Ramadhan Mubarak

Mendidik Generasi Milenial

INDONESIA diproyeksikan akan mengalami bonus demografi, di mana populasi usia produktif lebih mendominasi

Mendidik Generasi Milenial
Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng

Perlahan tapi pasti, dalam dunia nyata, mereka akan tumbuh menjadi individu-individu yang tak mampu bersosialisasi, bahkan tak mampu berkomunikasi secara verbal dengan kelompok masyarakat lainnya. Umumnya mereka juga tak mampu memanajemen diri dari sisi waktu karena terlalu fokus dengan dunia maya mereka.

Oleh karena itu, setiap kita harus menyadari dengan benar, bahwa generasi milenial ini harus dididik dengan cara yang unik, berbeda dengan metoda pendidikan untuk generasi sebelumnya. Kecenderungan generasi ini yang mampu mengakses semua jenis informasi melalui gawai mereka, menjadikan mereka sangat sulit untuk percaya dengan satu sumber informasi saja, sehingga tidak mudah untuk masuk secara lebih dalam ke kehidupan mereka.

Kecenderungan generasi ini yang tidak terlalu suka kepada aturan yang mengekang, juga merupakan satu alasan mengapa mereka lebih cenderung untuk menghindari kehidupan sosial yang nyata. Bagi mereka, kehidupan maya lebih menghargai dan mengapresiasi eksistensi mereka. Oleh karena itu, para pendidik, terutama orang tua, dituntut untuk lebih sabar dan lebih toleran dalam memberi batasan-batasan bagi mereka.

Bagaimanapun, agama merupakan tolok ukur utama yang memberi batasan bagi kehidupan manusia. Namun, pemahaman agama yang sering bersifat dogmatis tak mampu dicerna dengan mudah oleh generasi milenial, sehingga hal ini juga menjadi satu tantangan tersendiri bagi pendidik atau orang tua dalam menumbuhkan nilai-nilai agama dalam diri mereka.

Satu cara yang dapat diaplikasikan untuk itu adalah menjelma menjadi teman bagi mereka, atau menyediakan untuk mereka seorang teman yang taat secara agama. Teman merupakan pendidik utama karakter seseorang, meskipun orang itu tidak menyadarinya. Semua sisi pendidikan bisa dialirkan tanpa sadar melalui pertemanan.

Nabi Muhammad saw juga menyebutkan dalam satu hadisnya bahwa agama seseorang pun akan terdidik oleh agama temannya. “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).

Secara keseluruhan, akan sangat ideal, jika seluruh komponen masyarakat bisa menjelma menjadi “teman yang benar” bagi generasi milenial, sehingga pada 2030 nanti, mereka bukan sekadar menjadi orang tinggi produktivitasnya, tetapi juga taat beragama.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved