Opini

Trik Mengalahkan Nafsu

IMAM al-Ghazali berkata, dalam beribadah kepada Allah Swt, ‘abid (orang yang beribadah) disibukkan

Trik Mengalahkan Nafsu
PEDAGANG mulai mempersiapkan buah-buahan, terutama kurma dalam jumlah banyak. 

Oleh Muhazzir Budiman

IMAM al-Ghazali berkata, dalam beribadah kepada Allah Swt, ‘abid (orang yang beribadah) disibukkan oleh penghalang-penghalang yang terdiri dari empat macam, yaitu dunia, makhluk, setan dan nafsu. Ia menegaskan bahwa ‘abid wajib menghilangkan penghalang-penghalang itu dari dirinya dengan cara apa pun, supaya sampai kepada maksudnya.

Antara metode yang diberikan al-Ghazali untuk menghilangkan penghalang tersebut adalah dengan cara zuhud pada dunia, mengasingkan diri dari makhluk, memerangi setan dan mengalahkan nafsu. Namun al-Ghazali mengakui bahwa nafsu merupakan yang paling berat dan paling dahsyat dari yang lain. Ia tidak mampu dikalahkan dengan satu kali saja.

Oleh karena itu, perlu ada trik khusus yang dapat mengalahkan nafsu dengan lebih mudah. Trik adalah akal muslihat yang menemui solusi baik untuk keluar dari permasalahan yang rumit dengan tidak rumit. Menghadapi tantangan yang berat seperti nafsu memang harus menggunakan trik yang jitu. Nafsu itu bagaikan musuh dalam selimut, yang sangat sukar dihilangkan, karena ia berada dalam diri kita. Berbeda dengan tiga penghalang yang lain, semuanya berada di luar diri kita. Karena itulah, al-Ghazali mengakui bahwa nafsu adalah yang paling dahsyat dari empat macam penghalang ibadah itu.

Namun sebelum menelusuri lebih jauh, harus jelas terlebih dulu mengenai hakikat nafsu yang dimaksudkan di sini. Hakikat nafsu yang dimaksudkan di sini adalah suatu unsur atau esensi yang ada pada manusia yang membawa kepada kuat marah dan kuat syahwat. Dengan bahasa lain, sering disebut dengan istilah nafsu amarah. Nafsu dengan pengertian tersebut adalah tidak akan kembali dan menjauh dari Allah Swt, karena ia merupakan tentara setan.

Karakteristik nafsu
Ketahuilah, nafsu itu ada tujuh macam jika dilihat dari sisi karakteristiknya. Namun dari sisi eksistensinya, nafsu itu tetap hanya satu saja. Pertama, nafsu amarah, yaitu nafsu yang selalu mendorong manusia kepada keburukan atau kemaksiatan. Kedua, nafsu lawwamah, yaitu nafsu yang sudah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, namun masih banyak terpeleset dalam perbuatan maksiat, sehingga membuatnya selalu menyesali diri.

Ketiga, nafsu mulhamah, yaitu nafsu yang sudah mengenali kotoran-kotoran yang halus seperti riya, ujub, sombong, dengki, cinta dunia, dan lain-lain dari pada penyakit-penyakit batin, tapi ia belum bisa melepaskan diri dari kotoran-kotoran halus itu.

Keempat, nafsu muthmainnah, yaitu nafsu yang sudah bersih dari kotoran-kotoran halus dan telah berganti sifat-sifat tercelanya menjadi sifat-sifat terpuji, sudah berakhlak dengan akhlak Allah yang jamaliyah berupa kasih sayang, lemah lembut, kemuliaan, dan lain-lain. Di sini awal mula seseorang sampai kepada Allah, tetapi ia masih belum bersih dari kotoran-kotoran yang halus sekali seperti syirik khafi dan cinta menjadi pemimpin.

Kelima, nafsu radhiyah yaitu nafsu yang telah sampai maqam fana, tetapi ia masih melihat diri telah fana sehinga dapat membawanya kepada riya. Keenam, nafsu mardhiyyah yaitu nafsu yang telah fana dari fana dan sudah tenggelam dalam lautan tauhid. Dan, ketujuh, nafsu kamilah, yaitu nafsu yang sudah sempurna (kamil).

Berdasarkan klasifikasi nafsu itu, nafsu yang harus dikalahkan adalah nafsu amarah, lawwamah, dan mulhamah. Tiga nafsu tersebut tidak masuk dalam panggilan Allah Swt, “Hai jiwa muthmainnah (yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.” QS. al-Fajr: 27-30.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved