Alquran untuk Dibaca, bukan Disimpan

Pemerintah Aceh memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman

Alquran untuk Dibaca,  bukan Disimpan
SERAMBI/M ANSHAR
Penceramah, Dr Fauzi Saleh MA menyampaikan ceramah pada peringatan Nuzulul Quran 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (1/6/2018). SERAMBI/M ANSHAR 

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadhan 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (1/6) malam. Kegiatan yang diawali shalat Isya, tarawih, dan witir itu menghadirkan Ustaz Dr Fauzi Saleh MA sebagai penceramah.

Dalam ceramahnya, Fauzi Saleh menyampaikan ketika Nabi Muhammad saw menyendiri di Gua Hira, maka datanglah Jibril yang mengatakan “wahai Muhammad, Iqra (bacalah)”. Namun Rasulullah menjawab “saya tidak bisa baca”. Kemudian dirangkullah oleh Jibril, dan pada kali ketiga Rasulullah menjawab “apa yang saya baca?”.

Fauzi Saleh menyampaikan ada pengulangan-pengulangan yang diperintahkan oleh Jibril kepada Rasulullah, yang oleh para ulama mengatakan pengulangan itu penuh dengan makna.

“Tujuan utama Alquran untuk dibaca, bukan untuk disimpan. Rasulullah mengatakan bacalah Alquran karena ia akan datang pada hari kiamat dan memberikan syafaat bagi yang membacanya. Semakin banyak membaca, maka semakin tinggi nilai kemanusiaan kita,” katanya.

Fauzi Saleh melanjutkan, makna iqra selanjutnya yaitu pahamilah, tadabbur, indahnya Alquran apabila yang membacanya mengetahui makna di baliknya. Apabila seseorang mendalami Alquran maka ia seperti samudera yang tak bertepi. “Apabila kita melihat semua ciptaan Allah, tak ada yang sia-sia dan akan keluar kata alhamdulillah. Bagaimana membaca alam semesta ini, maka kita akan selalu bersyukur kepada Allah,” tuturnya.

Ia mencontohkan dengan musibah tsunami yang terjadi pada 2004, maka ada makna di balik musibah tersebut. “Semua yang Allah berikan kepada kita penuh dengan rahasia, dan penuh dengan hikmah. Hanya saja kemampuan kita yang terbatas. Bacalah maknanya, selami ia (Alquran). Orang yang menikmati Alquran, maka membacanya bukanlah sebuah kewajiban tapi kebutuhan,” tambahnya.

Lalu, makna iqra selanjutnya adalah amalkan Alquran dalam kehidupan. Sebagaimana akhlak Rasulullah, Aisyah mengatakan akhlaknya adalah Alquran, senyumnya menentramkan, bahasanya menyembuhkan hati. “Orang apabila bertemu dengan Rasulullah dari sedih menjadi senang. Rasulullah juga adalah orang yang paling dermawan, apalagi Ramadhan dermawannya luar biasa,” ujarnya.

Memotivasi diri
Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sambutannya menyampaikan Alquran adalah hudan linnas atau pedoman bagi kehidupan manusia, karena itu sudah sepantasnya kaum muslimin memperingati Nuzulul Quran sebagai sarana untuk memotivasi diri agar lebih mencintai Alquran sehingga kecintaan itu dapat mengantarkan manusia pada tingkat ketaqwaan yang terbaik di sisi Allah Swt.

“Alquran mengandung banyak hikmah, tidak hanya sejarah atau aturan hukum dan moral, tapi di dalamnya juga terdapat ilmu pengetahuan sebagai pedoman, motivasi, dan patokan dalam menata perikehidupan masyarakat muslim,” kata Nova Iriansyah.

Ia menambahkan perikehidupan yang dimaksud adalah tatanan kemasyarakatan sesuai dengan kondisi objektif setiap komunitas, dengan tetap bersendi pada prinsip-prinsip umum yang ditetapkan

Alquran. Itu pula sebabnya Allah Swt menurunkan ayat-ayat Alquran secara bertahap, dengan tujuan agar hukum Allah yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan secara evolutif sesuai kondisi sosio-kultural masyarakat. Sehingga akan tercipta suasana tenteram demi terwujudnya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.(una)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved