Breaking News:

Pemerintah Perancis Berniat Tinggalkan WhatsApp dan Telegram, Ini Alasannya

Pemerintah Perancis berniat untuk tak lagi menggunakan platform layanan pesan instan WhatsApp dan Instagram.

Editor: Faisal Zamzami
Kolase/Serambinews.com
Telegram dan Whatsapp 

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Perancis berniat untuk tak lagi menggunakan platform layanan pesan instan WhatsApp dan Instagram.

Perancis berencana hijrah menggunakan layanan pesan instan terenkripsi buatan negaranya sendiri.

Alasanya, Perancis tak mau ambil risiko jika entitas lain di luar Perancis, memata-matai administrasi negaranya menggunakan aplikasi yang terenkripsi alias tidak bisa dipantau pemerintah seperti WhatsApp atau Telegram.

Baca: Kritik Jokowi, CEO AMI Group: Apakah Negeri Ini Kehabisan Stok Orang Konsisten dengan Ucapan?

Baca: Kontroversi Pergub Cambuk di LP tanda Masyarakat Peduli

Juru bicara Kementerian Digital Perancis mengatakan bahwa pihaknya sedang menyoroti penggunaan aplikasi terenkripsi asing, yang tidak memiliki server di Perancis.

"Kami harus menemukan cara untuk memiliki layanan pesan instan terenkripsi sendiri, yang tidak dienkripsi oleh Amerika Serikat (AS) atau Rusia", jelas perwakilan Kementerian Digital Perancis.

Ia menambahkan, pemerintah mulai serius menanggapi potensi kebocoran data, setelah melihat apa yang terjadi dengan Facebook akhir-akhir ini.

Pendiri Telegram, Pavel Durov sendiri berasal dari Rusia, dan Telegram sendiri baru saja diblokir di negaranya sendiri, setelah perusahaan tersebut menolak menyerahkan kunci enkripsi ke kepolisian Federal Rusia.

Baca: Jarang Terekspos, Berikut ini Deretan Foto Anak Daus Mini yang Ganteng dan Menggemaskan

Baca: Pascaoperasi Akibat Kecelakaan di MotoGP Argentina, Dani Pedrosa Siap Berlaga di MotoGP Austin 2018

Sedangkan WhatsApp, merupakan aplikasi instan yang juga mengusung end-to-end encrypted di platformnya.

WhatsApp berdiri di bawah naungan Facebook, yang saat ini sedang dihantam skandal pencurian data oleh Cambridge Analytica asal Inggris, yang diduga menyokong pemenangan Trump dalam Pilpres AS tahun 2016.

Dihimpun KompasTekno dari Tech Crunch, Rabu (18/4/2018), sekitar 20 pejabat dan petinggi aparatur sipil negara Perancis, sedang menguji coba layanan pesan instan buatan negaranya sendiri.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved