90 Persen Telur Dipasok dari Medan

Dinas Peternakan (Disnak) Aceh menggelar diskusi ketahanan pangan di Aula Lantai II kantor tersebut

90 Persen Telur Dipasok dari Medan
ZULYAZAINI YAHYA, Kadis Peternakan Aceh

BANDA ACEH - Dinas Peternakan (Disnak) Aceh menggelar diskusi ketahanan pangan di Aula Lantai II kantor tersebut, Senin (12/3). Diskusi yang menghadirkan berbagai dinas di lingkungan Pemerintah Aceh itu untuk melahirkan startup sistem terintegrasi peternakan unggas Aceh sebagai bagian dari upaya mewujudkan program ketahanan pangan. Dalam diskusi ini terungkap, 90 persen telur ayam di Aceh masih dipasok dari Medan, Sumatera Utara.

Diskusi ini menghadirkan pemateri Prof Dr Jasman J Ma’ruf MBA yang juga Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh. Sedangkan peserta unsur SKPA, akademisi, praktisi bisnis, dan dari organisasi profesi.
Rektor UTU Prof Dr Jasman J Ma’ruf MBA dalam paparannya menyebutkan ada sepuluh susbsistem yang harus diintegrasikan untuk mengembangkan peternakan unggas di Aceh. Saat ini Aceh butuh lebih dari 360 juta butir telur setiap tahun. Jika Aceh bisa mandiri di sektor ini, puluhan ribu tenaga kerja akan terserap. Namun, menurut Jasman, visi-misi tersebut bisa tercapai jika punya tekad yang kuat dari seluruh jajaran.

“Jangan kita belajar cara beternak ke Australia. Sebagai produsen, tidak mungkin mereka mengajarkan kita, karena akan menjadi saingan. Jika yakin sesuatu untuk dikerjakan, insya Allah akan berhasil, karena pikiran akan mencari jalan untuk meraih target yang direncanakan itu,” kata Prof Jasman.

Sedangkan Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya MSi mengatakan, kebutuhan telur di Aceh sangat tinggi dan sampai kini tak bisa memenuhi secara mandiri. “Ke depan, kondisi ini harus segera dicarikan solusi, antara lain dengan melibatkan semua stakeholder dan harus terintegrasi antardinas,” tandas Zulyazaini Yahya MSi saat memberikan sambutan. Dikatakan, Disnak Aceh punya kewenangan untuk memenuhi daging, susu, dan telur.

Saat ini Sumut masih memasok 1,2 juta butir telur untuk kebutuhan masyarakat Aceh. “Sebanyak 90 persen telur masih harus dipasok dari Medan. Hanya 10 persen yang mampu kita produksi sendiri,” kata Zulyazaini. Persentase 10 persen ini merupakan telur yang dihasilkan oleh sekitar 250.000-350.000 ekor ayam petelur yang tersebar di berbagai kawasan di Aceh. “Jadi, sangat prospektif kalau bisa kita hasilkan sendiri,” tandasnya.

Zulyazaini berharap dengan diskusi tersebut akan menambah pemahaman peserta sesuai dengan cara berpikir modern, yang menguasai teknologi dan menggunakan sistem online yang terintegrasi dengan sektor lain.

Dalam diskusi yang dihadiri seratusan orang itu, para peserta berharap pemerintah Aceh mampu memfasilitasi tumbuhnya startup atau bisnis yang berbasis dunia teknologi dan online sebagai sistem terintegrasi peternakan unggas di Aceh.(sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved