Medsosmu Harimaumu

Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Drs Supriyanto Tarah MM mengingatkan masyarakat di Aceh supaya berhati-hati

Medsosmu Harimaumu
google/net

Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Drs Supriyanto Tarah MM mengingatkan masyarakat di Aceh supaya berhati-hati dalam menggunakan media sosial (medsos). “Jangan main-main dengan media sosial, media sosial ini tujuan bercanda dan bersenang-senang, tapi bisa membawa kita masuk tahanan. Contoh ibu yang kemarin ditangkap, contoh ibu itu yang mengomentari sesuatu tapi ujungnya bermasalah dengan polisi,” kata Supriyanto Tarah.

Seperti diberitakan, seorang ibu warga Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, dibekuk polisi terkait komentarnya di jejaring facebook mengenai insiden bom bunuh diri di Surabaya yang dianggap bernada SARA. Wanita kelahiran Surabaya itu berkomentar atas postingan orang lain terkait aksi terorisme di tanah air.

Lalu, seorang PNS di Simeulue juga harus berurusan dengan pihak berwajib setelah membuat status di akun facebook-nya yang dianggap mengandung unsur ujaran kebencian atau hate speech. Selain itu seorang pejabat di Kota Lhokseumawe, juga ditangkap polisi karena dianggap menyebar ujaran kebencian terhadap pemerintah dan institusi Polri melalui akun facebook-nya, lagi-lagi terkait serangkaian insiden teror yang terjadi baru-baru ini.
Menurut Brigjen Pol Supriyanto Tarah, kalimat-kalimat yang dianggap SARA, menebar kebencian, agar tidak dishare begitu saja ke media sosial. Karena kalimat-kalimat itu berpotensi menjadi masalah. “Jangan bercanda di medsos, anak-anak kita harus kita ingatkan,” kata Wakapolda Aceh.

Maraknya ujaran kebencian dan informasi bohong (hoax) di linimasa media sosial dinilai sebagai salah satu faktor penyebab tingginya radikalisme di Indonesia. Media sosial, separti Facebook, WhatsApp, Twitter, dan lain-lain saat ini memang sangat efektif untuk menyampaikan informasi bohong, memfitnah, melakukan provokasi dan sejenisnya. “Belakangan ini yang ada di medsos adalah saling menghujat, saling mengejek, saling menjelekkan, saling memaki, saling fitnah, saling adu domba. Ini fakta,” kata Presiden Jokowi.

Padahal, seharusnya medsos digunakan untuk sarana komunikasi dan informasi yang positif. Makanya, kita sependapat dengan Wakapolda Aceh, yang sangat menyayangkan perbuatan orang-orang yang menyalahgunakan medsos untuk menghujat, memfitnah, dan memprovokasi sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat.

Harus diingatkan menyebarkan berita kebencian bertentangan dengan UU ITE pasal 28 ayat 2, sampai hukuman pidananya maksimal enam tahun denda maksimal sampai Rp1 miliar. Oleh sebab itu, kita mengajak semua pihak untuk menggunakan medsos secara penuh tanggung jawab.

Orang bijak berpesan, jejaring sosial itu harus menjadi instrumen membangun peradaban yang saling menghormati, mewartakan kebenaran, dan menyuarakan suara rakyat sejujur-jujurnya. Jangan gunakan medsos untuk alat penghujat, menghina, dan menyakiti orang lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved