Adab Menyaksikan Cambuk

HUKUMAN cambuk merupakan satu turunan dari sanksi-sanksi yang diberikan kepada manusia

Adab Menyaksikan Cambuk
SERAMBI/M ANSHAR
WARGA menggunakan telepon selular untuk merekam eksekusi cambuk terhadap delapan pelanggar syariat Islam di halaman Masjid Jamik Luengbata, Banda Aceh, Jumat (20/4). Dua dari delapan orang yang dicambuk tersebut merupakan pelaku prostitusi online yang ditangkap beberapa waktu lalu di Banda Aceh. 

Oleh Adnan

HUKUMAN cambuk merupakan satu turunan dari sanksi-sanksi yang diberikan kepada manusia disebabkan melanggar perintah dan mengerjakan larangan Allah Swt. Semisal, rajam bagi pezina yang sudah menikah, cambuk 100 kali bagi pezina lajang (QS. An-Nur: 2), 80 kali cambuk bagi penuduh orang berzina tanpa saksi (QS. An-Nur: 4), potong tangan bagi pencuri (QS. Al-Maidah: 38), dan qishash (QS. Al-Baqarah: 178-179). Kehadiran sanksi-sanksi itu bertujuan untuk memberikan kemaslahatan yang lebih besar, baik kepada pelaku maupun masyarakat umum yang terlibat dan menyaksikan hukuman. Artinya, sanksi-sanksi itu diberikan bukan untuk menganiaya manusia (QS. Ali Imran: 108, Yunus: 44, Al-Kahfi: 49).

Selain itu, sanksi yang diberikan Allah Swt dalam setiap pelanggaran bukan hanya dimaksud untuk pelaku kejahatan semata. Tapi juga dimaksudkan dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang menyaksikan. Maka hukum cambuk bukanlah sebuah momen untuk gaya-gayaan, menghabiskan jutaan anggaran negara, agar dianggap peduli syariat Islam, dan biar merasakan akibat dari kejahatan yang dilakukan. Jika ini landasan dalam setiap prosesi hukum cambuk, maka hukum cambuk menjadi kering nilai dan distorsi dalam kehidupan sosial. Padahal, hukum cambuk dilaksanakan di depan umum dimaksudkan untuk membumikan nilai-nilai islami (islamic values) dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Di depan umum
Untuk itu, cambuk harus dilaksanakan di depan umum agar dapat membumikan nilai dan perubahan diri dan sosial dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Meskipun demikian, para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna cambuk di depan umum. Semisal firman Allah Swt, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka cambuklah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali cambuk, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nur: 2).

Ibnu Abbas memaknai sekumpulan orang-orang beriman yakni minimal 2 orang atau lebih, Az-Zuhri mengatakan minimal 3 orang lebih, Hasan al-Bashri mengatakan 10 orang, Quraish Shihab menyebutkan 3 atau 4 orang lebih, sebagian lain mengatakan minimal disaksikan oleh 4 orang sesuai dengan jumlah saksi zina. Ragam pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa para ulama hanya menyebutkan batas minimal orang-orang beriman yang menyaksikan hukum cambuk. Artinya, prosesi cambuk dapat dilaksanakan di mana saja, baik di masjid, lembaga permasyarakatan (LP), halaman kantor, maupun tempat-tempat lain yang terjamin keamanan dan dapat disaksikan oleh beberapa, atau sebagian, dan atau seluruh manusia beriman.

Dugaan penulis, mungkin inilah sebab Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) No.5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Hukum Acara Jinayat, yakni ‘uqubat cambuk dilaksanakan di tempat terbuka dan dapat dilihat oleh orang yang hadir (sebagaimana penjelasan di atas), tidak boleh dihadiri oleh anak-anak, dan tempat pelaksanaan cambuk di Lapas (pasal 30). Jika ini dilakukan maka tidaklah berbenturan dengan konsep fikih yang telah ditetapkan para ulama klasik dan kontemporer di atas. Tapi, penting diberikan pemahaman dan sosialisasi menyeluruh dan holistik kepada seluruh umat beriman di Aceh perihal pelaksanaan prosesi cambuk di Lapas, agar tidak terjadi kesalahpahaman (miscommucation).

Beberapa adab
Akan tetapi, bagi orang-orang yang menyaksikan hukum cambuk hendaknya mengedapankan adab-adab mulia, di antaranya: Pertama, menjadi saksi dalam penegakan hukum Allah Swt di muka bumi. Setiap orang yang menyaksikan hukum cambuk hendaknya bertekad bahwa kehadirannya dalam prosesi cambuk untuk menjadi saksi taubat pelaku, dan penegakan hukum Allah Swt. Sebab, Allah Swt mengancam orang-orang yang enggan menegakkan hukum Allah Swt di muka bumi dengan label kafir, zalim, dan fasik (QS. Al-Maidah: 44, 45, dan 47). Artinya, orang yang tidak menegakkan hukum Allah Swt bentuk dari keingkaran dan kekufuran, kezaliman, dan ketidaktaatan kepada Allah Swt. Maka kehadiran dalam prosesi cambuk bertujuan agar menjadi saksi menegakkan hukum Allah Swt.

Kedua, mengambil pelajaran. Kehadiran seseorang dalam prosesi cambuk hendaknya bertujuan untuk mengambil pelajaran (‘ibrah), agar dapat menghindarkan diri dari segala bentuk kemungkaran (Qs. Ali Imran: 191). Orang-orang yang menyaksikan prosesi cambuk dengan tujuan tersebut, mereka akan berlinang air mata, takut kepada Allah Swt, dan semakin konsisten untuk menjaga diri dari kemungkaran. Maka menyaksikan prosesi cambuk bukanlah untuk menghina, mencaci-maki, dan mengucapkan sumpah-serapah kepada pelaku kemungkaran yang dieksekusi. Sebab, realitas menunjukkan bahwa selama ini banyak orang menyaksikan prosesi cambuk bukan untuk mengambil pelajaran, tapi hanya untuk menghina dan mencaci-maki pelaku semata.

Ketiga, untuk mendoakan pelaku. Sanksi yang diberikan Allah Swt dalam setiap pelanggaran dapat menjadi medium taubat bagi pelaku. Karena Allah Swt sangat menginginkan hamba-Nya untuk bertaubat dari setiap kesalahan yang diperbuat (QS. At-Tahrim: 8). Pun, Allah Swt memiliki sifat ghafur, yakni siap mengampuni dosa hambaNya yang bertaubat (QS. Ghafir: 3, 7-9). Maka sanksi merupakan bagian dari medium taubat kepada Allah Swt. Sebab itu, pelaku jinayah patut bersyukur dengan digelar prosesi cambuk, karena dapat menghapus dan menghilangkan dosa yang telah dilakukan. Bayangkan jika dicambuk tidak dilaksanakan, maka akan menjadi bumerang bagi pelaku saat diadili di pengadilan Allah Swt di akhirat kelak. Lebih baik mendapatkan hukuman di dunia, dari pada mendapatkan hukuman di akhirat secara kekal abadi.

Karena itu, orang-orang yang menyaksikan hukum cambuk hendaknya mendoakan pelaku jinayah, agar diampuni kesalahan oleh Allah Swt dan suci dari dosa. Bukan cacian, makian, dan sumpah-serapah yang mereka inginkan, akan tetapi doa-doa dari seluruh orang-orang yang menyaksikan agar ia konsisten untuk bertaubat kepada Allah Swt. Karena Allah Swt tidak akan mengubah seseorang sebelum ia merubah diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Untuk itu, kehadiran setiap orang untuk menyaksikan cambuk hendaknya dapat memberikan sugesti kepada pelaku agar bertaubat kepada Allah Swt dan tidak akan mengulangi perilaku tersebut.

Keempat, sanksi sosial. Kehadiran setiap orang yang menyaksikan cambuk merupakan bentuk dari kritik sosial agar memberikan efek jera kepada pelaku (QS. An-Nur: 2). Karena secara psikologis, hukuman di depan umum akan memberikan efek jera secara psikis kepada pelaku. Yakni muncul sikap malu pada pelaku jinayah agar tidak mengulangi lagi. Sebab itu, prosesi hukum cambuk orientasinya bukan menyiksa dan memberikan efek jera secara fisik, tapi memberikan efek jera secara psikis kepada pelaku. Selain itu, cambuk yang digelar di depan umum akan memberikan pengalaman empiris bagi khalayak yang ikut yang menyaksikan. Maka penting agar mengedepankan adab dalam setiap aktivitas seorang mukmin, termasuk adab dalam menyaksikan hukum cambuk. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved