Piala Dunia 2018

Selebrasi Shaqiri & Xhaka dan Sejarah Kelam Pembantaian Muslim Albania oleh Serbia di Kosovo

Kedua pemain tersebut secara kebetulan memang berasal dari keluarga imigran berdarah Kosovo, negara pecahan Serbia.

Via Intisari
Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri 

Hal inilah yang membuat selebrasi keduanya menjadi perhatian. Hubungan politik Albania dan Serbia dinilai menjadi dasar dari selebrasi tersebut.

Selebrasi yang bisa berujung sanksi karena FIFA sangat melarang segala jenis demonstrasi politik di dunia sepak bola, termasuk dalam bentuk selebrasi.

Konflik etnis dan agama

Konflik antara Kosovo dan Serbia memang berlangsung panjang.

Data demografi menunjukan bahwa Kosovo dihuni oleh etnis Serbia yang beragama Kristen Ortodok Timur dan etnis Albania yang mayoritas berama Islam.

Kedua komunitas ini kemudian bertikai memperebutkan tanah Kosovo, keduanya juga sama-sama mengklaim leluhurnyalah yang pertama kali menduduki Kosovo.

Baca: Peusaba Tolak Rencana Pembangunan PLTSa

Baca: Aceh Besar Siapkan Sistem Pendidikan Terpadu

Saat Serbia masih tergabung dalam Yugoslavia bersama dengan Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, dan Montenegro, Kosovo mengalami pergolakan paling besar.

Terutama setelah Kosovo Liberation Army mulai melancarkan serangan ke pemerintahan otoritas Yugoslavia di Kosovo.


Konfilk tak terelakan. 1.500 sampai 2.000 orang diperkirakan tewas.

Sekutu kemudian hadir di belakang Kosovo dan melancarkan serangan ke Yugoslavia pada 1999.

Baca: Boat Mati Mesin, Tiga Turis Asing Dievakuasi

Baca: PAN Banda Aceh akan Berikan Kopensasi bagi Caleg Gagal

Di tahun yang sama setelah serangan dimulai, militer Serbia yang masih tergabung dengan Yugoslavia melakukan serangan brutal yang oleh beberapa pihak dianggap sebagai genosida atau pembantaian terhadap etnis Albania di Kosovo.

Halaman
1234
Editor: faisal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved