Adakah Homonim dalam Bahasa Aceh?

STKIP BBG Banda Aceh Kita mengenal homonim sebagai bagian dari relasi makna atau semantik

Adakah Homonim dalam Bahasa Aceh?
SERAMBI/SAID KAMARUZZAMAN
Kepala Balai Bahasa Aceh Muhammad Muis berbicara dalam penyuluhan Bahasa Indonesia untuk media massa yang berlangsung di aula kantor BPSDM Aceh 

Oleh: Hendra Kasmi, M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah

STKIP BBG Banda Aceh Kita mengenal homonim sebagai bagian dari relasi makna atau semantik. Menurut KBBI (2008:1159) relasi makna adalah hubungan, perhubungan, pertalian makna. Jenis-jenis relasi makna adalah sinonim, antonim, homonim, homofon, homografi, hiponim, hipernim, ambiguitas, dan redundansi.

Homonim merupakan kata yang sama lafal dan ejaannya tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan. Artinya, kosakata yang masuk dalam kelompok homonim mempunyai bentuk yang sama tetapimaknanya berbeda. Contohnya kata ‘tahu’ bermakna ‘mengerti atau memahami’ sedangkan makna lainnya adalah sejenis makanan yang terbuat dari kedelai.

Contoh lainnya adalah kata ‘bisa’ yang bermakna ‘mampu’ sedangkan makna lainnya adalah racun yang terdapat pada binatang liar. Dalam kaidah bahasa Aceh, minim sekali sumber yang menjelaskan tentang omonim. Penulis hanya menemukan beberapa kosakata dalam percakapan bahasa Aceh sehari-hari yang barangkali bisa digolongkan dalam homonim.

Contohnya, kata teungoh, dalam bahasa Aceh bermakna posisi (arah titik) di antaradua sisi atau banyak sisi. Contohnya, gob nyan geuduek bak kurusi teungoh (beliau duduk di kursi tengah). Selain itu, teungoh juga bermakna sedang. Misalnya, ayah teungoh geukeumawee (ayah sedang memancing). Makna lainnya dari kata teungoh adalah angkat/ naik.

Contohnya keubue nyan ka jiteungoh u darat (kerbau itu sudah naik ke daratan), moto nyan han ek jiteungoh gunong (mobil itu tidak sanggup menanjaki pegunungan). Ada lagi kata bak yang bermakna pada/ sepada misalnya haba nyan na geupeutroh cit bak lon (kabar itu ada juga beliau sampaikan kepada saya). Kata bak bisa juga bermakna pohon misalnya bak rambot bineh blang nyan ka jikoh (pohon rambutan pinggiran sawah tu sudah ditebang)

Dalam bahasa Aceh kita juga mengenal ata tari. Satu sisi tari merupakan kata sifat yang bermakna cantik/paras rupawan. Misalnya tari that si dara yan (cantik sekali gadis itu). Sementara di sisi lain, tari juga bermakna sejenis pertunjukan seni yang mengandalkan gerakan tubuh dan diiringi dengan irama musik tertentu.

Misalnyakamoe teungoh meungieng urueng meunari (kami sedang menonton tarian) atau Sarah sidroe peunari (Sarah seorang penari). Peukap ermakna mengancingi (kancing baju/celana) misalnya Khaidir teungoh jibantu peukap boh bajee adek jih (Khaidir sedang membantu mengancingi kemeja adiknya) bisa juga bermakna sulut (menyalakan/menghidupkan api) misalnya ayah tengoh geupeukap apui bak ladang (ayah sedang menyulut api di ladang).

Kosakata lainnya adalah kata siblah yang bermakna separuh atau sebagian. Misalnya siblah teuk apam nyan ka jijok keu Mahmud (separuh lagi erabi itu sudah dia kasih untuk Mahmud). Kata siblah juga bermakna tata/pindah, peusiblah (menata/ memindahkan barang-barang pada tempat tertentu supaya rapi) sedangkan meusiblah (sudah tertata rapi).

Contoh kalimatnya ka peu siblah siat barang nyo bek meukapa (tolong kamu tata/pindahkan barang ini supaya tidak berantakan). Kata siblah tata/ pindah) pada dasarnya berkaitan dengan makna siblah (separuh/sebagian) yakni penataan barang bertumpuk pada satu bagian ruangan. Seiring waktu kata siblah sudah bermakna penataan barang-barang supaya rapi dan tidak mesti bertumpuk pada satu bagian.

Kosakata yang mempunyai ragam makna juga terdapat pada dialek pesisir barat Aceh. Contohnya adalah kata cantek. Kata cantek bermakna antik/paras rupawan, misalnya jih cantek that (dia cantik sekali).

Selain itu, kata cantek juga bermakna korek api gas, misalnya mak geupekap apui ngon cantek (ibu menyulut api dengan korek gas). Itulah beberapa contoh kosakata dalam bahasa Aceh yang mempunyai esamaan kata namun berbeda makna.

Contoh tersebut hanya penulis dapatkan melalui pengalaman berbahasa seharihari. Banyak sekali relasi makna yang belum terungkap dalam bahasa Aceh. Butuh penelitian-penelitian yang relevan oleh pegiat bahasa maupun masyarakat luas untuk menguak tabir semantik dalam bahasa Aceh, khususnya tentang homonim. Kita berharap pemerintah Aceh maupun lembaga bahasa Aceh menyusun pedoman resmi tata kaidah bahasa Aceh yang menyangkut banyak aspek baik ejaan, morfologi, fonologi,semantik, dan lain sebagainya. Selain itu, juga dapat menggalakkan penggunaan bahasa Aceh di tempat publik, mendukung program studi bahasa Aceh pada perguruan tinggi dan pelajaran bahasa Aceh tingkat sekolah agar bahasa warisan endatu ini bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved