Salam

Mencemaskan, Isu Agama Jelang Tahun Politik 2019

Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, meminta TNI-Polri untuk menjaga para pemuka agama yang akhir-akhir ini sering mendapat teror

Mencemaskan, Isu Agama Jelang Tahun Politik 2019
net
ilustrasi

Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, meminta TNI-Polri untuk menjaga para pemuka agama yang akhir-akhir ini sering mendapat teror dan mengalami penganiayaan. “Saya mengimbau agar umat Islam, TNI dan Polri bersama-sama menjaga para ulama dan ustaz,” kata Gatot dua hari lalu.

Namun, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, melihat kasus penyerangan terhadap tokoh agama dan ulama itu masih menjadi kewenangan kepolisian. “Biar polisi saja. Jangan terlalu banyak campur-campur, nanti kacau. Tetapi harus ditangkap itu, enggak perlu dibiar-biarkan. Kalau polisi enggak sanggup baru tentaralah, gitu ya. Serahkan polisi saja ya,” ujar Ryamizard.

Berkenaan dengan itu, Amnesty Internasional merilis juga laporan tahunan mengenai situasi HAM di dunia, termasuk Indonesia, sepanjang 2017. Dalam laporan tersebut terdapat kesimpulan bahwa 2017 merupakan tahun politik kebencian yang menyebabkan pelanggaran-pelanggaran HAM.

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, mengungkapkan, khusus di Indonesia, politik kebencian menggunakan sejumlah isu. Antara lain, isu politik kebencian berbasis sentiman agama. Tercatat, ada 11 orang yang divonis bersalah atas tuduhan penistaan atau penghinaan agama.

Ya, tahun 2017 yang juga tahun politik sudah berlalu. Kini tahun 2018 juga masih tahun politik karena ada banyak pilkada provinsi dan kabupaten/kota. Momentum pilkada serentak 2018 ini dimanfaatkan, banyak kalangan elit dan parpol untuk memperkuat “kuda-kuda” guna menyambut tahun politik 2019 yang lebih panas, ada pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).

Karena itulah, apapun fenomena yang terjadi di dalam masyarakat, paling gampang dikaitkan dengan politik. Apalagi, di dalamnya bersinggungan dengan agama, maka ini paling mudah mengundang “hiruk pikuk” opini, termasuk kasus teror dan penganiayaan pemuka agama. Negara yang berusaha meredam isu dimaksud, misalnya, dengan mengatakan pelakunya orang sakit jiwa, ternyata malah bikin publik tambah curiga dan penasaran.

Menggunakan simbol-simbol agama dalam berpolitik dianggap murah dan primitif. Tapi, di Indonesia ini, isu agama itu masih paling efektif untuk membangun opini publik, dan kemudian rentan menimbulkan perpecahan antarumat atau bahkan sesama umat seagama.

Karena itulah, Presiden The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) Azyumardi Azra menyerukan para politisi tidak menggunakan isu agama sebagai salah satu bahan dalam kampanyenya. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi maraknya penyebaran ujaran kebencian dan berita bohong dalam tahun politik 2018-2019.

“Sebaiknya para politisi dalam kampanyenya janganlah membawa-bawa agama, nanti bisa dipelintir ke sana sini. Apalagi kalau misalnya kepeleset lalu dipelintir. Jadi janganlah, karena isu agama itu bisa eksplosif,” ujar Azyumardi.

Ya, mudah-mudahan para politisi memahami dan mematuhinya demi ketenangan umat. Aamiin.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved