Pengadaan Laptop Terindikasi Korupsi

Pengadaan komputer dan laptop untuk siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)

Pengadaan Laptop Terindikasi Korupsi
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
Koordinator GeRAK Aceh Barat, Edy Syah Putra menyerahkan laporan fakta kepada Wakil Ketua DPRK Nagan Raya, Samsuardi terkait persoalan pencemaran debu batubara di Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir dan dan reklamasi paska tambang di Alue Buloeh, Kecamatan Seunagan Jumat (25/5) yang berlangsung di Kantor DPRK Suka Makmue.SERAMBI/SA'DUL BAHRI 

* Nilainya Mencapai Rp 1,22 Miliar

BLANGPIDIE - Pengadaan komputer dan laptop untuk siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) senilai Rp 1,22 miliar diduga terindikasi korupsi.

Pengadaan sejumlah fasilitas untuk menunjang program e-learning Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tersebut menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus) 2015. Namun dalam perjalanannya, proses pengadaannya diduga terjadi mark-up harga dan tidak sesuai spesifikasi, sehingga menimbulkan kerugian negara mencapai ratusan juta.

Selain itu informasi yang diperoleh Serambi, dalam proses perencanaan pun terindikasi sejumlah masalah, salah satunya anggaran senilai Rp 1,22 miliar itu dipecahkan beberapa bagian, sehingga pengadaan yang awalnya direncanakan harus dilelang, menjadi pekerjaan penunjukan langsung (PL).

Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Abdya telah memeriksa sejumlah saksi, seperti pejabat pengadaan, mantan kepala Bappeda Abdya, mantan Kadis pendidikan Abdya, sejumlah pejabat di Dinas Pendidikan Abdya hingga lima rekanan pengadaan laptop dan komputer.

Kajari Abdya Abdur Kadir SH MH melalui Kasi Intel Kejari Abdya Dasril SH MHum saat dikonfirmasi Serambi membenarkan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan kasus tersebut. Saat ini, sebutnya, jaksa sudah memeriksa 25 saksi yang terlibat dalam proyek pengadaan komputer dan laptop tersebut.

“Iya benar, kita mulai melakukan pemeriksaan sejak 2 Mei lalu,” ujar Abdur Kadir SH MH melalui Kasi Intel Kejari Abdya Dasril SH MHum. Sebenarnya, kata Dasril, dalam pengadaan e-learning TIK itu bukan saja pengadaan laptop dan komputer, tapi juga ada pengadaan proyektor lengkap dengan layarnya dengan total anggaran Rp 1,22 miliar.

Dasril menargetkan sebelum Idul Fitri ini, pihaknya sudah rampung melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah pihak terkait, termasuk tujuh saksi tambahan dan sudah mengetahui jumlah kerugian negara.

“Jika berkasnya rampung sebelum Lebaran, maka langsung kita umumkan siapa-siapa saja tersangkanya,” sebutnya.

Namun, Dasril enggan berkomentar saat disinggung bahwa dalam pengadaan laptop dan komputer itu juga melibatkan sejumlah pejabat penting lainnya di Abdya, bahkan sejumlah oknum anggota DPRK Abdya juga ikut kecipratan uang tersebut.

“Itu sudah masuk materi, tidak bisa saya jelaskan, kecuali sudah ada tersangka. Sabar dulu ya, kalau sudah ada hasil kerugian negara akan kita beberkan semuanya, sampai peran mereka,” ujarnya.

Senin Ekspos Perkara
Sementara Kasi Intel Kejari Abdya Dasril SH MHum mengungkapkan untuk menyelidiki kasus itu, jaksa telah memeriksa 25 saksi dan akan menambah tujuh orang saksi lainnya. Tujuh saksi tambahan itu, diduga orang yang mengetahui proses pengadaan kegiatan.

“Insya Allah, Senin 28 Mei ini kita akan melakukan ekspos di BPKP untuk menghitung kerugian negara. Karena, kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap 25 orang saksi,” terangnya.(c50)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved