561 Guru belum Terima Sertifikasi

Sebanyak 561 guru bersertifikasi hingga kini belum menerima satu bulan pun tunjangan sertifikasi mereka

561 Guru belum Terima Sertifikasi
DOK.DPRA
SULAIMAN ABDA,Wakil Ketua DPRA 

* Sisa 2017 Capai Rp 21 Miliar

BANDA ACEH - Sebanyak 561 guru bersertifikasi hingga kini belum menerima satu bulan pun tunjangan sertifikasi mereka jatah Januari-Desember 2017, sehingga dana dari pemerintah pusat itu diperkirakan masih tersisa Rp 21 miliar lagi, seperti disampaikan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf pada acara penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Keuangan Pemerintah Aceh 2017 dalam Sidang Paripurna Khusus di Gedung DPRA, Rabu (24/5).

Wakil Ketua I DPRA, Drs Sulaiman Abda Msi menyampaikan data guru yang belum menerima dana sertifikasi atau sekarang disebut tunjangan profesi guru (TPG) kepada Serambi di Banda Aceh, Kamis (24/5). Menurutnya, hal ini sesuai laporan para guru kepada Anggota DPRA. Kemudian persoalan ini nyambung dengan pernyataan Gubernur Irwandi bahwa masih ada sisa TPG 2017 mencapai Rp 21 miliar.

Sulaiman Abda menyebutkan sesuai laporan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Saridin MPd kepada pihaknya, guru bersertifikasi di daerah ini mencapai 8.034 orang, sehingga pagu TPG setahun yang disalur Pemerintah Pusat untuk Aceh Rp 340 miliar lebih. Namun, kalau jatah 2017 masih ada sisa Rp 21 miliar, kata Sulaiman, berarti masih banyak guru bersertifikasi di Aceh belum menerima tunjangan ini. “Apa masalah dan faktor penyebabnya, ini yang akan kami minta penjelasan kepada Kadisdik Aceh yang baru, Bapak Saridin,” kata Sulaiman.

Sulaiman menyarankan agar Kadisdik Aceh membuat kebijakan inovatif dan kreatif agar para guru yang sudah bersertifikasi, namun jam mengajarnya belum mencukupi 24 jam/minggu sebagai salah satu syarat bisa menerima tunjangan ini, agar mulai 2018 salah satu syarat ini dan berbagai syarat lainnya bisa terpenuhi untuk mendapat TPG itu. Sedangkan kepada para guru, Sulaiman berharap agar bersedia pindah mengajar ke berbagai pelosok di Aceh yang masih kekurangan guru, sehingga terpenuhi jam mengajar terhadap satu mata pelajaran sebagai salah satu syarat mendapat TPG.

“Kalau guru bersertifikasi selalu banyak menumpuk di kota-kota, sehingga sudah melebihi kebutuhan, maka kejadiannya kembali seperti tahun lalu, sangat besar sisa dana sertifikasi guru setiap akhir tahun. Ini artinya, dana sertifikasi itu belum bermanfaat maksimal terhadap peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan para guru di Aceh,” ujar Sulaiman Abda.

Dikonfirmasi terpisah, Kadisdik Aceh, Saridin mengungkapkan alasan dana itu masih tersisa karena belum semua guru bersertifikasi menerima. Pertama, jam mengajar guru bersertifikasi itu belum memenuhi 24 jam/minggu terhadap satu mata pelajaran yang sesuai dengan sertifikasi mata pelajaran dimiliki. Sebaliknya, meski tercapai jam mengajar 24 jam/minggu, namun tetap tak diakui kepala sekolah, jika pelajaran yang diajar tak semuanya sesuai dengan sertifikasi itu.

“Kemudian harus ada surat keterangan tunjangan profesi yang dikeluarkan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud. Selanjutnya, harus ada surat pernyataan tanggung jawab muktlak dari kepala sekolah tempat guru bersertifikasi mengajar,” jelas Saridin.

Jadi solusi terhadap persoalan ini, kata Saridin, benar seperti disampaikan Sulaiman Abda, mereka harus pindah ke sekolah yang jam mengajar profesinya masih banyak. Misalnya ke daerah agak pinggiran kota. Jika tidak, maka kata Saridin, TPG itu selalu tersisa, meski secara matematis sisa dana ini tak merugikan negara alias tak mati karena bisa digunakan untuk hal yang sama pada tahun anggaran berikutnya. (her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved