Pedagang Ikan Asin Diajak Pakai Asap Cair
Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengadakan Program Kreativitas Mahasiswa
JANTHO - Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengadakan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M). Dalam sosialisasi itu, mereka mengajak pedagang untuk memakai asap cair sebagai pengawet ikan asin di Gampong Pulot, Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Kegiatan itu berlangsung dari 5-11 Mei 2018.
Kegiatan itu dilaksanakan tim PKM-M Teknik Kimia Unsyiah, yang diketuai Nurhaliza dan empat anggotanya yaitu Rozzana, Fauzi Ihsan, Muhammad Gian Fickron, dan Muhammad Naufal Alya. Diharapkan dengan pengabdian mahasiswa, masyarakat Pulot yang rata-rata pedagang ikan asin dapat lebih peduli dalam menjaga kebersihan makanan.
Hal itu diungkapkan pembimbing tim yang juga dosen FT Unsyiah, Dr Sri Aprilia MT kepada Serambi, Senin (7/5). Dia mengatakan, mahasiswanya menyosialisasikan penggunaan asap cair sebagai pengawet ikan organik menggantikan formalin yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, pihaknya juga mengedukasi masyarakat tentang pengemasan ikan asin agar higienis.
“Program kreativitas mahasiswa ini didanai oleh Kemenristekdikti. Kami berharap masyarakat dapat teredukasi tentang pembuatan ikan asin dari awal hingga pengemasan menggunakan sealer,” ujar Sri Aprilia. Selama ini, lanjutnya, pedagang asal Gampong Pulot yang berjualan di sepanjang pantai Lhok Seudu mengemas ikan asin menggunakan koran bekas.
Dengan asap cair dan pengemasan menggunakan hand sealer (penyegel kemasan), kata Sri, ikan asin bisa tahan lama dan terhindar dari mikro-organisme penyebab penyakit seperti lalat. “Selama ini mereka berjualan di pinggir jalan, dimana kendaraan sering berlalu lalang. Hal ini menyebabkan debu menempel dan lalat berdatangan sehingga ikan asin menjadi kurang higienis,” jelasnya.
Sementara itu Ketua Tim PKM-M, Nurhaliza mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan sosialisasi asap cair kepada kelompok usaha ikan asin di Gampong Pulot. Selain itu, pihaknya juga memberikan lima unit hand sealer kepada masing-masing kelompok usaha. “Respons dari masyarakat Pulot sangat luar biasa. Sebelumnya mereka tidak mengetahui apa itu asap cair, yang ternyata bisa digunakan sebagai pengawet yang aman bagi manusia,” kata dia.
Disebutkan, dalam beberapa hari ke depan timnya akan mempraktikkan penggunaan asap cair, mulai dari membeli ikan segar, merendamnya dalam asap cair yang dicampur air, penjemuran, hingga pengemasan menggunakan hand sealer.
Ketua Tim PKM-M Teknik Kimia Unsyiah, Nurhaliza, menambahkan, asap cair membuat proses pengasinan ikan lebih higienis. Penyebabnya, karena cairan yang berasal dari uap hasil pembakaran kayu dan tempurung itu mengandung antibakteri sehingga lalat tidak mendekat. Dikatakan, setelah direndam dalam air yang dibubuhi asap cair, ikan tersebut tidak perlu diasapi lagi dengan cara manual.
“Asap cair ini juga beraroma asap dan mengandung antibakteri. Ikan yang sudah direndam lalu diasinkan dan dijemur, jadi tidak perlu diasapi lagi,” ujar mahasiswi semester 6 Teknik Kimia itu. Ditambahkan, fungsi asap cair hampir sama dengan formalin dalam hal mengawetkan, namun tidak berbahaya bagi kesehatan karena terbuat dari bahan alami.(fit)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/berbagai-ikan-asin-yang-dijual-di-kawasan-lhokseudu_20170726_121129.jpg)