Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Mengembalikan Makna ‘Taman Siswa’

ADALAH Ki Hajar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan paling tersohor di Indonesia, Menteri Pendidikan pertama dan pencetus “Taman Siswa”

Tayang:
Editor: hasyim
Empat siswa SMA sederajat di Kota Lhokseumawe, Selasa (27/2) sekitar pukul 11.00 WIB diamankan Satpol PP ketika sedang asyik ngopi di sebuah warung kopi (warkop) di saat jam belajar. 

Oleh Muazzah

ADALAH Ki Hajar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan paling tersohor di Indonesia, Menteri Pendidikan pertama dan pencetus “Taman Siswa”. Semboyannya, ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handa yani (di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang memberikan dorongan) masih dipakai di negeri ini. Bagian terakhirnya, tut wuri handa yani bahkan disematkan sebagai semboyan pendidikan Indonesia sampai detik ini.

Makna “memberikan dorongan dan motivasi dari belakang” dalam tut wuri handayani ditujukan untuk para pendidik. Sejatinya, pendidik selalu punya peran lebih dari sekedar pemberi ilmu untuk siswanya. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar mengajar, yang harus diindahkan oleh para pendidik. Jika hanya mau memberikan ilmu, maka Google jauh lebih luas ilmunya ketimbang guru. Ada hal yang tidak dapat dipenuhi oleh mesin pintar tersebut, dan hanya dapat diberikan oleh guru. Motivasi, ya! Dorongan yang diberikan oleh guru dari hati ke hati kepada anak didiknya.

Dewasa ini, fungsi utama pendidik tersebut seakan mulai terkikis dari nurani para guru. Banyak guru yang hanya datang ke sekolah untuk mengajar, menuntaskan kewajibannya tanpa mau tahu kondisi psikologis siswanya. Tidak peduli apakah siswanya bersemangat atau malas-malasan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), yang penting absennya penuh, dan gajinya full diterima. Bahkan, beberapa kasus mengungkapkan ada banyak guru yang justru menjadi para predator bagi siswanya. Ironis memang melihat kondisi dunia pendidikan di negeri ini.

Sebaliknya, siswa juga tak lagi punya rasa hormat terhadap guru-gurunya. Omongan guru dianggap angin lalu, dan tak sedikit siswa yang berani berbuat tak senonoh terhadap gurunya. Bahkan kasus terakhir meninpa guru Budi, yang tewas di tangan siswanya sungguh tak pernah terbayangkan sama sekali. Siswa yang harusnya menghormati orang yang berjasa dalam memberikan ilmu dan keterampilan hidup baginya, justru membalasnya dengan perlakuan kasar.

Pergeseran nilai sekolah
Sekolah sebagai pusat pendidikan formal kini kian mengalami pergeseran nilai. Jika dulu, sekolah dianggap salah satu tempat sakral, dimana para guru sangat dihormati, orang tua menaruh kepercayaan penuh, dan siswa dengan motivasi penuh menuntut ilmu. Namun, sekarang sekolah bagaikan bagian dari bisnis yang sangat menggiurkan. Sekolah-sekolah berpicu dalam memperoleh siswa dengan berbagai program andalannya, pun begitu, orang tua juga sangat selektif dalam memilih sekolah yang dianggap bagus untuk anaknya. Sehingga, dewasa ini, sekolah bagus identik dengan sekolah mahal.

Bukik Setiawan (2018), psikolog pendidikan menyebutkan bahwa banyak orang tua yang salah kaprah dalam memilih sekolah yang tepat untuk buah hatinya. Para orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah pavorit, dengan tiga ciri: Pertama, rata-rata nilai ujian sekolah dan ujian nasional, ini merupakan indikator utama sekolah incaran para orang tua. Sekolah-sekolah dengan peringkat kelulusan nilai UN tinggi jelas dipercaya sebagai sekolah dengan kualitas akademik baik.

Kedua, jumlah prestasi berupa piala dan gelar juara, ini juga merupakan indikator yang mudah untuk dilihat. Sekolah-sekolah dengan target juaranya akan sangat menkondisikan anak-anaknya pada iklim kompetisi, dan; Ketiga, persentase lulusan yang melanjutkan ke sekolah favorit.

Kesemua ciri tersebut sangat berorientasi pada nilai dan angka capaian, bukan pada proses yang dilalui oleh siswa. Sekolah-sekolah tersebut sangat terfokus pada akademik yang hanya mampu mendeskripsikan beberapa kecerdasan dan mengabaikan kecerdasan lainnya. Padahal setiap orang memiliki kecerdasan yang sangat beragam, dan berbeda antara satu dan lainnya. Sehingga, jika anak memiliki kecerdasan yang tidak dianggap penting di sekolah pavorit pilihan orang tuanya, maka anak tersebut akan hanya menjadi pecundang yang jelas sulit bersaing dengan siswa lainnya.

Sekolah seharusnya bukanlah tempat untuk saling mengalahkan, mengukur keunggulan dengan kacamata kuda. Sekolah idealnya tempat menggali potensi unik setiap anak dan memupuknya hingga menjadi kekuatan individu yang nantinya akan menjadi bekal hidup di masyarakat. Taman Siswa telah menerapkan sistem pendidikan ideal tersebut, jauh sebelum Finlandia menggunakannya. Ki Hajar Dewantara dengan tegas mengatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya.

Menguatkan akar budaya
Bukankah semua tahu, bahwa hanya melalui pendidikan, manusia mampu membentuk sebuah peradaban. Dengan pendidikan, manusia akan berbudaya, mampu berfikir kritis, dan berwawasan luas. Harry Santoso dalam bukunya Fitrah Based Education (2017), menjelaskan bahwa pendidikan adalah kunci peradaban yang mencakup kemajuan, perkembangan bagi masyarakat dalam dimensi ruang dan waktu tertentu.

Siapa tak tak tahu pepatah lama “Roma tidaklah dibangun dalam satu malam”, yang jelas menyatakan bahwa peradaban tidak terbentuk dalam waktu yang singkat. Masa itu, Roma adalah salah satu pusat peradaban dunia yang tentunya memiliki kualitas pendidikan cemerlang. Banyak para ilmuwan tersohor dengan berbagai teori ilmiahnya yang hingga saat ini masih terus dimanfaatkan oleh umat manusia. Sehingga, jelas sekali bahwa tak akan ada peradaban tanpa adanya pendidikan.

Sekolah-sekolah di Indonesia semestinya lebih mengutamakan pendekatan kontekstual, menyentuh kearifan lokal di mana sekolah tersebut dibangun. Bukan lagi sekolah-sekolah dengan sistem setralisasi, bahkan condong berkiblat pada negara luar (kurikulum internasional). Karena sebenarnya, Indonesia terkenal dengan keragaman budayanya, bukan pada keseragaman budaya. Sepatutnyalah setiap daerah memiliki otonomi dalam merancang sistem pendidikannya. Masyarakat pesisir Aceh, misalnya, butuh sekolah yang dapat membekali anak-anaknya ilmu kelautan dan perikanan yang nantinya dapat menyejahterakan keluarganya. Masyarakat kaki gunung Dieng, butuh sekolah yang mengajari anak-anaknya dalam memanfaatkan kekayaan hutannya.

Dengan begitu, remaja di pesisir dan di gunung, tidak perlu mengadu nasib di ibu kota, bersaing dalam dunia perindustrian. Dengan bekal ilmu yang cukup, para remaja nantinya dapat membangun daerahnya masing-masing. Bahkan, pemeritah tidak perlu repot-repot untuk mendatangkan ahli-ahli dari luar negeri. Indonesia akan mampu menjadi negara maju jika mau berbenah, karena jumlah remaja akan menjadi bonus demografi pada 2025. Tentunya dengan generasi yang memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik.

Maka sudah saatnya kita mengembalikan makna “Taman Siswa” dalam sistem pendidikan Indonesia. Mengembalikan warna pendidikan dengan menghargai setiap keunikan anak, menjadikan sekolah semenyenangkan taman bermain, dan menjadikan sekolah yang menumbuhkan setiap fitrah yang ada dalam diri anak.

Muazzah, Master of Teacher Education, Tampere University, Finland, anggota FAMe Chapter Pidie Raya. E-mail: muazzahmuhammad@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved