Dari Calcutta ke Burma

DELAPAN tahun silam, Senin, 5 April 2010, sekelompok orang berpakaian kerja biru dan abu-abu, tampak

Dari Calcutta ke Burma
NYAK Sandang didampingi Khaidar, anak kandungnya dan Maturidi, pendamping Nyak Sandang saat di Jakarta dipeusijuk oleh ulama Aceh, Tgk Ahmad Tajuddin (Abi Lampisang) di Dayah Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyah, Lueng Bata, Banda Aceh, Jumat (6/4). 

Menurut catatan yang dikumpulkan oleh Subdisjarah TNI AU dalam buku “Peran TNI AU Pada Masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia 1946-1949” (2001), kebijakan menyewakan Seulawah RI-001 itu dalam rangka mengatasi keuangan yang mulai suram. Mengingat hubungan dengan pemerintah pusat yang berkedudukan di Yogyakarta terputus akibat diduduki Belanda pada 19 Desember 1948. Keadaan ini menimbulkan persoalan pembiayaan pemeliharaan pesawat yang ketika itu masih menjalani perawatan di Calcutta, India. Beruntung sewa carteran dibayar secara tunai. Biaya itu digunakan menutupi seluruh kebutuhan perawatan pesawat.

Gagasan “mencarterkan” atau “menyewakan” Seulawah berasal dari Opsir Udara (OU) II Wiweko Supeno, perwira senior Angkatan Udara dan beberapa awak pesawat lainnya. Mereka memiliki gagasan memberdayakan Seulawah dengan mengubah statusnya menjadi perusahaan penerbangan sipil, dengan tujuan komersial dan sekaligus politis. Rencana awalnya gagasan ini diwujudkan di India. Tapi ternyata tak bisa dilaksanakan. Karena di India telah ada ada perusahaan penerbangan Indian National Airways (INA).

Ide itu akhirnya terwujud di Burma. Pemerintah negara itu menyewa Seulawah untuk kegiatan-kegiatan operasi negara tersebut.

Kegiatan usaha carter pesawat itu dilembagakan menjadi satu perusahaan penerbangan yang diberi nama Indonesian Airways. Inilah yang kelak menjadi perusahaan penerbangan pertama milik Indonesia sebelum kemudian berubah menjadi Garuda Indonesia Airways.

Hasil usaha di Burma, perusahaan Indonesian Airways berhasil menambah armadanya dengan membeli satu buah pesawat jenis Dakota yang diregistrasi RI-007 dan menyewa satu pesawat lain dengan regsitrasi RI-009. Usaha Indonesian Airways berkembang pesat sedemikian rupa.

Selundupkan senjata
Selain sebagai pesawat angkut pertama milik Indonesia, Seulawah RI-001 juga sempat menjalani tugas rahasia menyeludupkan senjata, amunisi, dan alat komunikasi dari Burma ke Aceh, dengan satu kode melalui pesan radio “...pintu rumah Belangkejeren sudah selesai tetapi membawa minuman sendiri...”. yang diterima pimpinan Seulawah RI-001, OU Wiweko Soepeno. Itu artinya bahwa senjata sudah siap diangkut dan mendarat di Blangbintang dengan membawa bensin udara sendiri.

Misi rahasia yang dipimpin Wiweko itu berhasil sukses. Seulawah mendarat mulus pada malam hari di Blangbintang dengan panduan cahaya obor dan lampu mobil ke landasan. Persitiwa penting ini terjadi pada 8 Juni 1949. Senjata yang diseludupkan jenis Bren Inggris seharga US$ 8.000 Sn US$ 10.000 yang dibayarkan pada September dan Oktober 1949.

Selang bebrapa waktu kemudian dilakukan penyelundupan kedua kali dengan sasaran pendaratan di Lhoknga. Senjata yang dibawa brend Inggris enam buah, cadangan laras senjata 150 pucuk dan amunisi. Penyelundupan yang kedua ini pun dilakukan pada malam hari. (fikar w.eda)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved