Pemerintah Diminta Mendata Obligasi Pesawat

Anggota DPR Aceh Zaenal Abidin meminta Pemerintah Aceh mendata ahli waris pemegang surat pinjaman nasional

Pemerintah Diminta Mendata Obligasi Pesawat
MAKSUN, warga Desa Alue Tampak, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat memperlihatkan surat bentuk pinjaman/uang negara Rp 4.500 milik orangtuanya tahun 1950 untuk membeli pesawat yang kini belum dilunasi. Foto direkam di kediaman Maksun, Sabtu (17/3). 

MEULABOH - Anggota DPR Aceh Zaenal Abidin meminta Pemerintah Aceh mendata ahli waris pemegang surat pinjaman nasional atau surat obligasi pesawat pertama RI yang dimiliki warga Aceh.

“Ini penting sehingga ada kepastian terhadap surat itu bahwa masyarakat Aceh sangat berjasa pada masa kemerdekaan silam,” kata Zaenal kepada wartawan di sela bertemu dengan Tarmizi, ahli waris pemegang surat obligasi di Kuala Bhee Woyla, Aceh Barat, Minggu (24/3).

Sehari sebelumnya Zaenal juga bertemu ahli waris pemegang surat obligasi lainnya Lina dan Agus di Desa Drien Rampak Johan Pahlawan dan Maksun di Alue Tampak Kaway XVI.

“Pemerintah Aceh perlu mendata semua surat yang masih tersisa. Bisa jadi surat itu masih sangat banyak. Ada juga laporan telah banyak yang hilang dibawa musibah tsunami,” kata anggota DPRA asal Aceh Barat ini. Dia sebutkan di Aceh Barat saja sejauh ini sudah ada lima lembar surat ditemukan.

Menurut beberapa keterangan ahli waris bahwa surat itu sudah lama disimpan. “Sampaikan surat itu ke pusat. Pertanyakan. Minimal ahli waris bisa dihargai terhadap apa yang pernah diberikan oleh orang tua mereka dahulu,” katanya.

Zaenal berharap apabila surat obligasi tersebut menjadi hutang negara, maka sudah menjadi kewajiban negara untuk melunasinya.

“Pak gubernur perlu segera turun tangan. Sebab, surat itu bukan saja di Aceh Barat ditemukan tapi juga ada di sejumlah kabupaten lain di Aceh,” tegas Zaenal Abidin.

Surat obligasi masyarakat Aceh sebagai bukti pinjaman nasional membeli pesawat pertama Indonesia kini terus muncul ke permukaan. Sebagain ahli waris dari surat itu menyimpannya sejak tahun 1950.

“Kami peroleh dua surat itu ketika sedang merapikan lemari dua hari lalu,” ungkap Lina, ahli waris pemegang surat obligasi didampingi sang abangnya Agus, warga Drien Rampak, Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat, kepada wartawan Jumat (23/3).

Rumah ditempati Agus di Jalan Manekro mendadak menjadi ramai didatangi sejumlah wartawan dan anggota DPRA Zaenal Abidin. Menurut Lina, mereka sempat terkejut atas temuan dua surat tersebut yang ketika dicek sama dengan surat yang miliki Nyak Sandang, warga Aceh Jaya yang beberapa hari lalu dijamu khusus oleh Presiden Jokowi di Jakarta.

Lina dan Agus mengatakan kedua surat tersebut bernominal Rp 4.600 merupakan milik kakek mereka bernama Tgk Asef dan nominal Rp 1.500 merupakan milik ayahnya Nasroddin Asef. “Apa saja yang dijual kala itu kami tidak tahu. Tentu temuan ini akan kami musyawarahkan dengan keluarga,” kata Lina.

Surat yang sama ternyata juga dimiliki Tarmizi yang merupakan anak dari Abdullah Sarong yang kini telah tiada. Pada waktu itu ia ikut memberikan pinjaman nasional sebesar Rp 800.

Tarmizi bahkan mengaku ketika orang tuanya masih hidup pernah menyampaikan langsung perihal surat itu kepada Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud. Waktu itu sempat diturunkan tim untuk menelusurinya hingga ke Jakarta. Namun waktu itu tidak ada perkembangkan lanjutan sehingga mengambang.(rizwan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved