Ormas Desak Polisi Periksa Sukmawati

Protes dan kecaman terhadap Sukmawati Soekarnoputri yang dinilai telah melecehkan Islam dan memicu

Ormas Desak Polisi Periksa Sukmawati
Pengunjukrasa yang menamakan diri Persaudaraan Alumni 212 berorasi di depan Masjid Raya, Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (6/4). Mereka mengecam Sukmawati Soekarnoputri yang dinilai telah menistakan agama Islam dan meminta aparat hukum segera memproses kasus tersebut. 

BANDA ACEH - Protes dan kecaman terhadap Sukmawati Soekarnoputri yang dinilai telah melecehkan Islam dan memicu kontroversi masyarakat muslim di Indonesia, terus mengalir. Bahkan, sejumlah kalangan sudah melaporkan putri Proklamator RI ke kepolisian gara-gara puisi ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakannya pada acara Indonesia Fashion Week 2018 pekan lalu di Jakarta.

Di Aceh, seperti diberitakan sebelumnya, muslimah dari berbagai organisasi/lembaga yang tergabung dalam Aliansi Muslimah Aceh resmi melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Polda Aceh, Kamis (5/4). Sementara kemarin, giliran puluhan massa yang menamakan diri Persaudaraan Alumni 212, mengecam putri Soekarno tersebut melalui aksi yang dilancarkan di jalanan, persis di halaman Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh.

Amatan Serambi, aksi tersebut dimulai usai pelaksanaan shalat Jumat atau sekira pukul 14.00 WIB. Massa berorasi secara bergantian dan mengecam Sukmawati yang dinilai sengaja merendahkan syariat Islam melalui puisinya yang membandingkan azan dan cadar dengan sesutu yang tidak wajar.

“Telah terjadi penghinaan, penodaan kepada umat Islam, terhadap syariat Islam, melalui puisi yang dibacakan anak proklamator RI, Sukmawati Soekarnoputri. Anak proklamator tapi pikirannya kotor, ini sangat memalukan,” teriak Dedi Al-Mubarak, koordinator aksi saat memulai aksi itu.

Dedi mengatakan, andai saat ini Soekarno masih hidup, tentu dirinya akan sangat sedih melihat putrinya yang menjadi penghancur negeri ini. “Bung Karno pasti akan sedih melihat anaknya menjadi pemecah belah umat, Bung Karno pasti sedih melihat anaknya menghancurkan negeri ini,” katanya.

Oleh sebab itu, massa dalam aksinya meminta pihak kepolisian untuk segera memanggil Sukmawati Soekarnoputri untuk diperiksa diproses secara hukum lalu diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Menurut Dedi, apa yang telah dilakukan Sukmawati lebih berat dari apa yang dilakukan Basuki atau Ahok, karena Sukmawati membaca puisi yang tentu telah dipersiapkan jauh-jauh hari dan sistematis.

“Ini penghinaan, penodaan. Maka Sukmawati Soekarnoputri harus segera diperiksa polisi dan diadili sesuai hukum yang berlaku. Kita dukung polisi untuk melakukan proses hukum kepada Sukmawati,” katanya.

Dedi mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu jika Islam dihina atau dilecehkan. Menurutnya, dalam Islam memang dianjurkan tidak boleh marah jika seseorang dihina, namun jika agama Islam yang dihina, tentu umat Islam harus bersatu membelanya. “Siapa lagi yang membela Islam jika bukan kita sendiri, mari bersatu. Kita desak kepolisian untuk segera memanggil Sukmawati untuk diperiksa, karena dia telah melecehkan Islam, telah menodai syariat Islam,” pungkas Dedi Al-Mubarak.

Secara terpisah, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Dr M Yusran Hadi Lc MA, mengatakan, apa yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri, membaca puisi yang di dalamnya terselip kata-kata yang melecehkan syariat Islam, adalah perbuatan yang tak bisa ditolerir. Menurut Yusran, polisi harus menindak tegas, agar memberi efek jera kepada Sukmawati dan menjadi pelajaran bagi yang lainnya.

“Meminta pihak kepolisian untuk mengusut persoalan ini dan memberi sanksi yang berat kepada Sukmawati, agar menjadi efek jera dan pelajaran baginya dan bagi orang lain. Perbuatannya ini tidak bisa ditolerir, kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim,” kata Yusran kepada Serambi.

Yusran juga meminta, meski Sukmawati telah menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam, namun proses hukum harus tetap dijalankan sampai dijatuhkan hukuman yang berat kepadanya, akibat ulahnya terkait pelanggaran hukum di Indonesia berupa penistaan atau penodaan agama.

“Dia membenturkan azan dengan kidung dan antara cadar dengan konde. Ini terkesan mengadu domba antara agama dan budaya. Azan sebagai panggilan untuk shalat tidak boleh dibandingkan dengan budaya. Begitu pula cadar atau jilbab untuk menutup aurat tidak boleh dibandingkan dengan konde yang menampakkan aurat,” demikian Dr M Yusran Hadi Lc MA.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved