Pro-kontra Tokoh NU Yahya Staquf jadi Pembicara di Israel, Disaat Pembantaian di Jalur Gaza

Keberangkatan Yahya ke Israel ditanggapi sinis oleh sejumlah pihak, terutama karena ia berstatus sebagai Katib Aam PBNU dan pejabat negara.

Pro-kontra Tokoh NU Yahya Staquf jadi Pembicara di Israel, Disaat Pembantaian di Jalur Gaza
ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A
Yahya Staquf dijadwalkan menyampaikan pidato akademis di Yerusalem, Israel, 13 Juni mendatang. 

SERAMBINEWS.COM - Tokoh agama dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akhir Mei lalu resmi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Yahya Cholil Staquf, pekan ini terbang ke Yerusalem, Israel, untuk menjadi pembicara dalam lokakarya berskala internasional.

Keberangkatan Yahya ke Israel ditanggapi sinis oleh sejumlah pihak, terutama karena ia berstatus sebagai Katib Aam PBNU dan pejabat negara.

Namun sebagian orang menilai keberangkatan Yahya sepatutnya tidak dihubungkan dengan isu diplomatik Indonesia-Israel dalam konteks kemerdekaan Palestina.

 
Ketua PBNU, Robikin Emhas, menyatakan Yahya pergi ke Israel atas nama pribadi, tanpa embel-embel organisasi Islam maupun pemerintah Indonesia.

Robikin yakin, dalam pertemuan di Yerusalem, Yahya akan menyuarakan dukungan masyarakat Indonesia dan kalangan Islam terhadap Palestina.

"Perlu semacam gagasan out of the box yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil."

"Boleh jadi, Gus Yahya Staquf memenuhi undangan itu untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan atas terwujudnya perdamaian di Palestina," kata Robikin, Minggu (10/06).

Baca: Rusjdi Ali Muhammad Khatib Shalat Id di Masjid Raya

Baca: Forum PRB Aceh Agendakan Sharing Isu PRB dengan Caleg

Adapun Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI, Mahyuddin Junaidi, menuding Yahya akan melukai perasaan komunitas Islam karena dilakukan ketika konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir menewaskan ratusan warga sipil.

"Kalau tujuannya dengan alasan ingin menciptakan perdamaian, mengubah konflik menjadi kerja sama, itu pernyataan absurd yang kadaluwarsa dan tidak tepat sasaran," ujarnya melalui sambungan telepon.

Muhyiddin berkata, hingga saat ini tidak ada negara Arab yang mampu mengubah sikap Israel soal Palestina. Upaya serupa, kata dia, mustahil dilakukan Yahya.

Halaman
123
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved