Opini

Kekacauan Bahasa di Media Sosial

DEWASA ini aktivitas penyampaian pesan melalui media sosial bergerak begitu deras, hampir tak dapat dibendung

Kekacauan Bahasa di Media Sosial
google/net
Media Sosial 

Oleh Azwardi

DEWASA ini aktivitas penyampaian pesan melalui media sosial bergerak begitu deras, hampir tak dapat dibendung. Sugesti what do you think (apa yang kamu dipikirkan) telah menginspirasi dan memotivasi para netizen (warganet) untuk memainkan tombol-tombol keyboard gawainya, merangkai huruf-huruf menjadi kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Ironisnya, semangat berkata-kata secara tertulis ini tidak dibarengi dengan sikap positif penggunaan bahasa.

Acap kali kita temukan ketimpangan komunikasi (miscommunication) antara penulis dan pembaca karena penggunaan bahasa, bahkan tak jarang kita dapati kebablasan berkomunikasi (lost communication) tersebab pengolahan pesan yang tak terkendali atau yang sengaja dibenturkan. Sehingga tidak saja berakibat pada rusaknya sendi-sendi bahasa, tetapi juga hancurnya nilai-nilai persaudaraan antarkomunikan. Coba perhatikan, bagaimana maraknya kasus ujaran kebencian (hate speech) akhir-akhir ini. Umumnya semua itu berawal dari pesan-pesan yang diviralkan via jejaring sosial. Mulutmu harimaumu. Kata-katamu adalah kualitas dirimu. Demikian kata pepatah lama dan pepatah baru.

Sikap bahasa berhubungan dengan tiga hal, yaitu (1) sikap yang berkaitan dengan kesetiaan terhadap bahasa (language loyality), (2) sikap yang berkaitan dengan kebanggaan terhadap penggunaan bahasa (language pride), dan (3) sikap yang berkaitan dengan kesadaran penggunaan bahasa (awareness of the norm). Ketiga sikap tersebut tecermin dari penggunaan bahasa oleh pemiliknya, baik secara lisan maupun tulisan. Pengguna bahasa yang bersikap positif senantiasa menunjukkan indikasi kesetiaan, kebanggaan, dan kesadaran dalam tulisannya. Hal tersebut terlihat jelas, khususnya dalam pemakaian bahasa Indonesia yang berkaidah (normatif).

Seperti membuat pecal
Menulis itu tak ubahnya seperti kita membuat pecal. Betapa tidak, berbagai bahan mentah milik orang lain (daun singkong, kacang panjang, toge, kacang tanah, gula merah, dll.) kita elaborasi atau lawok sedemikian rupa, “pakek hati”, dengan takaran bumbu dan kematangan sayuran yang terukur. Hasilnya tentu pecal enak yang standar, yang bercita rasa tinggi. Dalam satu sendok yang kita angkat ke mulut terwakili semua sayuran dan bumbu. Itu artinya adonan pecal teraduk rata dengan baik, dan kesan taste rasanya mantap, maknyus.

Lebih dari itu, yang paling utama menulis itu membuat kita sehat lahir batin dunia akhirat. Karena aktivitas menulis otak kita selalu aktif berpikir; mencari ide, menyesuaikan fakta, mencocokkan data, mengelaborasi teori, merangkai kata, memvariasikan kalimat, dan menjelaskan gagasan secara efektif: baik, benar, logis, dan sistematis. Tersebab aktivitas menulis, waktu yang terpakai tidak sia-sia. Karena keasikan menulis kita tidak sempat mengumpat membicarakan keburukan orang lain, tidak ada waktu untuk ber-ghibah mencari-cari kesalahan orang lain. Akibat dari kegiatan menulis, kita memperoleh banyak amal, pahala berlimpah, bahkan pahala itu mengalir jauh sampai berakhirnya dunia ini kelak.

Menulis tidak sekadar mampu menyampaikan pesan dan pesan itu dipahami oleh pembaca. Lebih dari itu, menulis harus menggunakan bahasa yang baik, benar, logis, dan sistematis sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima secara baik oleh pembaca sebagaimana yang dimaksud oleh penulis. Untuk itu, diperlukan media perantara, yang dikenal dengan bahasa yang efektif. Bahasa yang efektif tidak lain adalah bahasa yang baik, benar, logis, dan sistematis itu. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan konteks; misalnya di mana, kapan, dan kepada siapa pesan ditujukan. Bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah atau aturan. Bahasa yang logis adalah bahasa yang bernalar, masuk akal. Bahasa yang sistematis adalah bahasa yang bersistem, beraturan, dan berstruktur. Kemampuan menulis dengan menginklutkan keempat barometer tersebutlah yang patut dikatakan terampil.

Menulis itu gampang dengan syarat dan ketentuan berlaku. Menulis merupakan suatu keterampilan yang hanya mungkin dicapai dengan beberapa syarat utama, yaitu sering berlatih dan ditunjang dengan kekayaan skemata dari banyak dan beragamnya referensi yang dibaca. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas tidak mudah, tidak semudah membalikkan martabak di wajan datar. Untuk itu diperlukan minat, mood, dan semangat yang tinggi. Tulisan yang berkualitas, antara lain, didasari atas ide yang brilian, topik yang faktual, data yang kuat, dan rujukan yang bernas. Selain itu, pengungkapannya mesti menggunakan bahasa yang baik dan benar, yaitu bahasa yang sesuai dengan konteks dan kaidah.

Tak ada yang sempurna
Saat membaca tulisan seseorang berdasarkan teori atau standard keilmuan yang berlaku, kita dapat menilai bahwa tulisan orang tersebut berada pada kategori tertentu; tahu atau paham atau terampil atau cermat atau santun. Tidak ada tulisan yang sempurna memang. Yang sempurna itu hanya milik Allah. Mulailah menulis dari level bawah terlebih dulu, yaitu tahu, paham, terampil, cermat, dansantun.

Ada sebagian orang yang berkilah bahwa menulis di media sosial, seperti e-Mail, Web, Blog, BBM (BlackBerry Messenger), FB (Facebook), WA (WhatsApp), IG (Instagram), Line, dan Steemit tidak perlu terlalu memperhatikan standar penggunaan bahasa, yang penting pembaca dapat mengerti apa yang disampaikan penulis. Kilahan tersebut tidak beralasan, bahkan bertentangan dengan teori literasi informasi. Dalam teori literasi informasi disebutkan bahwa penulis harus menyampaikan pesannya dengan menggunakan bahasa yang standar, yaitu bahasa yang berkaidah. Hal tersebut didasari atas pertimbangan bahwa suatu pesan akan tersampaikan secara baik kepada pembaca melalui penggunaan bahasa yang efektif, terutama penerapan kaidah ejaan, diksi, kalimat, dan paragraf. Perhatikan beberapa data penggunaan bahasa Indonesia pada media sosial berikut!

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved