Salam

Calo Rumah Bantuan Sudah Keterlaluan

Sudah belasan tahun isu calo rumah bantuan tak pernah surut di Aceh, sehingga jumlah kaum dhuafa yang tertipu

Calo Rumah Bantuan Sudah Keterlaluan
SERAMBINEWS.COM/DEDI ISKANDAR
Sebuah rumah bantuan milik adik Camat Tripa Makmur, Foto direkam Rabu (9/8/2017). 

Sudah belasan tahun isu calo rumah bantuan tak pernah surut di Aceh, sehingga jumlah kaum dhuafa yang tertipu olehnya semakin banyak. Jumlah duit yang ditarik oleh para calo dengan alasan untuk “pengurusan jatah rumahbantuan, dari setiap korbannya antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Yang menjadi korban para calo rumah bantuan ini bukan saja masyarakat dhuafa di desa-desa. Akan tetapi, oknum-oknum pengusaha jasa konstruksi juga ada yang menjadi mangsa. Mereka dijanjikan menjadi pemenang lelang proyek pembangunan rumah bantuan dengan meminta sejumlah uang.

Dalam prakteknya, para calo itu selain sering mengaku diri sebagai pegawai atau utusan instansi tertentu, mereka pun sering “menjual” nama-nama elit politik dan pemerintah daerah ini. Untuk meyakinkan calon korbannya yang kaum dhuafa di desa-desa dan para kontraktor, para calo ini juga sering memalsukan berbagai dokumen.

Di antara lembaga pembangun rumah bantuan yang sering dirugikan para calo adalah Baitul Mal Aceh (BMA). Sudah bertahun-tahun nama BMA ini menjadi bahan “cari makan” para calon. Oleh sebab itu, agar tak banyak masyarakat yang menjadi korban para calo ini, akhirnya BMA melaporkan kasus calo rumah yang mengatasnamakan lembaga tersebut kepada pihak kepolisian.

Tindakan itu diambil BMA mengingat semakin banyak oknum yang telah mencemarkan nama baik BMA dengan meminta uang kepada kontraktor atau pihak ketiga. Laporan kasus itu dilayangkan kepada Polda Aceh pada 6 Maret 2018 dengan nomor 451.5/529.

BMA berharap pihak kepolisian dapat mendalami kasus itu dan menyurati kapolres-kapolres seluruh Aceh sebagai bentuk antisipasi.

“Peristiwa pencatutan nama Baitul Mal ini sudah sangat meresahkan. Kami harus melaporkan kasus ini ke pihak berwajib agar tidak jatuh korban di kemudian hari,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani SSos.

Terungkap juga, kasus penipuan tersebut sudah merambah ke sejumlah kabupaten/kota di Aceh. BMA sedikitnya sudah menerima laporan dari Baitul Mal Simeulue, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Aceh Selatan terkait adanya oknum yang bertindak sebagai calo yang mengatasnamakan lembaga zakat itu.

Contoh kasus, seorang rekanan asal Simeulue menanyakan ke BMA tentang penetapan perusahaan yang memenangi proyek pembangunan rumah bantuan BMA. Si kontraktor ini sudah mendapat kiriman foto surat melalui pesan WhatsApp (WA) yang berstempel BMA dan ditandatangani Kepala Sekretariat BMA ‘palsu’ bernama Drs Kardi. “Padahal, jangankan pemenang tender, dana pembangunan pun masih dalam tahap pengusulan ke pihak Dewan Pertimbangan Syariah (DPS) Baitul Mal Aceh. Kami sangat prihatin terhadap kondisi ini,” kata Zamzami.

Sekali lagi, agar tak banyak lagi masyarakat dhuafa yang menjadi korban, kita berharap polisi dapat memburu dan menciduk orang-orang yang selama ini menjadi calo rumah bantuan. Bukan hanya bantuan BMA, tapi juga rumah-rumah bantuan dari pihak lain, seperti bantuan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yang sering dijadikan objek penipuan masyarakat oleh para calo.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved