‘Hujan’ dalam Puisi-puisi Serambi Indonesia

Sedang menempuh pendidikan doctoral di University of Canberra, Australia Berawal dari ketertarikan membaca

‘Hujan’ dalam Puisi-puisi Serambi Indonesia
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA

Ragam makna ‘hujan’ dalam larik-larik puisi Serambi Indonesia
Entah secara kebetulan atau tidak, puisi-puisi yang dimuat oleh serambi Indonesia didominasi oleh imaji ‘hujan’. Untuk mengatakan bahwa para penyair melakukan konsensus menggunakan metafor ‘hujan’ dalam puisi-puisi mereka menjadi sangat naif, mengingat bahwa sangat tidak dimungkinkan para penulis ini dengan sengaja memiliki konsensus untuk menggunakan metafor yang sama.

Worthworth, salah seorang penyair Inggris, dengan gamblang mengungkapkan bahwa puisi merupakan spontaneous overflow of feeling dimana puisi lahir dalam jelmaan spontan lewat indera sang penyair. Kerangka ini menjadi argumentasi kuat ketidakmungkinan para penyair ini melakukan ‘perselingkungan’ metafor dalam pengkreasian puisi-puisi mereka.

Dalam puisi - puisi yang diterbitkan oleh Serambi ‘hujan’ merupakan personifikasi dari rentetan pengalaman kehidupan sang penyair apakah dalam bentuk privat maupun lewat realitas sosial yang dipersepsi dan dicerna yang dengan daya magis tangan seorang penulis menjadi serpihan katakata yang menghampar di atas kertas buram dan meresonansikan fenomena yang ditangkap oleh indra.

Kemalawati, misalnya, dalam Perjalanan Jauh menggunakan hujan sebagai metapor yang merepresentasikan pengalaman privat yang juga mewakili pengalaman komunal. Hujan menjadi titik kulminasi kepedihan. Kehidupan tidak lebih dari ‘awan’ pekat yang membuat banyak sekat yang terus memuncak ketika hujan datang.

Hujan hanya menambah intensitas kepedihan yang semakin cadas yang metaforkan daun-daun seperti seorang ibu yang begitu lelah dengan bayi dalam kandungannya dan hanya menemukan kematian sangbayi di episode akhir. Deras hujan menambah beban/ daundaun /seperti beban letih ibu/mengandung. Ironis dan tragis dimana setelah menempuh perjalanan di tengah hujan dalam badai dan kematian adalah penunggu waktu, Aku sedang berkemas / sambil menunggu hujan reda / kurapikan selimut di tubuhnya / bayi yang tak akan kuajak serta.

Hamdani Chamsyah juga merangkum konteks hujan dengannada yang sama dimana hujan mengartikulasikan kondensasi kesedihan. Sayang/ Di hari pertama Oktober/gerimis menjelma air mata kesedihan/ untuk kematian. Dalam ‘Menggambar Kesepian’, Chamsyah mengungkapkan bahwa hujan memperparah kondisi psikologis dengan apa kau gambarkan kesepian? /Dengan sepotong malam yang baru saja ditinggal hujan/ Dari suara sisa lebat yang menjadi gerimis menyapa/ dedaun dekat jendala/ Dan ricit burung kecil ditinggal ibu yang kedinginan. Melati Z memperlihatkan bagaimana hujan menjadi personifikasi yang mengevokasi kenangan yang menyeruakkan kembali goresan luka yang menganga, Tapi setiap hujan kau tetap ingat masa lalu/ Kau tambahkan lagi goresan di kepala/ Kau ungkit lagi pedih perih lama/Kau tak bisa terima hujan turun, akhirnya/Hujan kadang tak seindah puisi Sapardi lagi. Jika Kemalawati memaknai ‘hujan’ sebagai kulminasi kepedihan, Putra sebaliknya memberikan pemaknaan ‘hujan’ sebagai butiran penuh berkah.

Pengalaman privat yang merupakan representasi pengalaman komunal dikemas olehPutra lewat pengalaman individual yang sedang dihadapkan pada kompleksitas masalah wajah kami saban hari menadah ke langit / melihat awan gelap di udara / berharap ada butiran-butiran air setelahnya. Hujan adalah ilham untuk meredakan bahkan menghilangkan kegalaun kini hujan tak lagi datang / tak ada dedaunan dan ilalang yang basah / mata air hilang / merindukan hujan / entah esok atau lusa / sembari simpul-simpul doa yang / melayang/di udara/ kami merindukan hujan / karena kata lain dari hujan adalah kerinduan.

Tema kehidupan kembali ini mengingatkan kita pada kemampuan magis Khalil Gibran dalam ‘Song of the rain’ dimana Gibran berhasil mempersonifikasi hujan sebagai entitas yang membuat kegersangan menjadi sebuah kehidupan, I am beautiful Pearls..... I am a mesenger of mercy.

Sementara, Syah R dalam ‘Kepada Chan’ menampilkan sisi yang berbeda dari hujan. Dalam pembuka puisinya Syah R tidak menampilkan hujan menjadi penting dalam kehidupan privat dan komunal Bukan hujan yang membawa kepedihan / Bukan hujan yang menjadikan perpisahan / Bukan hujan yang menerbitkan tangisan. Namun secara perlahan Syah R memberikan makna hujan sebagai … sebaris puisi / Hujan hanya setangis semesta / Hujan adalah sedalam cinta.

Hujan, sebagai kekuatan luar magis, muncul di akhir puisinya Hujanlah yang membawamu pergi / Hujanlah yang meninggalkan gigil ini / Hujanlah yang menjadikan aku benci / Hujanlah yang menggamit hati / untuk bangun dari mimpi-mimpi ini.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved