Opini

‘Seumaloe’, Bukti Aceh Orang Pintar

DALAM sejarahnya endatu (nenek moyang) orang Aceh dikenal sebagai bangsa pemberani (ceubeuh) dan pintar (carong)

‘Seumaloe’, Bukti Aceh Orang Pintar
IST
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, makan nasi sebungkus berdua dengan Ketua Yayasan Aceh Carong, Suryadi Djamil, di teras Bandar Udara (Bandara) Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu (28/1/2018) sekitar pukul 15.00 WIB. 

Oleh Hasan Basri M. Nur

DALAM sejarahnya endatu (nenek moyang) orang Aceh dikenal sebagai bangsa pemberani (ceubeuh) dan pintar (carong). Di antara berbagai kepintaran endatu orang Aceh ada yang baru terbukti di zaman modern sekarang ini, tatkala teknologi sudah berkembang pesat. Ketika dikemukakan pada masanya banyak orang yang tidak memercayainya, bahkan ada yang menertawakannya.

Kepintaran orang Aceh diwariskan secara turun-temuran kepada generasi pelanjut dan dikenal sebagai bagian dari kearifan lokal. Orang-orang Aceh terdahulu menuruti dan mengikuti berbagai petuah endatu ini dengan baik. Sebaliknya, generasi modern melakukan pengujian (ulang) terhadap beberapa petuah dan praktik endatu-nya.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mengemukakan satu dari sekian kepintaran endatu orang Aceh, yaitu kebenaran yang terkandung dalam seumaloe. Dalam pemahaman orang Aceh semua peristiwa atau benda berbahaya tersedia penjinaknya. Orang Aceh percaya bahwa Allah Swt menciptakan dunia ini dalam keadaan seimbang serta berpasang-pasangan; ada kiri ada kanan, ada ingat ada lupa, ada pahit ada tawar, ada penyakit ada obatnya, dan seterusnya.

Atas landasan berpikir seperti ini lalu bermunculanlah pemikiran dan percobaan-percobaan terhadap semua permasalahan yang dihadapi manusia, sehingga lahirlah berbagai pengetahuan hingga beragam teori. Generasi terbaru tinggal mengamalkan saja berbagai pemikiran yang lahir dari sejumlah uji coba yang pernah dilakukan endatu-nya pada masa lampau.

Irasional tapi benar
Dalam budaya Aceh peristiwa penjinakan satu benda dengan memanfaatkan benda lainnya disebut sebagai seumaloe. Dengan bahasa lain, seumaloe adalah suatu tindakan disertai pemanfaatan benda-benda tertentu hingga mampu melemahkan, melunakkan, atau mengalahkan peristiwa atau benda lainnya. Dalam prosesi seumaloe terkadang secara kasat mata dianggap irasional, mistik, dan tidak masuk akal. Namun, pada sisi lain, beberapa penelitian di era modern memberi bukti akan kebenaran seumaloe.

Sebagai contoh, ketika seseorang terkena percikan cairan cabai ke mata kiri, maka orang Aceh masa lampau akan mengambil tindakan membasuh sambil menggosok-gosok kaki kanan orang yang terkena cabai itu. Sebaliknya, jika percikan cabai terkena pada mata kanan, maka akan dibasuh dan digosok-gosok kaki kirinya.

Tindakan membasuh dan menggosok kaki (dari telapak kaki sampai mata kaki) ini memberi pengaruh berupa berkurangnya rasa perih pada mata yang berada pada posisi sebaliknya. Sepintas, praktik ini terlihat bodoh dan sia-sia, sehingga muncul kalimat pelecehan: Ureung jameun bangai, hana buet (Orang zaman dahulu bodoh, tidak ada kerjaan). Apa hubungannya terkena cabai di mata kiri dengan telapak kaki kanan dalam pengobatannya?

Akan tetapi, penelitian kedokteran di abad modern menunjukkan bahwa saraf dalam tubuh manusia, dari otak ke badan hingga ujung kaki, berada dalam posisi menyilang. Seseorang yang tersumbat pasokan darah pada otak sebelah kiri akan merasakan dampak kesulitan menggerakkan bagian tubuh sebelah kanan (tangan kanan dan kaki kanan). Untuk membantu menggerakkan saraf pada otak kanan diperlukan pijatan khusus (reflexy) pada telapak kaki kiri. Demikian juga sebaliknya. Ini menjadi bukti bahwa endatu orang Aceh mempunyai pengetahuan yang melampaui zamannya.

Contoh lainnya tentang seumaloe adalah untuk melumpuhkan seekor buaya dapat digunakan batang pucuk pelepah pohon nipah dan menusuknya pada kulit buaya. Ini agak sulit diterima akal sehat karena pucuk nipah sangat lembut/lembek, sementara kulit buaya sangat keras. Akan tetapi, ketika praktik ini dilakukan pada buaya maka kulitnya akan tertusuk. Endatu orang Aceh tentu sudah melakukan berbagai uji coba dalam menaklukkan buaya dan ternyata dari berbagai eksperimen ditemukan penjinaknya pada pucuk nipah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved