Breaking News:

Salam

Bisnis Air Bersih Bisa Saja Dikelola Swasta Profesional

Sebuah perusahaan dari Dubai, Uni Emirat Arab, menyatakan siap membantu dalam pengelolaan air bersih di sejumlah

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/DEDEROSADI
Mesin pengolahan air bersih di kawasan Pea Bumbung, Singkil, Aceh Singkil 

Sebuah perusahaan dari Dubai, Uni Emirat Arab, menyatakan siap membantu dalam pengelolaan air bersih di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Adalah Metito Overseas Ltd yang sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 2004 menggunakan bendera PT Metito Indonesia.

Mereka dikenal sebagai perusahaan pengelola air bersih untuk beberapa pelabuhan di Indonesia.

Dalam bisnis air di pelabuhan itu, Metito Indonesia menggandeng PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Di wilayah Pelindo I, Metito melayani kebutuhan air di beberapa pelabuhan, seperti Belawan, Dumai, dan Tanjung Balai Karimun. Untuk bisnis airnya di tiga pelabuhan itu, Metito Indonesia menanam modal US$10 juta, atau pada waktu itu setara dengan Rp 73,8 miliar.

Jadi, perusahaan itu benar-benar perusahaan spesialias di bidang bisnis air bersih atau air minum. Sebab, bisnis di sektor ini, menurut beberapa pengamat, sangat menjanjikan. Sebagai gambaran, tarif air minum bagi perumahan sekitar Rp 2.500 per meter kubik, tetapi di pelabuhan bisa mencapai Rp 12.000 per meter kubik.

Metito Indonesia itu melirik Aceh atas ajakan Irwansyah, seorang anggota DPRA. Di mata Irwansyah, saat ini ketersediaan air bersih masih menjadi masalah besar di Aceh, terutama di wilayah pesisir.

Namun, kata Irwansyah, dalam pertemuan dengan Metito sudah diingatkan, jika nanti jadi bekerja sama dengan PDAM-PDAM di Aceh, maka bentuk kerja samanya yang ideal. “Jangan memberatkan salah satu pihak. Apalagi pihak Metito rencananya akan mengeluarkan modal besar untuk membangun infrastruktur air bersih, sama seperti yang sudah dilakukan perusahaan tersebut di wilayah lain di Indonesia,” kata Irwansyah.

Ya, rencana masuknya investor asing dalam bisnis air bersih di Aceh sudah pasti akan mendapat tanggapan pro dan kontra. Apalagi, jika dikaitkan dengan kemungkinan naiknya tarif air bersih.

Akan tetapi, sebagai pelanggan PDAM yang selama berpuluh-puluh tahun dikecewakan oleh PDAM yang notabene bermanajemen amatiran, tentu akan menyambut baik jika perusahaan air bersih dikelola secara profesional. Sebab, jika distribusi lancar dan kualitas air lebih baik, pelanggan pasti akan menyambut gembira.

Sebab, mempercayakan pengadaan air bersih pada PDAM milik kabupaten/kota, kelihatan semakin tidak meyakinkan. Sebagai gambaran, di Indonesia ada sekitar 340 PDAM. Dan hingga kini baru bisa melayani kebutuhan sekitar 40% penduduk perkotaan dan 8% penduduk pedesaan. Padahal, setiap tahun kebutuhan air bersih tumbuh 1,5%.

Dan, yang memprihatinkan lagi, kondisi keuangan, teknologi, dan sumberdaya PDAM pada umumnya tidak sehat dan hampir setiap tahun harus disuntik modal.

Makanya, masuknya investor itu itu jangan hanya menjadi lahan pengembangan bisnis mereka, tapi juga bisa memperbaiki mulai dari kelembagaan, teknologi, sampai anggaran PDAM-PDAM yang ikut kerja sama dengan mereka.

Ya, intinya adalah kerja sama saling menguntungkan atau “tak saling memberatkan” seperti dikatakan Pak Irwansyah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved