Breaking News:

Pengguna Aktif Telegram Tembus 200 Juta, Beda Jauh dengan Whatsapp, Ini Kata Pendirinya Pavel Durov

Sejak awal berdiri, layanan chatting ini mengedepankan diri sebagai platform yang aman dari intipan luar.

KOLASE
Aplikasi chatting, Telegram. 

SERAMBINEWS.COM - Aplikasi chatting Telegram diklaim sudah memiliki 200 juta pengguna aktif. Hal ini dinyatakan oleh pendiri Telegram, Pavel Durov, melalui blog resmi perusahaan.

Durov mengatakan pencapaian tersebut dilakukan tanpa promosi, semua dilakukan oleh pengguna Telegram.

Pria yang kerap berkaos hitam ini juga mengucapkan apresiasi kepada seluruh pengguna Telegram atas pencapaian.

Uniknya, dalam pernyataan tersebut Durov juga menyindir Facebook, meski tidak secara gamblang, soal kasus kebocoran data pengguna dan digunakan konsultan politik Trump dalam pilpres 2016.

"Berbeda dengan aplikasi populer lainnya, kami tidak memiliki stakeholder maupun pengiklan. Kami juga tidak berkepentingan dengan para pemasar, para penggali data dan lembaga pemerintah. Sejak pertama kali diluncurkan kami tidak membagikan data sedikit pun pada pihak ketiga," ungkap Pavel sebagaimana dikutip KompasTekno dari halaman resmi Telegram, Sabtu (24/3/2018).

(Baca: Setelah Diblokir, Pemerintah Bakal Buka Lagi Aplikasi Telegram di Indonesia)

(Baca: Pascaaksi Unjuk Rasa, Iran Batasi Akses Media Sosial Instagram dan Telegram)

(Baca: Tuduh Facebook, WhatsApp dan Instagram Jiplak BBM, BlackBerry Ajukan Tuntutan Hukum)

Memang, Telegram dikenal sebagai aplikasi obrolan yang sangat ketat dalam privasi data. Telegram sangat menjaga kerahasiaan pengguna sampai-sampai aplikasi ini menjadi favorit jaringan teroris sebagai alat komunikasi.

Sejak awal berdiri, layanan chatting ini mengedepankan diri sebagai platform yang aman dari intipan luar.

Telegram memiliki fitur enkripsi end-to-end yang dapat mencegah pesan dicegat dan dibaca kecuali oleh pengirim dan penerima.

Selain itu fitur channel pada Telegram bersifat terbuka untuk publik dan bebas diikuti oleh pengguna.

Karena itulah channel ini seringkali disalahgunakan oleh pelaku terorisme untuk menyebar propaganda.

Keunikan inilah yang diklaim membuat Telegram dapat mengantongi 200 juta pengguna aktif tanpa harus diperkenalkan melalui iklan manapun.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved