Sesibuk Apapun di Perantauan, Warga Aceh Diingatkan Jangan Lupakan Pendidikan Agama

Islam yang merupakan agama suci, paling masuk akal dan dapat dipeluk oleh siapa saja, harus lebih hebat dari siapapun

Sesibuk Apapun di Perantauan, Warga Aceh Diingatkan Jangan Lupakan Pendidikan Agama
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Mantan Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar saat memberi tausyiah dalam Forum Samudra di Balai Pengajian Taman Iskandar Muda Cabang Pasar Minggu Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018) malam 

Laporan Fikar W.Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Tokoh Aceh yang juga Wakil Gubernur Aceh periode 2007-2012, mengingatkan masyarakat Aceh di luar Aceh tetap memperhatikan agama, termasuk pendidikan agama dalam bentuk pengajian.

"Sesibuk apapun di perantauan, tetap perhatikan agama. Jangan sampai kita masyarakat Aceh yang jumlahnya sedikit, konglomerat nasionalnya sedikit, orang-orang hebat dan berpengaruh di level nasional juga semakin sedikit, justru di bidang agama dan pendidikan keislaman mengalami kemunduran," ingat Nazar saat memberi tausyiah dalam Forum Samudra di Balai Pengajian Taman Iskandar Muda Cabang Pasar Minggu Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018) malam.

Baca: Sanggar Kesenian Aceh UGM Raih Juara Umum dalam Kompetisi Tari Dunia di Paris

"Kita di luar Aceh jangan berada pada sekedar posisi berdagang di kaki lima, tetapi harus lebih dari itu, termasuk jangan melupakan agama dan pendidikannya," seru Nazar.

Ikut hadir dalam acara itu Tgk. Ibrahim Nisam, salah seorang tokoh masyarakat Aceh Pasar Minggu alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga.

Hadir juga beberapa guru pengajian yang selama ini aktif menjadi guru pengajian di balai tersebut.

Lebih jauh, Nazar meminta kaum muslimin termasuk rakyat Aceh yang dikenal paling pertama menjadi muslim di Asia Tenggara, tidak lupa bercermin pada kesuksesan bangsa lain, termasuk kaum yang berbeda agama.

Baca: Kembali Bertambah, Warga Aceh Barat Perlihatkan Surat Obligasi Pesawat

Contohnya Yahudi yang begitu sukses menggerakkan dan memberikan nilai maksimum pada setiap diaspora mereka, adalah karena mereka tidak melupakan nilai agamanya.

Agama mereka itu eksklusif untuk mereka saja dan jika ada Yahudi yang pindah agama maka status Yahudinya pun dihilangkan.

Karena orang-orang Yahudi itu memperlakukan agama mereka selain sebagai agama juga sebagai politik dan budaya yang saling melekat.

Baca: Warga Aceh Ternyata juga Beli Kapal Haji

"Dari dulu ketika mereka berdiaspora ke negara-negara lain maka para saudagar dan pedagang Yahudi itu selalu memulai membangun sinagok sebagai tempat ibadah, komplek kuburan khusus dan pendidikan meskipun mereka sangat sibuk dengan karir ekonomi, seni budaya dan lain-lain," kata Muhammad Nazar.

Islam yang merupakan agama suci, paling masuk akal dan dapat dipeluk oleh siapa saja, harus lebih hebat dari siapapun.

"Maka kita semua diaspora Aceh meningkatkan kualitas, membangun pendidikan agama, membangun tempat ibadah dan memimpin negeri," seru Nazar.(*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved