selasa (20/2).

Pada 7 Februari 2018, sebut Iskandar, dirinya pernah bertemu Aidil dan seorang pria yang mengaku paman Aidil, di Zakir Kupi Banda Aceh, guna membicarakan penyelesaian masalah tersebut. Dalam pembicaraan itu, kata Iskandar, pihak Aidil awalnya bersedia masalah tiga pemain PSAP diselesaikan secara damai.

“Dalam pertemuan awal pihak Aidil tidak pernah menyinggung masalah uang. Artinya masalah tersebut diselesaikan secara damai. Karena saya anggap telah selesai, sehingga kami bubar dan saya pulang ke Sigli,” kata pria yang kerap disapa Is Cagee ini.

Sesampai dirinya di Sigli, lanjut Is, dirinya dihubungi paman Aidil dan menanyakan masalah uang. Namun karena hal itu tak dibicarakan dalam pertemuan di Zakir Kupi, menurut Is Cagee, dirinya sempat menawarkan tiga pemain PSAP hanya mampu membayar Rp 10 juta, mengingat mereka berasal dari keluarga kurang mampu.

“Saat itu paman Aidil minta waktu dengan alasan perlu berembuk dengan keluarga. Berselang satu jam, paman Aidil menghubungi saya lagi dan menyatakan keputusan keluarga uang damai harus dibayar Rp 60 juta. Saya sempat tawarkan Rp 30 juta, tapi paman Aidil menyatakan Rp 60 juta sudah final dan tak bisa ditawar lagi,” kata Is Cagee mengutip pernyataan paman Aidil.

“Setelah saya baca berita di Serambi tadi (kemarin-red), saya mau klarifikasi pernyataan Aidil karena sangat jauh dari realita. Saya sempat menghubunginya, tapi Aidil tak mengangkat ponselnya dan pesan singkat (sms) saya juga belum dibalas. Satu lagi, soal paman Aidil pernah minta uang denda Rp 60 juta, saya ada bukti rekaman. Dan, saya membantah semua pernyataan wasit Aidil,” pungkasnya.

Sementara Sekretaris Umum (Sekum) PSAP Sigli, M Daud Abdullah, menjelaskan, setelah rusuh di Lampineung, manajemen PSAP sudah menghubungi wasit Aidil tiga kali, tapi yang bersangkutan tidak mengangkat ponselnya. Sehingga manajemen mencari wasit cadangan pada pertandingan itu, Dedi. “Menurut Dedi, masalah tiga pemain PSAP tak perlu menjumpai Aidil. Sebab masalah itu sudah ditangani paman Aidil,” kata M Daud.

Menurutnya, pihak manajemen pernah mengutus Mursal Zulfikar untuk bertemu Aidil, guna membicarakan penyelesaian masalah itu. “Kepada Mursal, Aidil juga memberitahukan bahwa kasusnya dengan tiga pemain PSAP sudah diserahkan kepada pamannya,” ungkap M Daud.

Dijelaskan, manajemen PSAP pernah menghubungi paman Aidil untuk membicarakan penyelesaian masalah tersebut. Namun yang bersangkutan terkesan enggan menyelesaikannya dengan cara damai. Bahkan, paman Aidil meminta kasus itu diselesaikan lewat pengadilan. “Kami tak pernah diundang oleh Aidil dan tidak pernah kami disiapkan hidangan. Aidil bohong, bagaimana Aidil berani bilang itu, kami telepon saja dia tak pernah mengangkat karena masalah itu diserahkan pada pamannya,” tegas M Daud.

Mengenai tidak adanya pengacara yang mendampingi tiga pemain PSAP menjalani sidang, M Daud mengatakan, hal itu karena keputusan keluarga mereka yang menyatakan tak perlu pengacara. “Kami sudah berusaha menyelesaikan masalah pemain PSAP secara damai, tapi tidak membuahkan hasil,” sebutnya. M Daud juga mengatakan manajemen PSAP sangat kecewa kepada Asprov PSSI Aceh yang tak memediasi masalah itu.

Bukan masalah uang
Aidil Azmy yang dihubungi Serambi Selasa (20/2), membantah tudingan gagalnya tercapai perdamaian karena masalah uang. Ia tetap bersikeras bahwa gagal damainya kasus tersebut, karena pihak PSAP yang tidak pernah mendatangi dirinya. “Ini bukan masalah uang. Jika mereka ingin pergi, silakan tentukan tanggal kapan pergi ke rumah saya. Di sana baru kita luruskan. Ini jumpa tidak sudah ngomong masalah uang, yang ada membuat malu kami,” ungkapnya.

Ditegaskan, sejak awal ia bersama keluarga sudah menunggu kehadiran pihak PSAP. Namun, hingga sekarang tidak pernah datang. Bahkan, pihak keluarganya sudah menyiapkan hidangan jamuan. “Tapi mereka tidak datang, apakah mereka menghargai kami? Jangan membenarkan perbuatan yang salah,” tukasnya. “Sekarang tak usah bicara uang, kalau mereka mau berdamai, datang ke rumah,” ungkap Aidil.(naz/mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved