Opini

Komersialisasi Lebaran

LEBARAN memang menyisakan fenomena unik yang menarik dikaji. Perayaan hari Lebaran adalah momen

Komersialisasi Lebaran
NU Online
Maaf-maafan di hari lebaran 

Oleh Yusniar

LEBARAN memang menyisakan fenomena unik yang menarik dikaji. Perayaan hari Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan masyarakat. Lebaran tidak sekadar dimaknai sebagai ritual keagamaan, namun Lebaran juga tergambar sebagai momen yang dapat dikemas secara komersil, sehingga menjadi poin penting penggerak ekonomi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Geliat transaksi ekonomi Lebaran, dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat. Hal tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah, di mana kenaikan harga direspons dengan adanya pembayaran tunjangan hari raya yang diperkirakan mencapai Rp 35,77 triliun. Ditambah lagi, libur kerja, cuti Lebaran, serta liburan sekolah juga menambah potensi transaksi.

Catatan transaksi oleh Bank Indonesia (BI), jumlah uang yang diedarkan per Juni 2018 sebanyak Rp 745,9 triliun, naik 13,4% dibandingkan periode awal Ramadhan atau pertengahan Mei 2018 yang hanya Rp 557,5 triliun dan uang tunai yang disediakan BI musim Lebaran ini mencapai Rp 188,2 triliun naik 15,3% dibanding Lebaran 2017 Rp 173 triliun. Dengan jumlah pemudik mencapai 19,5 juta dan asumsi belanja rata rata Rp 5 juta (belum termasuk transportasi) diperkirakan sebanyak Rp 100 triliun uang yang bergerak di daerah.

Pada momen Lebaran, pertumbuhan perekonomian terjadi juga dipicu oleh pergerakan uang tunai yang besar dari kota besar ke kota kecil dan pedesaan. BI menyiapkan uang tunai Rp 170 triliun untuk menyambut Lebaran dan dipastikan sebagian besar akan dibelanjakan ke daerah, bahkan efeknya lebih besar disebabkan masyarakat sendiri yang menjadi motor penggerak perekonomian. Tanpa adanya komando pemerintah, masyarakat telah bersatu melakukan transaksi.

Hal tersebut dapat ditandai dengan adanya penyaluran zakat fitrah yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang kurang mampu serta didukung oleh infak dan sedekah, sehingga momen Lebaran dapat diartikan sebagai momen pemerataan yang langsung dapat dirasakan oleh kaum miskin.

Poin penting
Menyingkapi hal tersebut, Lebaran yang dapat dikomersilkan telah menjadi poin penting bagi pelaku bisnis. Beragam upaya dilakukan marketer atau pemasar, mulai dari memberikan diskon besar-besaran, merancang promo, menggelar sayembara, pameran sampai dengan mengusung program mudik bareng dengan memfasilitasi pelanggan dengan mobil lengkap dengan bensin dan sopirnya.

Pelanggan yang menang akan dimintai pendapatnya dan menceritakan pengalaman emosional mereka selama mudik di kampung. Beberapa produk kendaraan juga rutin menyelenggarakan mudik bareng untuk menghimpun komunitas pengendara dengan memberikan fasilitas pengawalan polisi, servis gratis, dan bahan bakar gratis.

Di samping itu, Lebaran juga menjadi ajang personal branding atau sering kita sebut pencitraan diri bagi beberapa kalangan pejabat dan anggota calon legislatif tertentu yang turut mengambil bagian untuk meyentuh hati masyarakat dengan berbagi sembako dan memasang iklan-iklan spanduk yang mudah kita jumpai di sepanjang perjalanan. Lebaran telah menjadi momen tepat dalam menggalakkan strategi political marketing untuk meraih kemenangan pada pemilu mendatang. Dari sisi psikologis, fenomena unik lain dalam berlebaran adalah kebutuhan yang tingkatannya lebih tinggi dari kebutuhan dasar, ternyata bukan hanya milik mereka yang pendapatannya tinggi, melainkan milik semua orang.

Hirarki kebutuhan yang dipaparkan oleh Abraham Maslow (1908-1970) sangat dekat kaitannya dengan pendapatan seseorang. Bila pendapatan seseorang masih rendah, kebutuhannya sebatas pada kebutuhan dasar yaitu sandang pangan dan papan. Setelah pendapatannya meningkat, maka kebutuhan lain meningkat pula, yaitu kebutuhan psikologis seperti rasa aman dan dilindungi. Setelah kebutuhan ini terpenuhi, maka kebutuhan lain menyusul, yaitu kebutuhan akan pengakuan tentang keberadaannya dalam masyarakat (self esteem) dan setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, hirarki paling tinggi adalah kebutuhan akan aktualisasi diri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved