Breaking News:

Pembangunan Berbasis Data

APA yang dilakukan oleh Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Aceh pada Jumat, 6 April 2018

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
Sebanyak 5.303 siswa SMA dan MA di Bireuen, Senin (9/4/2018) mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di sekolah masing-masing. 

Oleh Lukman Ibrahim

APA yang dilakukan oleh Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Aceh pada Jumat, 6 April 2018 dengan kegiatan yang diberi judul “Rapat Penyelarasan Pembangunan Pendidikan Aceh dalam Rencana Kerja Pembangunan Aceh (RKPA) Tahun 2019” yang turut mengundang Dinas Pendidikan Aceh, Bidang Perencanaan Pembangunan Keistimewaan Aceh dan Sumber Daya Manusia (P2KASDM) Bappeda Aceh, Majelis Pendidikan Aceh (MPA), dan Tim Peneliti Pendidikan Litbang Bappeda Aceh sebagai narasumber adalah contoh yang patut diapresiasi.

Hal itu sebagai satu upaya yang dilakukan Bappeda Aceh untuk memastikan Hasil Penelitian Bidang Pendidikan 2017 yang diberi judul “Kajian terhadap Pelayanan Dasar Sektor Pendidikan: Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada SMA, SMK dan SLB di Aceh” akan dijadikan sebagai dasar dalam menyusun RKPA 2019. Pertanyaannya adalah apakah setiap hasil penelitian Litbang baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota akan dilakukan hal sama untuk memastikan bahwa setiap hasil penelitian akan digunakan untuk menyelaraskan pembangunan di semua sektor yang ada diteliti? Dan pertanyaan berikutnya adalah apakah semua sektor pembangunan melakukan penelitian untuk memperoleh data sebagai basis perencanaan pembangunannya?

Kedua pertanyaan di atas, tentu ada jawabannya pada setiap bidang atau subbidang Litbang pada Bappeda Aceh dan kabupaten/kota beserta para kepala Bappeda dan SKPA/SKPK sendiri. Sebagai masyarakat, kita bisa merasakan atau bahkan menyaksikan secara kasat mata bagaimana jawaban yang sesungguhnya. Terlepas dari bagaimanapun jawabannya, mengingat keharusan yang mutlak dan manfaatnya yang luar biasa besar, maka kegiatan serupa untuk hasil penelitian setiap sektor harus dilakukan penyelarasan.

Kalau memang perencanaan pada bidang-bidang tertentu belum dilaksanakan berbasis data hasil penelitian, maka “paling kurang” saat ini harus melibatkan semua lembaga dan pemangku kepentingan terkait melakukan penyelarasan dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Aceh dan Kabupaten/Kota (RKPA/RKPK) tahun depan sambil bertekad untuk melaksanakan yang ideal dengan menggunakan hasil penelitian untuk setiap tahun anggaran berikutnya.

Ungkapan miris
Sebagai Tim Ahli bidang penelitian pendidikan pada Litbang Bappeda Aceh sejak 2015, kami sering mendengar ungkapan-ungkapan miris para pimpinan dan staf di bidang Litbang yang menyatakan bahwa belum setiap bidang di Bappeda Aceh dan kabupaten/kota termasuk pimpinan Bappeda sekalipun, yang mau memahami pentingnya penelitian dan mau membaca atau mengarahkan data yang dihasilkan oleh bidang Litbang untuk diaplikasikan dalam RKPA atau RKPK.

Dengan sikap seperti itu, mereka sering sekali mengabaikan usulan topik-topik penelitian yang diajukan oleh Litbang yang mencakup masalah seluruh bidang di Bappeda. Sebagai konsekuensi, Bappeda dan SKPA/SKPK lainnya tidak punya data yang akurat dan valid dari tahun ke tahun dalam merencanakan RKPA/RKPK. Padahal, jika sebagian penelitian penting yang kurang dimiliki keahlian oleh Bappeda diatasi dengan memberikan kepercayaan kepada para ilmuwan di perguruan tinggi secara swakelola dengan sistem lelang yang diikat dengan komitmen untuk menghasilkan data yang bisa dijadikan dasar penyusunan RKPA/RKPK, maka biaya yang dikeluarkan tidaklah besar tetapi manfatnya sangat signifikan.

Dengan kondisi yang agak “mengabaikan” keahlian para ilmuan, maka tidak mengherankan adanyapernyataan yang dilontarkan oleh beberapa pengamat di harian ini atau pada forum-forum ilmiah lainnya bahwa ternyata perencanaan RKPA dan RKPK seringhanya dilakukan secara bersama di cafe-cafeoleh segelintir staf SKPA/SKPK dan DPRA/DPRK dengan sitem copy pastedan “menyesuaikan” di sana-sini, RKPA/RKPK tahun-tahun sebelumnya, akan terus terdengar dari tahun ke tahun berikutnya. Dengan demikian, kita tidak akan pernahbisa menyaksikan perkembangan yang signifikan dengan dinamika yang cepat dalam berbagai sektor pembangunan di Daerah kita.

Sebagai contoh, dalam pertemuan untuk menyelaraskan pembangunan pendidikan saja, tidak banyak peserta yang mendapatkan informasi yang cukup memadai tentang keberadaan dan kondisi “taman terapi” dan edukasi, dan bagaimana menata dan memeliharanya pada suatu SLB. Selain itu, terbatasnya informasi tentang bagaimana orang tua kehilangan harapan, karena tidak terbinanya bakat dan minat anak mereka akibat tidak ada proses pembelajaran ke arah tersebut, dikarenakan ketiadaan guru yang memiliki kapasitas untuk mengajarkan keterampilan tertentu sebagai bekal ekspresi kebermaknaan disabilitas yang disandang oleh anak-anak mereka (Bappeda, 2017: 30-36).

Harus berperan
Sekarang, saatnya Aceh untuk lebih mengapresiasi atau memberikan tempat yang mulia bagi setiap orang yang berilmu sebagaimana Allah Swt meninggikan mereka melalui firman-Nya, “Allah akan meninggikan orang yang beriman di antara kamu dan orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11).

Sebagai satu sumber daya yang dimiliki Aceh, orang berilmu harus berperan memberikan informasi atau menyuplai data-data hasil penelitian mereka, sebagai basis penyelarasan dalam membangun setiap sektor melalui RKPA/RKPK dari tahun ke tahun. Sehingga Aceh tidak sia-sia menggelontorkan dana beasiswa melalui Komisi Beasiswa Aceh (KBA), dilanjutkan dengan Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh yang sudah hampir mencapai satu triliun rupiah (BPSDM Aceh, 2018).

Saat ini Aceh juga sedang bersiap-siap menyusun grand design pengembangan SDM untuk 15 tahun ke depan, beserta road map Beasiswa Pemerintah Aceh. Akan sia-sia implementasi dari kedua perangkat pengembangan SDM tersebut kalau nantinya output yang dihasilkan kurang mendapat tempat untuk berkontribusi dalam memikirkan dan mengisi pembangunan Aceh. Ingat, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi tempat yang tinggi kepada ilmuwannya”. Aceh memiliki ilmuwan yang tidak sedikit untuk memajukan nanggroe ini.

Jadi, marilah kita selalu berupaya menyelaraskan pembangunan setiap sektor dengan menggunakan hasil penelitian para ilmuwan semaksimalkan mungkin, agar sumber daya alam dan keuangan kita yang terbatas dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menyejahterakan rakyat Aceh.

Hal ini sejalan dengan yang diingatkan oleh Tom Alweendo, Menteri Perencanaan Ekonomi Namibia, yang menyatakan bahwa development planning is about coming up with well-researched and well-reasoned plans that prioritise and synchronise activities, given the scare resources at our disposal - Perencanaan pembangunan harus lahir melalui rencana yang didasarkan pada hasil penelitian yang masuk akal, dengan demikian kita tidak menyia-nyiakan sumber daya alam dan keuangan kita yang terbatas ini. (www.npc.gov.na). Nah!

* Lukman Ibrahim, Dosen tetap Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, dan Tim Ahli Penelitian Pendidikan pada Bidang Litbang Bappeda Aceh. E-mail: lukman.uny10@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved