ESDM: Waspadai Gas Beracun

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, mengingatkan masyarakat di sekitar lokasi sumur minyak

ESDM: Waspadai Gas Beracun
Warga korban ledakan sumur minyak illegal berada di sebuah bangunan sementara di Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Aceh Timur, Aceh, Kamis (26/4). Sedikitnya 55 kepala keluarga atau 198 jiwa pengungsi dampak ledakan dan kebakaran sumur minyak illegal itu belum mendapat penanganan memadai. ANTARA /Rahmad 

BANDA ACEH - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, mengingatkan masyarakat di sekitar lokasi sumur minyak yang untuk tetap waspada meski semburan api sudah padam. Hal itu disampaikan Kadis ESDM Aceh, Akmal Husen kepada Serambi, Kamis (26/4).

“Biasanya, setelah api gas padam, dari dalam sumur migas akan ke luar gas hidrokarbon, sulfida dan CO, untuk beberapa waktu. Gas itu berbahaya bagi kesehatan manusia. Karena itu masyarakat yang ingin melihat lokasi kejadian harus berada minimal 50 meter dari lokasi sumur gas itu,” kata Akmal didampingi Staf Geologi, Mukhlis.

Dikatakan, biasanya dalam semburan air berlumpur setelah kebakaran bercampur gas beracun yang berbau tidak sedap. Kalau siang, semburan itu terlihat putih karena disinari matahari. Gas beracun itu pun cepat terurai ke udara karena pemanasan matahari. Tapi, pada malam hari gas beracun itu tidak menguap ke udara dan berada sekitar 1-2 meter dari lokasi semburan.

“Makanya pada malam hari, kami minta masyarakat tidak mendekat ke lokasi. Kita takut ketika gas beracun itu ke luar dari sumur gas terhirup masyarakat. Hal itu bisa membuat sesak napas, bahkan bisa menyebabkan kematian jika sudah terlalu banyak terhirup gas itu,” ungkapnya.

Sampai sore kemarin, kata Akmal, Tim Geologi Dinas ESDM sudah mengukur pada jarak 50 meter dari sumur gas. Namun gas beracun itu belum terdeteksi, karena udara masih panas sehingga langsung terurai di udara. “Tapi, kita harus selalu waspada sampai sumur migasnya normal,” ujarnya.

Akmal mengimbau masyarakat yang melintasi sekitar sumur gas tersebut untuk menggunakan masker untuk menghindari terhirupnya gas beracun.

Berdasarkan hasil peninjauan, observasi dan wawancara dengan masyarakat sekitar lokasi kebakaran, pipa yang masuk ke sumur gas yang menyemburkan api itu sebanayk 40-an batang atau kedalaman pengeborannya sekitar 240 meter. Lokasi sumur yang mengeluarkan api itu, menurut laporan masyarakat yang selamat dari ledakan sumur migas tersebut, adalah pengeboran yang paling dalam. Sebelumnya, kata Mukhlis, pada kedalaman pengeboran 80 meter sudah ke luar minyak mentah.

Akmal mengatakan, pihaknya bersama perwakilan Pertamina EP I Ranto Peureulak, Rizal, Pemkab Aceh Timur, Polres, Dandim, dan Tim Kementerian Menko Polhukam akan terus melakukan observasi ke lapangan sampai diketahui penyebab ledakan dan semburan api dari sumur gas baru yang di bor warga Desa Pasir Putih.

Anggota DPRA, Iskandar Usman Al Farlaky mengatakan, sejauh ini belum ada upaya konkrit dari pemerintah terhadap sumur minyak yang dieksploitasi warga secara tradisional di Kecamatan Ranto Peureulak. Hal itu disampaikan Iskandar saat menjadi narasumber tamu by phone dalam talkshow Radio Serambi FM, Kamis (26/4), membahas Salam (Editorial) Harian Serambi Indonesia berjudul ‘Perlu Keberanian Tertibkan Sumur Minyak Masyarakat’.

“Harus ada jalan keluar terhadap persoalan ini. Bagaimana masyarakat yang menggantungkan hidupnya tak merasa dirugikan, aktivitas mereka itu aman. Misalnya menggunakan alat-alat safety, dan mereka juga diberitahu SOP eksploitasi minyak,” kata dia.

Hadir sebagai narasumber internal dalam talkshow bertajuk Cakrawala itu adalah Sekretaris Redaksi Harian Serambi Indonesia, Bukhari M Ali yang dipandu host, Dosi Elfian.

Dikatakan, api yang sebelumnya setinggi pohon kelapa sudah padam karena ada gejolak di permukaan tanah yang memunculkan air ke permukaan. “Tapi lokasi tambang masih berbahaya sekali, karena di beberapa radius harus dibatasi warga setempat tidak boleh mendekat. Sebab ada bau gas yang sangat menyengat,” ujarnya.

Dikatakan, masyarakat setempat memahami akan bahaya penambangan minyak tersebut. Namun, karena faktor ekonomi dan sosial mendorong mereka melakukan penambangan rakyat itu. “Kebanyakan pemuda setempat, mantan kombatan yang tidak memiliki pekerjaan. Dengan adanya tambang rakyat ini, mereka dapat bekerja di sana,” kata Iskandar yang juga putra daerah Ranto Peureulak.(her/una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved