Opini

Investasi vs Cambuk

DALAM posisi geografis Aceh yang berada pada ujung Barat Pulau Sumatera, merupakan garda depan wilayah

Investasi vs Cambuk
SERAMBI/M ANSHAR
WARGA menggunakan telepon selular untuk merekam eksekusi cambuk terhadap delapan pelanggar syariat Islam di halaman Masjid Jamik Luengbata, Banda Aceh 

Oleh Taufiq Abdul Rahim

DALAM posisi geografis Aceh yang berada pada ujung Barat Pulau Sumatera, merupakan garda depan wilayah yang sangat potensial untuk pengembangan ekonomi, karena mempunyai sumber daya alam yang beragam terutama sumber mineral yang berasal dari dalam perut bumi. Kemudian juga berbagai potensi utama pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan lain sebagainya.

Hal itu semestinya disikapi dengan bijaksana dan cerdas cara mengelola sumber alam sebaik mungkin demi kesejahteraan rakyat Aceh. Apa yang diupayakan pemimpin Aceh pasca-Pilkada 2017 lalu, yaitu komitmen yang kuat menuju “Aceh Hebat” untuk pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Satu upaya yang semakin gencar dilakukan adalah dengan cara mengundang investor untuk dapat beraktivitas secara ekonomi dan mampu memberikan “dampak titisan ke bawah” (trickling down effects), terutama dalam usaha meningkatkan produktivitas perekonomian rakyat.

Ini merupakan suatu kebijakan yang sangat membanggakan. Akan tetapi mestilah dipahami bahwa dalam analisis risiko politik dan ekonomi, semangat mengundang, menghadirkan serta melibatkan para investor dalam pembangunan ekonomi Aceh akan berdampak ganda, baik positif maupun negatif bagi Aceh. Pertama, pembangunan akan berlangsung secara explosive dan meningkat secara drastis, sehingga akan meningkatkan perekonomian dalam masyarakat.

Kedua, dengan investasi yang dilakukan oleh para pemilik modal khususnya internasional, ini akan berakibat kepada pemindahan kekayaan Aceh ke negara asal pemilik modal, apakah atas nama negara, perusahaan multinasional, serta perusahaan dan atau perseorangan yang melakukan aktivitas bisnis yang sudah mampu melakukan lintas negara maupun global.

Industrialisasi ekonomi
Investasi merupakan satu usaha meningkatkan tambahan uang dan barang modal dalam aktivitas perekonomian, agar dapat berlangsung secara cepat dalam proses industrialisasi ekonomi. Dampaknya juga cepat serta meluas baik terhadap peningkatan produksi, meningkatkan jumlah tenaga kerja, mengatasi persoalan kemiskinan Tetapi penyerahan sebagian kekayaan dan pemilikan sumber daya alam menjadi milik pemegang modal, meskipun dengan berbagai argumen secara ekonomi menguntungkan.

Selanjutnya dalam memahami politik dan perekonomian yang sudah berani melakukan aktivitas lintas negara dan kawasan regional ataupun internasional, ini perlu disadari bagi setiap pelaku yang terlibat dalam aktivitas ekonomi. Bahwa, ada konsekuensi yang mesti dihadapi dan ini diperlukan kesiapan yang matang dan bijaksana, karena hal ini tidak saja hanya akan tertuju kepada pengelola pemerintahan yang notabene sebagai pengambil keputusan dalam pembangunan ekonomi dan politik, tetapi juga kepada rakyat sebagai bahagian penting dalam kehidupan berbangsa serta bernegara.

Aktivitas perekonomian Aceh ke depan untuk mengejar ketertinggalan dan mempercepat proses pembangunan, ini sedang dan telah diupayakan menghadirkan para “investor” dengan berbagai macam kegiatan yang akan mengelola sumber kekayaan alam Aceh. Ada sesuatu yang bebas dari permasalahan, tetapi seluruhnya dapat membanggakan penampilan ekonomi dan kenaikan standar kehidupan pada jangka panjang (Kenichi Ohmae, 1990).

Tetapi hal iitu tentunya tidak semua negara ataupun daerah dapat melakukannya, bahkan ini sama sekali tidak membanggakan bagi negara seperti Brazil, Chili ataupun Indonesia. Dilajutkan oleh Ohmae, sangat tidak dipercayai kekayaan alam yang dimiliki tidak mampu melakukan produktivitas nasional yang sejahtera. Namun hal ini merupakan kenyataan yang berlaku di Indonesia, khususnya Aceh.

Oleh karena itu, ada sesuatu yang mesti diperbaiki serta dipersiapkan jika benar-benar ingin melakukan investasi. Konon pula akan dilakukan lintas negara ataupun menghadirkan investor dalam taraf internasional, yaitu dengan menyelesaikan permasalahan tidak memperhitungkan berbagai kemungkinan tim qanun investasi yang baik dan membantu kelancaran pada tahap awal melakukan kegiatan produktivitas, mesti melibatkan tenaga kerja masyarakat Aceh itu sendiri dari berbagai kepakaran, keahlian, kemahiran, serta keterampilan pada berbagai level pekerjaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved