Mitan Langka di Simeulue

Minyak tanah (mitan) yang disubsidi oleh pemerintah di Kabupaten Simeulue hingga kini masih terus terjadi

Mitan Langka di Simeulue
WARGA mengantre berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah bersubsidi di kios pengecer Kabupaten Simeulue Timur, Rabu (6/6). 

*Antrean Panjang di Kios Pengecer

SINABANG - Minyak tanah (mitan) yang disubsidi oleh pemerintah di Kabupaten Simeulue hingga kini masih terus terjadi kelangkaan yang mengakibatkan antrean panjang di setiap kios pengecer resmi di wilayah kepulauan itu. Terbatasnya stok minyak tanah di kios pengecer, membuat penjual membatasi pembelian minyak bersubsidi tersebut. Pantauan Serambi, Rabu (6/6), setiap pangkalan penjualan resmi mitan selalu diburu warga yang didominasi oleh ibu rumah tangga. Mereka rela antre berjam-jam untuk mendapatkan mitan.

Kadis Perindagkop dan UKM Simeulue Ir Ibnu Abbas yang ditanyai Serambi mengatakan, persoalan mitan yang masih terjadi antrean di setiap kios pengecer resmi disebabkan sejumlah faktor, seperti jatah mitan untuk Simeulue yang tidak lagi cukup disuplai. Soalnya, jumlah kepala keluarga (KK) pengguna mitan terus bertambah.

Berdasarkan penjelasan Ibnu Abbas, disebutkan selama ini jatah mitan di Simeulue sebanyak 220 ton per bulan dengan jumlah pengguna sebanyak 15.714 KK. Namun saat ini, lanjutnya, jumlah KK bertambah menjadi 23.494 KK dan jatah mitan sudah ditambah sejak Mei 2018 menjadi 250 ton setiap bulan dengan rincian setiap KK mendapat 10,6 liter per bulan. Namun, penambahan kuota tersebut belum bisa menutupi kebutuhan riil. “Untuk 23.494 KK dan UKM kita butuh 428 ton setiap bulan. Itu berarti kita kekurangan 178 ton untuk jatah 14 liter per bulan,” katanya.

Untuk mengatasi kekurangan kuota mitan subsidi tersebut di Simeulue, pihaknya sudah menyurati BPB Migas supaya ada penambahan kuota per bulan di wilayah kepulauan itu. “Sesuai surat bupati Nomor 670/1460/2018 tanggal 9 April 2018, perihal tambahan kuota BBM mitan,” jelasnya.

Menurut Ibnu Abbas, persoalan masih terjadinya antrean pembelian mitan di kios pengecer di sebabkan juga oleh pendistribusian/pengangkutan dari Pertamina yang hanya mengeluarkan mitan berkisar antara 20 sampai 30 ton per hari. “Dan itu sudah ketentuan selama ini. Selain itu, juga terbatas kemampuan armada untuk mengeluarkan mitan dari pertamina,” tandas Kadis Perindagkop dan UKM Simeulue itu. Seorang ibu yang sedang mengantre beli mitan kepada Serambi mengatakan, pihaknya berharap agar pemerintah menyuplai bahan bakar tersebut dalam jumlah yang memadai. Jika berkurang, apalagi mendekati lebaran Idul Fitri, masyarakat tentu akan kelabakan. Sebagian lagi mungkin bisa menggantinya dengan kayu bakar. Namun, mendapatkan keyu tersebut juga tidak lebih mudah dari membeli minyak tanah bersubsidi. (sm)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved