Breaking News:

Salam

Jangan Lagi Tergiur Godaan Minyak Mentah

Kisah-kisah pilu yang menyayat hati di balik tragedi kebakaran massal pemburu minyak mentah di Dusun Bhakti

Petugas Polres Aceh Timur, mengawasi petugas PT Pertamina EP saat melakukan penyaringan minyak dari lapisan atas permukaan air di Gampong Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Sabtu (28/4/2018). SERAMBI / SENI HENDRI 

Kisah-kisah pilu yang menyayat hati di balik tragedi kebakaran massal pemburu minyak mentah di Dusun Bhakti, Gampong Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur pada Rabu (25/4) lalu, diwartakan Harian Serambi Indonesia, Minggu kemarin, di bawah judul ‘Duka dan Misteri di Balik Tragedi Sumur Minyak’.

Membaca kisah itu, tahulah kita bahwa sedikitnya ada enam dari 23 korban tewas terbakar yang ternyata baru pertama kali ikut meleles minyak (menciduk tumpahan minyak yang menggenang di tanah). Sebagiannya malah awalnya sedang tidur nyenyak, lalu pintu rumahnya digedor teman dan dia diajak ikut meleles lewat tengah malam.

Kejadian seperti ini, antara lain, dialami Wahyuni, istri Hasbuh. Mereka sedang tidur lelap malam itu, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Yang mengetuk ternyata Mur, sang tetangga. Mur mengajak Wahyuni pergi ke lokasi semburan minyak yang berjarak 400 meter dari rumahnya. Ia langsung ikut, meninggalkan suaminya yang masih mengantuk. Maklum saat itu sudah di atas pukul 01.00 WIB.

Hasbuh baru tersadar bahwa istrinya sudah tak lagi berada di rumah saat ia tersentak mendengar suara letupan dahsyat dari sumur minyak 400 meter dari rumahnya. Dia berlari mencari istrinya. Saat terlihat, tubuh sang istri ternyata sedang dilalap api. Ia tak sempat menolong karena kobaran api begitu panas dan ia saksikan tubuh istrinya dilumat api dari jarak 7 meter.

Nah, kebanyakan kisah pilu itu sama seperti yang dialami istri Hasbuh, Wahyuni. Oleh karenanya, agar tragedi seperti ini tidak berulang, maka setiap orang yang di wilayahnya terdapat sumur minyak, tua maupun baru, harus benar-benar menahan diri agar tak tergiur godaan minyak mentah yang ditambang atau dibor secara ilegal sebab risikonya sangatlah besar.

Janganlah menekuni atau menerjunkan diri ke dalam pekerjaan yang selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan keselamatan orang lain dan lingkungan.

Sudah tiga kali sejak 2015 sumur minyak eks peninggalan Belanda ataupun PT Asamera di Ranto Peureulak yang menimbulkan kebakaran dan menelan korban jiwa. Mestinya tiga peristiwa itu sudah cukuplah menjadi iktibar bagi warga Aceh Timur dan warga lainnya di Aceh yang di daerahnya terdapat potensi minyak dan gas.

Sumber daya mineral itu sedianya dikelola secara profesional oleh perusahaan yang memiliki kapasitas dan pengalaman untuk itu. Bukan dikelola secara amatiran yang ujung-ujungnya dapat menyebabkan kerugian fatal.

Untuk itu, aparat penegak hukum di wilayah yang kondisi mineral dan hidrokarbonnya seperti ini harus tegas untuk mencegah dan menindak warga yang mengebor minyak secara ilegal, secara tidak berhak.

Pihak BPBA atau BPBD juga harus proaktif melakukan upaya mitigasi agar kebakaran tidak tersulut kembali.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved