Pasien Cedera Kepala Dominasi Rujukan di RSUZA

Pasien dengan kasus cedera kepala mendominasi rujukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA)

Pasien Cedera Kepala Dominasi Rujukan di RSUZA
AZHARUDDIN, Direktur RSUZA

BANDA ACEH - Pasien dengan kasus cedera kepala mendominasi rujukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, yakni sebanyak 39 kasus. Selama musim mudik Idul Fitri 1439 Hjjriah, terhitung sejak 12-19 Juni 2018, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu sudah mencapai 88 orang.

Hal itu disampaikan Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine FICS kepada Serambi, Rabu (20/6) di Banda Aceh. Dari 88 pasien baru itu, kata Azharuddin, sebanyak 53 pasien merupakan rujukan dari 19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan 2 Puskesmas. Sedangkan yang datang sendiri atau diantar keluarganya ke RSUZA sebanyak 35 orang.

“Paling banyak cedera di kepala sebanyak 39 kasus, 13 kasus patah tulang, 9 robek pada bagian tubuh, dan beberapa kasus lainnya,” ujar Azharuddin, dan menyebut sebagian besar akibat kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Sementara tiga RSUD yang paling banyak mengirim pasien yaitu RSUD Chik Di Tiro Pidie sebanyak 13 orang, RSUD Cut Mutia Lhokseumawe 9 orang, dan RSUD Fauziah Bireuen 4 orang.

Azharuddin mengatakan, beberapa pasien rujukan patah tulang langsung dioperasi untuk penyambungan tulang yang patah. Begitu juga yang mengalami cedera dan luka robek di bagian paha, badan, tangan, dan kepala, sudah dilakukan penjahitan sebagai upaya penyembuhan.

Menurut Azharuddin, banyaknya pasien cedera akibat laka lantas yang dirujuk ke RSUZA setiap tahun disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karena masih minimnya fasilitas dan peralatan medis untuk kasus laka lantas di RSUD. “Kedua, jumlah dokter spesialis yang bisa menangani kasus tersebut juga masih terbatas,” jelasnya.

Menanggapi tingginya kasus laka lantas di setiap musim mudik Lebaran, Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Sulaiman Abda menilai, tak adanya pelebaran badan jalan dalam 10 tahun terakhir menjadi salah satu penyebabnya. Menurutnya, pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Aceh tidak diimbangi dengan kebijakan pelebaran jalan.

Selain itu, lanjut Sulaiman, faktor kelelahan para pemudik juga menjadi pemicu terjadinya laka lantas. “Jumlah kendaraan bermotor di jalan raya sangat banyak, sementara para pemudik mengalami kelelahan dan mengantuk sehingga tidak fokus mengemudikan kendaraannya,” tukasnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved